
"Jika kau hanya ingin membicarakan omong kosong, aku lebih baik pergi saja." ucap Thalia yang memilih untuk bangkit dan melangkah pergi meninggalkan Layla. Namun, dengan cepat lengannya di cengkram dan di tarik dengan cepat oleh Layla yang membuatnya kembali terduduk di kursi taman.
"Aku mengenal dan mencintainya lebih dulu darimu!" Geram Layla yang menatap ke arah Thalia tajam.
"Apa peduliku! Jika kau memang menginginkan Angga untuk menjadi milikmu katakan saja langsung padanya. Kita lihat, siapa yang akan di pilih oleh Angga secara langsung. Aku atau dirimu!" Teriak Thalia dengan emosinya yang menggebu-gebu.
Thalia pun benar - benar tidak habis pikir dengan wanita yang ada di sebelahnya kirinya ini. Apa kepalanya itu sedang terbentur sesuatu hingga sampai mengatakan hal yang bodoh seperti tadi. Ingin sekali rasanya Thalia menjambak rambut wanita yang ada di sebelahnya ini, hanya saja ia masih berpikir jernih untuk menjaga kehormatan Angga.
"Hei Nona! Aku itu memintanya dengan baik - baik. Tapi kenapa kau menjawabnya dengan berteriak seperti itu. Apa kau ingin jika kita itu menjadi pusat perhatian di sini?" Layla sedikit meringis pelan seraya memijat dahinya.
"Apa? Baik - baik? Meminta kekasih orang lain itu kau bilang baik - baik? Kau ingin ku pukul, dengan tangan yang mana, pilih cepat!" Teriak Thalia yang sepertinya telah memancing atensi orang - orang sekitar.
Ya, stok kesabaran Thalia sudah habis saat ini. Bayangkan saja, dia tengah hamil muda di tambah lagi banyak kejadian yang sangat menyebalkan yang terjadi belakangan ini dan itu salah satu hal yang membuat moodnya mudah hancur akhir - akhir ini.
Thalia pun mulai memandang ke sekitarnya, terlihat beberapa orang tengah menatap ke arah mereka. Baru saja ia hendak melangkah meninggalkan Layla, tapi ia melihat Angga yang sedang berlari dengan cepat ke arah mereka.
"Sayang, tadi aku mendapatkan laporan dari salah satu perawat. Mereka melihatmu tengah bertengkar dengan seorang wanita. Sebenarnya apa yang sedang terjadi, sayang?" tanya Angga yang sedang menstabilkan nafasnya.
"Tak perlu yang ada di khawatirkan, Angga. Aku hanya berkunjung untuk meminta maaf saja soal kita yang di klinik beberapa Minggu yang lalu. Aku lihat pacarmu marah waktu itu, jadi aku berniat untuk meminta maaf dan mencoba untuk meluruskan kesalahpahaman ini, tapi sepertinya mood swing sedang menimpa kekasihmu itu. Kau tahu, dia juga sempat marah - marah sebentar tadi, tapi kau tenang saja. Aku tidak masalah kok." jelas Layla dengan raut wajahnya yang di buat sedih, saat ada di hadapannya Angga.
Thalia menatap ke arah Layla dengan raut wajah yang tak percaya. Bagaimana mungkin perempuan itu bisa memfitnah dirinya seperti itu. Sepertinya Layla benar - benar mencoba untuk memberikan kesan bahwa Thalia adalah wanita yang buruk di hadapan Angga.
"Drama apalagi ini, Tuhan." ucap Thalia di dalam hati yang mencoba untuk mengendalikan emosinya.
Ingin rasanya Thalia langsung menghantam wajah Layla dengan tangannya. Namun, bagaimana pun juga ia tetap harus mengontrol emosinya itu. Salah - salah nanti dia malah yang akan di penjara atas tuduhan menganiaya wanita yang bermuka dua itu.
"Sayang, bukankah sudah aku bilang. Jika aku itu tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan Layla kami berdua hanya rekan kerja saja, sayang. Lagi pula aku hanya mencintaimu, tidak ada yang lain. Apa kau masih meragukan perasaan tulus ku?" nampak raut wajah kekecewaan hadir di wajah tampannya Angga.
Thalia merasa sangat bersalah saat ini. Karena tak pernah sekalipun jika Thalia meragukan perasaan Angga untuknya. Ia pun tahu dan sadar betul, jika pria yang ada di hadapannya ini benar - benar memberikan hatinya dengan tulus untuk Thalia.
"A- aku itu tidak pernah meragukan perasaanmu. Lagi pula aku juga tidak bertingkah seperti yang Layla katakan. Jujur, aku memang marah padanya tadi, tapi bukan karena kejadian beberapa Minggu yang lalu, Angga." Thalia menatap Angga dalam, seakan memaksa Angga untuk percaya kepada-nya.
Suara tawa terdengar setelah Angga pergi dan melangkah menjauh. Tanpa menoleh pun Thalia langsung tahu, siapa pelaku di balik tawa yang sepertinya tengah mengejeknya itu. Dan Thalia hanya bisa meremas rok dress-nya hingga membuatnya tampak kusut.
"Bagaimana rasanya mengecewakan orang yang kamu sayangi? Lihatlah baik - baik, Angga yang sangat mencintaimu sebesar itu, baru ku fitnah sedikit saja, kepercayaannya padamu mulai runtuh. Sadarlah Nona, jika Angga itu tidak mencintaimu sebesar yang kau pikirkan!" Ucap Layla seraya melangkah pergi meninggalkan Thalia yang masih berdiri di tempatnya.
"Aku lelah..." lirih Thalia dengan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.
***
Sejak kejadian yang terjadi siang tadi, Angga terkesan sedang mendiamkan Thalia. Memang pada dasarnya Angga ini adalah sosok yang tidak banyak bicara, tapi kini dia jadi lebih pendiam dari sebelumnya. Dan tentu saja hal ini cukup menganggu perasaan Thalia.
Suasana mobil yang biasanya hangat, entah mengapa berubah menjadi dingin. Selama perjalanan pulang,Angga hanya fokus pada notebook nya saja. Ia bahkan tidak melirik ke arah Thalia yang sedang duduk di sampingnya. Sedangkan Thalia pun hanya bisa diam tanpa berani untuk membuka suaranya. Ya, Thalia takut jika nantinya ia bicara, Angga akan tetap mengabaikannya.
Mobil yang mereka naiki pun telah berhenti di halaman villa. Angga terlihat tengah bersiap - siap untuk membuka pintu mobil, sebelum sebuah tangan menarik ujung bagian belakangnya. Angga pun menoleh ke belakang, dan mendapati Thalia yang menarik bajunya dengan kepala yang tertunduk.
"Maaf telah mengecewakanmu." Tangan Thalia terasa begitu dingin saat menunggu balasan dari Angga. Jujur saja, Thalia lebih suka saat Angga yang langsung meluapkan perasaannya dari pada harus mendiamkan dirinya seperti ini. Hal ini tentu saja membuat Thalia semakin merasa bersalah.
Tangan Angga terlihat bergerak menuju ke arah tangan Thalia. Ia memegang jari Thalia sejenak, dan langsung mendorong jari Thalia itu agar terlepas dari bajunya. Hal itu, membuat Thalia langsung menatap ke arah Angga dengan pandangan yang tak percaya.
****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....