Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Ke Toko Perhiasan



"Tuan muda." Sapa Bik Jeje. Saat melihat Keenan masuk kedalam rumah.


"Dimana Thalia, Bik." tanya Keenan dingin dengan raut wajah yang datar.


"Nona Thalia sedang berada di kolam renang, Tuan muda." jawab Bik Jeje.


Keenan mengangguk singkat. Kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah kolam renang. Dan sesaat, Keenan terdiam ketika sampai di kolam renang, mendapati Thalia sedang duduk di tepi kolam renang dan melamun. Ya, adik tirinya itu tampaknya sedang memikirkan banyak hal di benaknya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" suara Keenan menegur Thalia, sontak membuat Thalia mengalihkan pandangannya, menatap ke arah Kakaknya.


"Kak Keenan? Kenapa Kakak sudah pulang?" Thalia menatap ke arah Keenan yang kini sedang melangkah mendekat ke arahnya.


"Ya, bangunlah. Kau tidak lupa kan, jika semalam aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat." ucap Keenan mengingatkan Thalia kembali.


"Memangnya kak Keenan ingin mengajakku kemana?" tanya Thalia dengan suara yang pelan.


"Kau akan tahu nanti." Keenan mengulurkan tangannya ke arah Thalia. "Bangunlah.." titahnya dengan nada yang tidak ingin di bantah.


Thalia menurut, dia menerima uluran tangan dari Keenan. Kemudian bangkit berdiri. Namun, di saat tepat Thalia baru saja berdiri. Tubuhnya tidak seimbang dan hampir saja membuat dirinya itu hampir saja terjatuh dan dengan sigap, Keenan langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Thalia, merapatkan tubuh adik tirinya itu ke tubuhnya.


Jantung Thalia berdegup dengan kencang saat tubuhnya dekat dengan Kakak tirinya. Karena Kakak tirinya itu memilki tubuh yang tinggi dan tegap, serta dada yang kekar bagaikan besi. Bahkan kening Thalia sedikit sakit, saat bertubrukan dengan dada bidang Keenan.


"Lihat sekelilingmu! Berdiri saja kau tidak bisa! Ah, aku tau, itu pasti salah satu caramu untuk menggodaku bukan?" ucap Keenan sambil tersenyum senang.


"Maaf Kak Keenan. Tadi kakiku tidak sengaja terpleset." Thalia menjawab dengan nada pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Angkat wajahmu, Thalia. Aku ingin kau meminta maaf dengan menatap mataku." perintah Keenan tegas.


Thalia terdiam sejenak mendengarkan perintah dari Kakak tirinya itu. Dan di detik selanjutnya Thalia mengangkat wajahnya, menatap iris mata coklat Kakak tirinya itu. Sesaat Thalia menatap sepasang mata tajam pria yang ada di hadapannya. Ya, sebuah tatapan yang tajam bagaikan mata elang. Namun, tatapan itu mampu menyihir setiap wanita yang melihatnya.


"Maafkan aku, tadi kakiku terpleset,Kak. Dan aku sungguh tidak bermaksud untuk menggodamu." Thalia kembali mengucapkan kata maaf. Namun bedanya, kali ini dia menatap ke arah kakaknya.


Keenan menghembuskan nafas panjang. Dia terdiam sejenak menatap iris mata coklat Thalia. Sepasang mata yang lembut, bagaikan seekor kucing yang lemah.


"Bersiaplah. Dan ganti pakaianmu. Aku akan membawamu ke suatu tempat." ucap Keenan penuh dengan semangat.


"Tapi, apa kak Keenan sudah ijin ke Papa. Kalau Kakak mau mengajakku keluar."


"Aku tidak perlu ijin darinya. Lebih baik kau siap - siap untuk berganti baju. Atau, kau ingin melanjutkan kegiatan panas kita semalam, hm?"


"Tidak. Aku segera ganti baju, Kak." tolak Thalia cepat. Kemudian dia langsung berlari masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Tatapan Keenan tidak lepas menatap punggung Thalia yang mulai menghilang dari pandangannya.


***


Mobil Keenan melaju dengan kecepatan sedang. Sedangkan Thalia yang duduk di samping Keenan hanya diam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sebenarnya Thalia ingin kembali bertanya, kemana Kakak tirinya itu akan membawanya, namun Thalia tidak terlalu berani banyak bertanya. Hingga mau tidak mau, Thalia hanya memilih diam dan menuruti permintaan Kakaknya itu.


Kening Thalia berkerut saat mobil Keenan memasuki sebuah toko perhiasan. Thalia hendak membuka mulutnya untuk bertanya, tapi tatapan tajam Keenan yang mengisyaratkan nya untuk turun dari mobil bersamaan dengan Kakaknya itu.


"Selamat siang, Tuan Keenan." seorang pelayan menyapanya dengan sopan sambil menundukkan kepalanya pada Keenan dan juga Thalia.


"Apa pesananku sudah selesai?" tanya Keenan dengan raut wajah datarnya.


"Sudah, Tuan. Mari saya tunjukkan." jawab pelayan itu dengan ramah.


"Tuan Keenan, ini adalah cincin berlian yang sudah Tuan Keenan pesan." ucap pelayan itu sambil menunjukkan cincin berlian itu ke arah Keenan. Seketika tatapan Thalia menatap kagum, cincin dengan kilauan berlian yang sangat indah.


"Cobalah, sayang." ucap Keenan tersenyum ke arah Thalia.


"Hm?" Thalia terkejut saat Keenan meminta mencoba cincin itu.


Namun, melihat adik tirinya itu hanya diam saja. Keenan pun menghela nafas panjang. Dan, tanpa berkata apa-apa lagi, Keenan langsung menarik jemari tangan Thalia dan langsung memakaikan cincin berlian itu ke jari manis Thalia. Wajah Thalia langsung berubah menjadi bingung, saat Keenan memakaikan cincin di jari manisnya.


"Kak Ken-"


"Aku ambil ini." Keenan langsung mengeluarkan dompet dari balik jasnya, lalu menyerahkan black card-nya pada pelayan itu untuk menyelesaikan pembayaran.


Setelah selesai dengan pembayaran. Keenan langsung menggenggam tangan Thalia meninggalkan toko perhiasan itu menuju kembali ke mobilnya yang terparkir.


Kini mobil Keenan meninggalkan halaman parkiran perhiasan toko itu. Thalia yang sudah sejak tadi memilki berbagai pertanyaan di benaknya, terpaksa untuk memilih terdiam sejenak saat kakaknya itu memaksanya untuk masuk kedalam mobil.


"Kak Keenan?" panggil Thalia pelan, sambil menatap ke arah Kakaknya yang sedang fokus melajukan mobilnya.


"Ada apa, sayang." jawab Keenan yang tampak terlihat begitu senang. Namun tatapannya terus menatap kedepan.


"Aku ingin bertanya padamu, Kak?"


"Katakan."


"Sebenarnya cincin ini untuk siapa? Kenapa kau langsung memakaikannya di jariku?"


Pertanyaan bodoh dari adik tirinya sontak saja membuat Keenan langsung menghentikan laju mobilnya. Pria itu, menepikan mobilnya di pinggir jalan dan menatap Thalia dingin.


"Menurutmu untuk siapa cincin itu?" bukannya menjawab Keenan malah membalikkan pertanyaan itu ke Thalia.


"Aku tidak tahu, Kak. Makanya aku itu bertanya?" Thalia mengigit bibir bawahnya.


Keenan berdecak kesal. "Kenapa kau ini bodoh sekali. Jelas - jelas cincin itu ada di jarimu. Jika aku membelikannya untuk orang lain maka aku tidak akan pernah memakaikan cincin itu di jarimu."


"Tapi kenapa kamu memberikan aku, cincin?" Thalia kembali bertanya dengan polos.


*****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.