
Mobil yang di tumpangi oleh mereka telah berhenti sepenuhnya di halaman villa. Salah pintu langsung terbuka, dan menampilkan Thalia yang turun dengan tergesa-gesa dan melangkahkan kakinya dengan cepat memasuki Villa dan meninggalkan Angga yang sedang di landa kebingungan.
"Nona Thalia, sudah pulang? Selamat datang." ucap Bik Nila yang menyambut kedatangan Thalia sembari menyapu lantai.
Thalia yang pada dasarnya sedang jengkel, hanya berlalu melewati Bik Nila tanpa memandang atau membalas sambutan untuknya. Dengan langkah kaki yang sengaja di hentakan - hentakkan dengan keras dan Thalia langsung masuk kedalam kamarnya dengan membanting pintu kamarnya dengan keras.
Kriieeett
Pintu depan kembali di buka dari arah luar, menampilkan sosok Angga yang tengah menggendong tas punggung yang berisi pakaian kotor mereka. Angga lantas memberikan tas yang berisi pakaian kotor itu kepada Bik Nila yang sepertinya juga tengah menantikannya.
"Thalia ada dimana, Bik?" tanya Angga yang mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Thalia.
"Nona Thalia sudah masuk ke kamar, tapi sepertinya Nona Thalia sedang dalam mood yang buruk. Tadi saja, Nona Thalia membanting pintu kamarnya dengan keras, Tuan. Memangnya Nona Thalia kenapa sedang marah, Tuan?" tanya Bik Nila yang bingung sekaligus penasaran.
Angga terkekeh saat mendengar penjelasan dari Bik Nila. Ia lalu menundukkan badannya dan berbisik ke telinga Bik Nila.
"Dia hanya sedang cemburu saja, Bik." bisik Angga yang di sambut tawa geli Bik Nila.
"Astaga, Bibi kira Nona Thalia kenapa? Ternyata lagi cemburu ya dia. Ya sudah Tuan muda, kalau begitu Bibi ke belakang dulu." ujar Bik Nila yang meninggalkan Angga.
"Baiklah, saatnya sekarang aku tenangkan bayi besar ku dulu." ucap Angga seraya menatap pintu kamarnya yang dapat dia lihat dari lantai satu.
***
Tok... Tok... Tok...
Thalia yang tengah meringkuk di atas ranjang, hanya melirik sekilas ke arah pintu yang di ketuk dari luar. Tanpa membukanya, ia juga tahu pasti yang mengetuk pintunya adalah Angga. Memang siapa lagi. Pikir Thalia.
"Sayang, buka pintunya." ucap seseorang dari luar.
Nah kan benar, yang mengetuk pasti Angga. Tapi Thalia memilih untuk diam, tanpa memiliki niat untuk membukakan pintu untuk Angga. Ia malah semakin menenggelamkan dirinya dalam balutan selimut hangat.
.
"Aku minta maaf, sayang. Aku tahu aku salah. Aku mohon maafkan aku," ucap Angga mencoba untuk membujuk Thalia.
"Pergilah! Aku sedang tidak mood untuk bertemu denganmu!" Teriak Thalia agar Angga dapat mendengar suaranya.
Nampaknya Angga tidak menghiraukan teriakan dari Thalia. Dan suara pintu kembali di ketuk dari arah luar. Dan selama hampir lima menit pintu kamarnya terus di ketuk. Thalia yang sudah merasa jengah pun langsung menutup telinga dengan kedua tangannya.
Dan tak berapa lama kemudian, suara ketukan pintu itu tiba-tiba berhenti. Thalia pun tersenyum lega, seraya melepaskan tangannya dari telinga. Ia pun bersiap untuk tidur kembali sampai ia mendengar suara pintu kamarnya yang tiba - tiba terbuka.
Ceklek.
Thalia membulatkan bola matanya dan menatap ke arah pintu. Terlihat Angga tengah berdiri di tengah - tengah pintu seraya menatapnya dengan raut wajah yang menunjukkan kemenangan.
"Bagaimana kau bisa membuka pintu itu?" tanya Thalia yang menunjukkan raut wajah yang tidak senang.
Thalia pun ikut mendudukkan dirinya seraya bersandar pada kepala ranjang. Ia pun menatap ke arah mata Angga yang tengah menatapnya dengan sedikit tajam. Entah mengapa rasa takut mulai menggerogoti Thalia. Ia takut jika Angga marah atas tindakan kekanak- kanakan nya itu.
Dan dapat Thalia lihat, tangan Angga mulai terangkat dan terhenti saat telapak tangan itu sejajar dengan wajahnya. Dan tangan Angga mulai bergerak ke arah Thalia, yang membuatnya secara otomatis menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya.
Puk.. Puk... Puk.
"Ehh.." ucap Thalia yang terkejut saat merasakan telapak tangan Angga mengelus puncak kepalanya dengan sangat lembut.
Thalia pun menatap ke arah wajah Angga dengan ekspresi wajahnya yang tak percaya. Ya, karena Thalia pikir jika Angga akan memukulnya saat ini.
"Ku pikir dia akan menamparku." ucap Thalia di dalam hati.
Angga masih menepuk kepala Thalia dengan penuh kasih sayang. Bagi Angga, Thalia nampak sangat menggemaskan saat tengah cemburu seperti tadi. Angga kemudian menangkup wajah Thalia dan mengecup pelan dahi wanita itu.
"Kenapa kau tidak memukulku?" Tanya Thalia yang penasaran.
"Untuk apa? Mana tega aku memukulmu. Melihat kau kemarin sakit saja, entah mengapa aku juga ikut merasakannya." gumam Angga yang masih mengusap pipi Thalia dengan ibu jarinya.
Selama beberapa menit berlalu, tidak ada percakapan di antara mereka. Mereka hanya menatap satu sama lain, tanpa ada satupun yang berniat membuka pembicaraan.Thalia masih dengan pikiran kacaunya, dan Angga masih dengan perasaan bersalahnya.
"Aku itu masih tidak suka saat melihatmu bersama perempuan lain selain diriku. Entah mengapa rasanya begitu sangat sesak. Kalau kau mau mengganggap ku aneh, aku pun tak masalah. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku saja." tutur Thalia dengan tatapan sendunya yang entah mengapa berhasil menggetarkan hati Angga.
Dengan perlahan, Angga membawa tubuh Thalia ke dalam dekapannya dan sesekali ia mengecup Thalia sembari mengucapkan kata - kata maaf pada Thalia. Selain itu Angga juga merasa menyesal dan bahagia di saat yang bersamaan.
Ia menyesal karena telah membuat orang yang ia sayangi sampai merasakan sakit hati. Namun, di sisi lain ia juga bahagia, mengetahui Thalia yang cemburu saat ia berdekatan dengan wanita lain. Bukankah itu tandanya, jika Thalia sudah mulai benar - benar mencintainya?
Angga pun merasa semua perjuangannya selama ini akhirnya terbalas dengan mendapatkan pengakuan cinta dari Thalia. Selama ini, ia berpikir jika hanya dirinyalah yang memiliki perasaan cinta dalam hubungan ini. Namun, tak di sangka, jika Thalia akhirnya membalas perasaan cintanya juga.
"Aku sangat mencintaimu, Thalia. Jadi, kau jangan khawatir. Karena aku sepenuhnya akan menjadi milikmu." ucap Angga yang semakin mendekap Tahlia dengan erat.
"Aku juga mencintaimu, Angga." lirih Thalia yang masih di dengar oleh Angga.
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....