Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Kemarahan Keenan



"Karena Kak Keenan itu sudah sangat kurang ajar!" Bentak Thalia kepada Keenan.


Keenan langsung menepikan mobilnya dan langsung mematikan mesin mobilnya. Saat Thalia membentak dirinya.


"Coba ulangi lagi? Kamu tadi bilang apa, hah?!" Seru Keenan dengan meraih dagu Thalia dan mencengkram rahangnya dengan begitu kuat.


Tahlia hanya diam dan kini matanya mulai berkaca-kaca. Ya, rasanya dia ingin sekali menangis.


"Bahkan tak seorang pun yang berani membentak ku dan sekarang apa yang sudah kamu lakukan tadi?" geram Keenan dengan melepaskan cengkraman tangannya pada rahang Thalia.


Dan Tahlia pun langsung menangis sambil terisak-isak. Ya, dia sama sekali tidak menyangka bahwa Kakak tirinya itu bisa terlihat sangat kasar.


"Kenapa malah nangis? Bisa diam tidak!" Bentak Keenan lagi membuat Thalia semakin ketakutan.


"Thalia minta maaf, Kak." ucapnya yang masih menangis sambil wajahnya tidak berani menatap ke arah Keenan.


Keenan menghembuskan nafas kasar. Ya, sebenarnya dia juga merasa bersalah saat melihat sosok wanita yang dia cintai kini menangis ketakutan karenanya tadi.


"Makanya, kamu itu harus nurut sama Kakak. Kalau kamu patuh kan, Kakak gak bakalan marah. Ingat ya, kamu itu jangan pernah berani membantah perintah Kakak biar Kakak itu gak emosi. Andaikan kamu itu bisa selalu nurut sama perintah Kakak, Kakak jamin apapun yang kamu inginkan akan Kakak turuti." tutur Keenan sambil menarik tubuh Thalia dan di peluknya.


Tahlia pun menangis di pelukan Keenan.Dan Tahlia pun bisa merasakan detak jantung Keenan yang berdetak dengan begitu kencang.


"Ya sudah, kita harus berangkat sekarang.Bisa - bisa kamu terlambat datang ke sekolahnya." tutur Keenan melepaskan pelukannya dan mengusap lembut air mata Thalia.


"Kak Keenan-"


"Ssst. Jangan ngomong. Kalau kamu berani ngomong walaupun hanya satu huruf aja. Kakak bakalan kasih hukuman ke kamu yaitu berupa ciuman panas persatu huruf berdurasi per sepuluh menit lamanya." Ucap Keenan memberikan ancaman kepada Tahlia.


Sedangkan Thalia yang mendengar ucapan dari Keenan langsung terdiam. Ya, dia takut jika nantinya akan mendapatkan hukuman yang tadi sudah di ucapkan oleh Kakak tirinya itu.


"Nah, kalau kamu nurut kayak gini kan Kakak juga tidak bisa marah." puji Keenan sambil mengacak puncak kepala Thalia dan setelah itu merapikan kembali baju seragam Thalia yang terlihat begitu berantakan.


Sebenarnya, Tahlia ingin sekali mengadukan semuanya kepada kedua orang tuanya. Namun, nyatanya tidak ada yang perduli karena Keenan begitu pandai membolak-balikkan fakta dan jatuhnya Thalia yang selalu salah.


***


Setelah sampai di depan pintu gerbang sekolah, Thalia pun langsung bergegas untuk segera keluar dari dalam mobil Keenan.


Namun, saat Thalia hendak membuka pintu mobil, Keenan langsung menarik tangan Thalia.


"Ingat Tahlia, saat kamu sudah masuk ke gerbang sekolah.Kamu itu harus langsung masuk kedalam kelas, dan nggak usah ngobrol atau menyapa temen - temen kamu. Apalagi itu teman cowok Kakak tidak akan pernah mengizinkan mereka untuk mendekati kamu. Apakah kamu mengerti?" tanya Keenan sambil mengelus dengan lembut rambut Thalia.


Tahlia pun langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat. Ya, kali ini dia tidak akan membantah ataupun mengucapkan sepatah katapun kepada Kakaknya. Dan Thalia pun langsung keluar dari dalam mobil Kakaknya.


Dan setibanya Thalia di depan kelas dia langsung di sambut oleh para sahabatnya yang selalu membuat Thalia bersemangat karena para sahabatnya itu selalu memiliki cara untuk membuat Tahlia tertawa untuk melupakan sejenak tentang masalahnya.


"Hallo, My Princess gue yang paling cantik. Eh, tunggu sebentar deh. Tapi wajah kamu kok keliatan habis nangis? Memangnya siapa yang udah berani bikin My Princess ku nangis sampai mata kamu sembab begitu, hm?" tanya Nino yang kini mulai heboh saat melihat kondisi Thalia yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Apa yang di katakan Nino itu bener banget loh, Thalia? Apa lo itu habis di marahin sama orang tua lo ya? Kok mata kamu bisa keliatan sembab begitu sih?" tanya Siska yang kini menatap lekat wajah Tahlia.


"Gue itu habis nangis bukan karena bokap dan nyokap gue kok. Itu karena Kakak tiri gue yang sekarang udah balik kesini."


"Maksudmu itu Kak Keenan? Jadi, dia itu sudah pulang dari negara E, ya. Tapi kenapa Kak Keenan marahin lo sampai wajah kamu menjadi sembab begitu? Emangnya lo itu udah bikin masalah apa ke kak Keenan, Lia?"


Mendengar rentetan pertanyaan dari Siska. Thalia hanya bisa menggeleng lemah dan tidak mungkin juga dirinya menceritakan apa yang sudah di alami bersama Kakak tirinya itu.


"Mending gak usah bahas dia lagi deh, Sis? Gue itu lagi males kalau harus membahas tentang Kakak gue itu." tolak Thalia karena dia tidak ingin menceritakan tentang keposessifan dan perlakuan kasar dari Kakak tirinya itu.


Pada akhirnya Siska dan Nino tidak lagi membahas tentang masalah yang terjadi pada Thalia. Mereka juga tidak ingin memaksa Thalia jika sahabatnya itu tidak ingin menceritakan tentang masalahnya.


"Ya udah. Kalau gitu, bagaimana kalau sepulang sekolah nanti kita itu pergi ke cafe? Kalian berdua mau kan?" ucap Nino.


Thalia dan Siska pun langsung menganggukkan kepalanya. Untuk memberikan jawaban setuju jika mereka akan ikut pergi ke cafe.


***


"Thalia, ayo pulang!"


Teriak seorang pria di sebuah cafe.Kemudian, Thalia pun menoleh ke asal suara dan mendapati Kakak tirinya itu yang tampak sangat marah.


"Kak Keenan? Ngapain Kakak ada di sini?" tanya Thalia bingung.


"Ayo pulang, Thalia!"


Sedangkan kedua sahabat Thalia yang berada di Cafe itu tampak menciut, setelah mendapati Kakak tirinya Thalia datang ke cafe dan langsung marah - marah kepada Thalia. Ya, baik Nino dan Siska tidak berani untuk melerai pertengkaran yang terjadi di antara Thalia dan Keenan.


Dan tanpa menanti jawaban dari Thalia. Keenan langsung menarik tangan Thalia dengan paksa hingga membuat Thalia merintih kesakitan. Apalagi pertengkaran yang terjadi di antara Thalia dan Keenan membuat mereka berdua menjadi bahan tontonan banyak orang yang sedang berkunjung di cafe itu.


*****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.