Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Kesedihan Vina Dan Kemarahan Abella



Tak terasa sudah satu bulan lebih sejak kepergian Thalia dari rumahnya secara tiba-tiba membuat keadaan suasana rumah yang ada di keluarganya Thalia kini berubah menjadi sunyi dan sepi seperti tidak ada penghuni. Aura hangat yang dulu menyelimuti keluarga Thalia kini berubah menjadi aura yang dingin dan suram.


Apalagi kondisi Vina, ibunya Thalia yang masih terasa sangat terpukul dengan kepergian putrinya secara tiba-tiba. Hingga membuatnya lebih sering banyak melamun dengan air mata yang bahkan tidak ada habisnya untuk terus keluar dari kedua matanya. Senyuman manisnya pun kini telah luntur semenjak putri kesayangannya itu sangat tega meninggalkan dirinya dan tidak pernah sekalipun memberikan kabar kepadanya. Tatapan hangat yang terpancar dulu, kini berubah menjadi tatapan yang kosong yang selalu menyelimuti mata bengkaknya. Bahkan suaminya sendiri ia tak pernah mengurusi lagi.


Sedangkan Papa Tristan juga sangat menyesal karena saat itu merahasiakan perbuatan bejat Putranya kepada istrinya. Sungguh miris, jika dia mengingat kembali ke egoisanya pada saat itu.


"Thalia sayang, pulanglah, Nak. Maafkan Papa." gumam Tristan saat melihat aura kesedihan dari istrinya yang selalu berada di balkon kamarnya sambil menatap ke arah jalanan dengan harapan agar ia bisa melihat kembali putrinya yang akan melambaikan tangannya kepadanya. Namun, semua itu hanyalah khayalan yang selalu Vina bayangkan saja karena pada kenyataannya Thalia tidak pernah sekalipun kembali kerumahnya.


Sebenarnya Vina dan Tristan juga sudah mencoba untuk terus mencari keberadaan Thalia. Namun, hasilnya tetap saja nihil.Thalia hilang bak di telan bumi. Tak ada jejak - jejaknya sedikitpun.


Air mata pun kembali menetes membasahi pipi Vina. "Thalia,sayang? Kamu dimana, Nak? Maafkan Bunda, sayang? Pulang ya sayang? Bunda sangat merindukanmu? Bunda juga sangat ingin memelukmu, Thalia. Pulanglah, Thalia dan maafkan semua kesalahan Bunda padamu" ucap Vina dengan suara lirihnya.


Tristan pun mulai melangkah mendekat ke arah istrinya dan mengelus punggung istrinya untuk menenangkannya.


"Bunda, ini sudah malam. Angin malam tak baik untuk kesehatanmu. Dan kata Bik Jeje kamu juga belum makan. Ayo kita masuk dan makan malam bersama. Aku tidak ingin melihat kamu sakit nanti." ajak Tristan dengan nada suara yang penuh dengan kelembutan pada istrinya terlihat masih merasakan kesedihan dan rasa bersalahnya kepada putrinya.


***


Suasana makan malam di villa milik Angga terasa sangat hening. Ruang makan yang biasanya di isi oleh tawa obrolan hangat Angga dengan Thalia. Kini terasa begitu dingin dan mencengkam.


Selama kegiatan makan berlangsung, Thalia senantiasa menundukkan kepalanya, tanpa berani mengangkat wajahnya sedikitpun. Ya, karena ia masih terlalu takut untuk menatap Ibunya Angga, yang sedari tadi menatapnya tajam.


"Nona makanlah sayuran bayam ini, ini sangat bagus untuk kehamilan, Nona Thalia." ujar Bik Nila sambil menyendok kan makanan ke arah piring Thalia.


"Terima kasih," lirih Thalia yang untungnya masih bisa di dengar oleh Bik Nila.


"Biarkan dia mengambilnya sendiri, Bik. Kamu jangan membiasakan dia untuk di manja seperti itu lagi, yang ada nanti malah ngelunjak dia!" Tegas Ibunya Angga kemudian melanjutkan lagi makannya.


Setelah mendengar ucapan dari Ibunya Angga, sebenarnya Thalia sudah merasa tak nyaman berada di meja makan ini. Dan nafsu makannya pun juga benar - benar mulai menghilang. Padahal menu makanan yang di masak oleh Bik Nila adalah menu kesukaannya. Tapi entah kenapa untuk memakannya kali ini terasa sangat sulit.


"Sudahlah, Ma. Tolong, jangan ganggu Thalia terus. Biarkan dia itu makan dengan tenang. Karena ia perlu banyak nutrisi mengingat Thalia sedang hamil bayi kembar saat ini." ucap Angga yang berusaha membela Thalia.


Tring..


Ibunya Angga langsung membanting sendok dan garpu ke arah piring makannya. Dan terlihat, kini Ibunya Angga langsung menatap ke arah Thalia saat ini.


Mendengar teriakkan yang cukup tinggi dari Ibunya Angga, tubuh Thalia langsung bergetar dengan hebat saat ini. Karena Ibunya Angga benar - benar sangat membuatnya takut. Ya, Thalia sendiri sudah lama sekali tidak pernah merasakan di bentak seperti itu lagi, hingga membuat tubuhnya tiba - tiba saja bereaksi layaknya orang yang tengah trauma.


"Ma! Aku mohon, berhenti untuk selalu menyalahkan, Thalia. Dia tidak salah apa - apa di sini?" sahut Angga yang mulai menaikkan nada bicaranya.


"Lihatlah, anakku yang dulunya sangat penurut saja, kini sudah berubah menjadi seorang pembangkang. Padahal, aku ini adalah Ibunya. Dan tentu saja aku hanya ingin yang terbaik untuk anak - anakku. Apa aku salah? Tapi, apa yang kudapatkan saat ini? Bentak kan dari anak kesayanganku sendiri. Terima kasih, karena kau sudah berhasil membuat anakku itu melawan setiap ucapanku." ujar Ibunya Angga yang langsung beranjak pergi dari ruang makan.


Thalia pun langsung mengeraskan suara tangisannya setelah melihat kepergian dari Ibunya Angga dari ruang makan. Ya, Thalia pun merasa bersalah atas peristiwa yang terjadi. Bagaimana pun juga, ia sama sekali tidak ingin menghancurkan hubungan ibu dan anaknya itu.


"Hiks, maafkan aku. Aku mohon, maafkan aku, Hiks..." ucap Thalia dengan suara isakan tangisan yang terdengar sangat jelas.


Angga kemudian langsung menangkup wajah Thalia yang masih menundukkan kepalanya. Angga mengangkat wajah Thalia, hingga pandangan mereka saling bertemu. Dan terlihat, kedua mata Thalia sudah berubah menjadi merah dan sembab. Air mata juga kini mengalir dengan deras di kedua pipinya.


Cup... Cup...


Angga mengecup pelan kedua kelopak mata Thalia. Ia pun terus menatap wajah Thalia dengan tatapan yang penuh kasih sayang.


"Sayang, dengarkan aku. Kau itu tidak perlu meminta maaf atas apa yang telah terjadi. Karena semua ini bukanlah kesalahanmu. Mungkin Mamaku hanya sedang lelah saja, makanya dia bersikap sarkas kepadamu. Tenangkan dirimu, semuanya akan baik-baik saja. Jadi percayalah padaku, sayang." ucap Angga yang berusaha menenangkan Thalia.


Dan dengan perlahan, Angga pun langsung mengangkat tubuh Thalia dan menundukkan ya tepat di pangkuannya. Angga kemudian langsung meraih kepala Thalia, dan langsung merebahkan di bahu miliknya. Dengan lembut Angga pun mengusap dengan lembut rambut Thalia, hingga membuat sang pemilik rambut itu tertidur akibat kelelahan.


"Selamat malam, sayang. Mimpi indah ya," gumam Angga di telinga Thalia.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....