
Setelah menghabiskan air minumnya. Thalia pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan makan itu untuk menuju ke arah kamarnya. Dan langsung mengubur tubuhnya di bawah kungkungan selimut tebal yang terasa hangat.
Tak lama kemudian, air mata keluar dari kedua manik matanya. Sesekali suara isakan tangisan keluar dari mulutnya, hingga Thalia lebih memilih untuk menggigit telapak tangannya, agar suaran isakan tangisannya itu tidak kembali keluar.
Sementara itu, Angga sedang berusaha untuk melepaskan lilitan tangan dari Celine di lengan kanannya. Setelah selesai acara makan malam tadi sebenar dia berencana untuk menyusul Thalia di kamar. Namun, tiba - tiba Celine meraih tangannya dan memeluknya dengan erat.
"Lepaskan tanganmu Celine!" Bentak Angga sambil menghentakkan lengannya ke arah tepian meja.
Lengan Celine yang terkena benturan meja, langsung terlepas dari tangan Angga dan tanpa membuang banyak waktu, Angga langsung berlari menuju ke arah kamarnya sebelum wanita gila itu ikut mengejarnya.
Ceklek.
Suara pintu kamar Thalia pun terbuka dan menampilkan sosok Angga yang mulai masuk kedalam kamarnya.
"Sayang..." panggil Angga sesaat saat masuk kedalam kamarnya. Ia pun tidak melihat eksistensi dari Thalia, sebelum akhirnya melihat Thalia yang berbaring membelakanginya di atas ranjang.
Dan dengan langkah yang pelan Angga menghampiri Thalia. Angga kemudian menyingkirkan sedikit selimut yang menutupi sebagian wajahnya Thalia. Dan dapat Angga lihat, Thalia tengah tertidur dengan nyenyak dengan kedua kelopak matanya yang membengkak.
Dengan hati - hati, Angga langsung menghapus sisa air mata yang masih tersisa di lipatan mata Thalia.
"Maafkan aku yang sudah banyak membuatmu bersedih akhir - akhir ini, sayang. Aku berjanji akan segera menyelesaikan ini, jadi aku mohon berbahagialah. Aku mencintaimu, sayang." ucap Angga yang kemudian mengecup dahi Thalia dan bersiap untuk tidur di belakang Thalia sambil memeluknya dengan erat.
"Selamat tidur, sayang. Have a nice dream."
***
Angga melangkah beriringan dengan Thalia menuju kliniknya. Hari ini dia memilih untuk mengajak Thalia untuk ikut bersamanya. Ya, Angga merasa, jika dia meninggalkan Thalia sendirian di villa bersama Mamanya dan Celine malah akan berakibat buruk.
Sedangkan Thalia yang tiba - tiba di ajak Angga untuk mengunjungi klinik miliknya tentu saja Thalia sangat bahagia.Sudah lama sekali Thalia juga tidak pergi ke klinik miliknya Angga. Karena Angga selalu melarang dirinya untuk ikut dengan alasan jika Angga tidak akan bisa fokus untuk bekerja jika ada Thalia di dekatnya.
Begitu mereka memasuki lobby, Angga pun langsung di sambut oleh seorang asisten perawat yang bertugas untuk menyusul jadwal konsultasi pasien Angga. Nampak perawat yang ber name tag Layla itu, tampak mengerutkan dahinya saat melihat Thalia yang berada dekat dengan Angga.
Ya, mengingat bahwa Angga selama ini selalu menghindari perempuan yang selama ini mempunyai niat untuk melakukan kontak fisik dengannya? Namun apa yang dia lihat ini? Tiba - tiba saja dokter tampan dan dingin itu datang ke klinik bersama dengan seorang gadis cantik dan dengan santainya dokter tampan itu bergandengan tangan dengan gadis cantik itu.
"Eh, kupikir dokter Angga itu belok." ucap Layla di dalam hati yang mulai memahami situasinya saat ini.
Layla kemudian memandang lebih intens ke arah Thalia, dari mulai ujung kaki hingga ke ujung kepala. Namun, pandangan Layla berhenti ke arah perut Thalia. Pasalnya, Layla sangat terkejut saat melihat perut Thalia, ya walaupun memang masih terlihat kecil tapi sebagai seseorang yang mengabdikan dirinya di bidang kesehatan, tentu saja Layla tahu, jika perempuan cantik yang di bawa oleh dokter Angga itu tengah hamil.
"Dokter Angga, udah nikah kok gak ngundang - ngundang sih? Saya pikir dokter Angga itu belok loh? Soalnya saya, sudah hampir tiga tahun kerja bareng dengan dokter, nggak pernah sekalipun tuh saya lihat kalau dokter Angga jalan sama cewe. Dan sekarang malah aku yang terkejut, tau - taunya dokter Angga kesini bawa Istrinya yang sedang hamil." protes Layla.
Angga menatap ke arah Layla dan hanya terkekeh pelan untuk menanggapinya. Sedangkan Thalia hanya menatap Layla dengan tatapan antara bingung, kaget dan tidak percaya. Lagi pula, bagaimana mungkin seorang Angga yang tampan, mapan dan rupawan ini jomblo sebelum bertemu dengan Thalia. Dan juga jika Angga terbukti jomblo, lalu darimana dia belajar memperlakukan Thalia dengan begitu manisnya.
"14 bulan," cicit Thalia yang masih dapat di dengar oleh Layla.
"Wah, pantas saja sudah sebesar itu." sahut Layla dengan antusias.
Mereka kemudian melakukan sesi bincang-bincang nya hampir sepuluh menit, hingga Angga memutuskan untuk mengajak Thalia ke arah ruang kerjanya. Angga meminta Thalia untuk menunggu di ruangannya. Sedangkan Angga akan mengurus pasiennya di ruang prakteknya.
Sudah hampir setengah jam sejak Angga pergi, dan Thalia mulai merasakan bosan. Ia pun berniat untuk bangkit dan pergi berjalan - jalan sebentar, hingga...
Ceklek.
Thalia yang mendengar suara pintu di buka langsung mengalihkan perhatiannya. Thalia sempat berpikir jika itu adalah Angga, namun dugaannya ternyata salah besar. Terlihat seorang wanita yang Thalia kenal sebagai Layla yang kini sudah nampak berdiri di depan pintu ruang istirahat milik Angga.
Sedangkan Thalia menatap ke arah wanita dengan ekspresi wajah yang terlihat kebingungan, tapi berbeda dengan Layla yang menatap ke arah Thalia dengan raut wajah datarnya.
"Bisa kita bicara sebentar.." ujar wanita itu seraya mengarahkan ibu jarinya ke arah luar.
***
Sudah hampir sepuluh menit mereka berdua duduk dengan tenang di taman Klinik milik Angga. Namun, selama itu pula, tak ada satupun di antara mereka berdua yang ingin memulai pembicaraan. Dan Thalia yang sudah mulai jengah pun, hendak membangkitkan dirinya, sebelum Layla mengatakan sesuatu hal yang membuat Thalia ingin sekali menampar wajahnya.
"Bisakah kau berikan Angga untukku?" tanya Layla yang menatap ke arah Thalia dengan serius.
Sedangkan Thalia hanya terkekeh mendengar permintaan atau mungkin paksaan yang Layla berikan. Dan ia pun tidak habis pikir, bagaimana mungkin ia meminta seorang perempuan untuk memberikan kekasihnya untuk wanita lain. Dan hanya orang bodoh yang mau melakukan itu.
"Jika kau hanya ingin membicarakan omong kosong, aku lebih baik pergi saja." ucap Thalia yang memilih untuk bangkit dan melangkah pergi meninggalkan Thalia. Namun, dengan cepat lengannya di cengkram dan di tarik dengan cepat oleh Layla yang membuatnya kembali terduduk di kursi taman.
****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....