Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Merasa Menyesal



Thalia menganggukkan kepalanya. "Tak apa. Aku akan menunggumu di sini." sahut Thalia.


Setelah mengatakan hal itu, Angga melangkah pergi meninggalkan Thalia sendirian. Sudah hampir lima menit berlalu, tapi Angga belum nampak kembali, merasa bosan ia akhirnya membuka ponselnya dan berniat untuk menghubungi Angga agar ia bisa menyusulnya.


Baru saja ia ingin menekan tombol telepon pada nomor Angga, tapi tiba - tiba dia mendengar seseorang tengah membicarakannya. Dari sudut matanya, ia mencoba melirik ke arah sumber suara itu.


Terlihat saat ini, Delisa tengah duduk berdampingan dengan kedua teman wanitanya. Salah satu temannya saat ini, tengah melirik ke arah Thalia yang nampak tengah duduk seorang diri.


"Dia siapa?" tanya seorang teman wanita Delisa yang duduk berada di sebelah kanan Delisa, menunjuk ke arah Thalia yang tengah duduk seorang diri.


Terlihat Delisa yang menengok ke arah Thalia sebentar. "Ah, maksudmu wanita itu, dia kekasih barunya Angga." jawabnya Delisa, sambil tangannya menunjuk ke arah Thalia juga.


"Apa? Bukannya Angga itu sama Lia ya? Bukankah mereka dulu serasi banget, kemana - mana selalu berdua." ujar teman wanita Delisa yang duduk berada di sebelah kiri Delisa.


Delisa menghela nafasnya sejenak. "Ya, mau gimana lagi? Angga itu lebih memilih kelereng dari pada berlian.Kita bisa apa?" ujar Delisa sambil tertawa kecil.


Perasaan Thalia cukup terluka saat mendengar ucapan dari Delisa. Ia merasa harga dirinya tengah di rendahkan oleh wanita itu. Tapi mau bagaimana lagi, Thalia juga tidak berani menegurnya. Bagaimana pun ia harus menjaga sikap agar tidak mempermalukan Angga dalam acara reuni ini.


"Aku setuju dengan ucapanmu. Bagaimana mungkin bisa seorang Lia yang sempurna, bisa di kalahkan oleh upik abu seperti dia. Ah, apa mungkin dia menawarkan tubuhnya kepada Angga ya. Lihat saja, perutnya yang sudah buncit seperti itu." terlihat teman wanita sebelah kanan Delisa tampak melirik kembali ke arah Thalia terkhusus pada perut Thalia.


"Itu jauh lebih masuk akal. Lagi pula Angga masihlah seorang laki - laki yang normal. Tentu saja Angga membutuhkan seseorang untuk melepaskan heatnya." mendengar ucapan dari teman sebelah kiri Delisa. Mereka langsung tertawa.


Sedangkan Thalia kini hanya bisa menundukkan kepalanya berharap Angga cepat datang. Ia benar - benar tidak kuat jika terus menerus harus mendengarkan setiap hinaan dari ketiga wanita yang duduk tidak jauh dari sampingnya itu.


Merasa tak tahan lagi, Thalia pun akhirnya memilih untuk bangkit dari kursinya dan melangkah untuk mencari Angga. Thalia pun sempat kebingungan harus pergi ke arah mana karena aula pesta itu terlalu luas, dan juga ada banyak orang di dalamnya.


Namun, baru saja Thalia ingin melangkah lurus tiba - tiba saja ia merasakan seseorang tengah menepuk bahunya.Dan Thalia pun berharap jika itu adalah Angga, namun dugaannya salah. Karena pelaku yang menepuk bahunya tadi adalah Malik, sahabatnya Angga.


"Thalia, apa kau sedang mencari Angga?" tanya Malik.


"Iya, aku sedang mencarinya. Apa Kak Malik melihat dimana Angga?" tanya balik Thalia.


Malik kemudian menunjuk ke suatu arah dengan telunjuknya. "Angga sedang ada di stand minuman saat bersamaku tadi. Tapi beberapa rekan dari divisinya dulu tiba - tiba mengajaknya untuk mengobrol. Datangi saja dia, aku yakin dia pasti akan sangat senang melihat kehadiranmu. Ya sudah, aku pergi dulu ya." ucap Malik memberitahu keberadaan Angga.


Thalia hanya menatap kepergian Malik seraya mengucapkan terima kasih kepada laki - laki itu.


Kemudian Thalia pun bergegas menuju ke arah yang telah Malik beritahu tadi. Meskipun ia sempat kesusahan berjalan mengingat banyaknya orang yang datang dan berdiri menghalangi jalan. Hingga akhirnya Thalia pun bisa sampai ke stand minuman yang Malik maksud.


Namun, saat sampai di stand minuman Thalia tidak menemukan kehadiran Angga. la lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Angga.


Jantung Thalia berdenyut nyeri. Karena tak jauh dari stand minuman, ia tengah melihat Angga berdiri mengobrol dengan beberapa orang, dan Lia adalah salah satu diantara orang-orang itu. Terlihat lengan perempuan cantik itu melingkar di lengan Angga yang seharusnya menjadi tempatnya.


Penampilan Lia malam ini juga terlihat sangat cantik. Lia menggunakan dress panjang berwarna merah dan dengan belahan dress yang mencapai setengah pahanya dan semakin membuat dirinya memancarkan aura dewasanya.


"Bukankah itu Angga dan Lia? Wah, mereka terlihat serasi sekali ya. Angga yang tampan di satukan dengan Lia yang cantik. Benar - benar couple goals sekali."


"Ya, kau benar. Angga yang tinggi dan atletis di satukan dengan Lia yang memiliki tubuh yang seksi seperti gitar spanyol. Benar - benar pasangan yang sempurna."


Terlihat beberapa orang di sekitar Thalia yang tengah membicarakan bagaimana sempurnanya pasangan Angga dan Lia itu, yang membuat Thalia seketika insecure. Jika di bandingkan dengan Lia, Thalia memang bukanlah apa-apa.


Apa yang di katakan oleh orang-orang itu memang benar. Karena Lia memiliki tubuh tinggi dan seksi, dan entah mengapa terlihat begitu serasi saat berada di sampingnya Angga. Tidak seperti Thalia yang memiliki tinggi rata-rata, yang nampak seperti anak kecil saat bersebelahan dengan Angga.


Dan dengan perlahan, Thalia pun memilih untuk mundur menjauh dari Angga dan teman - temannya. Air mata terlihat mengalir menuruni pipi Thalia.


Entah mengapa, Thalia menjadi menyesal saat menerima ajakan dari Angga untuk menemaninya datang ke acara reuni ini.


"Terima kasih atas rasa sakit ini," gumam Thalia yang melangkah pergi meninggalkan gedung aula bersama rasa sakit yang tertinggal di hatinya.


***


Dengan langkah yang terlihat gontai, Thalia tiba di sebuah kursi yang berada di taman hotel. Terlihat taman itu terlihat begitu sepi dan indah berhiaskan cahaya lampu yang tampak indah di malam hari. Namun sayang, Thalia tidak bisa menikmati indahnya suasana taman hotel itu.


Karena sedari tadi, dia hanya duduk diam seraya melamun di kursi taman itu. Thalia bahkan tidak peduli dengan gerimis kecil yang mulai berjatuhan yang memberikan sensasi dingin di kulitnya. Dan yang Thalia pikirkan saat ini adalah dirinya ingin segera pulang.


Sudah setengah jam berlalu sejak kedatangannya di taman hotel itu. Namun, belum terlihat juga akan tanda - tanda kehadiran dari Angga yang mencarinya. Ya, sepertinya Angga tengah sibuk berbincang-bincang dengan teman - temannya dan berakhir melupakan eksistensi Thalia.


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....