
Keenan saat ini sangat marah dan tidak ada gurat kelembutan yang kini terlihat darinya. Dan ya, Thalia tidak berani melakukan apapun saat ini bahkan mobil itu berjalan dengan kecepatan yang tinggi.
"Kak Keenan, apa yang sedang kau lakukan?" lirih Thalia bertanya pada Keenan.
"Tidak hanya dengan Axel Dirgantara ternyata kau juga mulai merayu Angga Pratama juga?! Dasar gadis penggoda." Pekik Keenan menggeram.
Sedangkan Thalia diam seribu bahasa, ia menundukkan kepalanya. Kemudian dia memberanikan diri menatap ke arah Kakaknya " Aku juga bukan gadis penggoda!" ucapnya kesal. "Kau juga bukan laki - laki yang baik kan,Kak Keenan." lanjutnya
Keenan terkekeh dengan remeh. "Sayang sekali, tapi laki - laki yang tidak baik ini akan menjadi suamimu, Thalia. Lihat saja, aku akan membuatmu tunduk di hadapanku."
"A- apa maksudmu, Kak?" Thalia kini mencengkram lengan Keenan.
Laki - laki itu menoleh sekilas padanya, "Layani aku sebelum nantinya kau menikah dengan orang lain. Dan aku pastikan kau akan hamil anakku, Thalia."
Thalia menjerit memaki Keenan saat laki - laki itu membopongnya dan langsung membawanya masuk kedalam Apartemen megahnya. Dan ya, Apartemen yang sangat sepi itu sangat di dominasi teriakan dari Thalia.
Dan lagi - lagi Thalia memekik saat Keenan mulai menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Ia mengurung pergerakan Thalia dengan menatapnya marah.
"Kenapa kau selalu menolak cintaku dan lebih memilih laki - laki lain, hm? Iya, sayang?" tanya Keenan mengusap surainya dan kian mendekatkan wajahnya.
"Kak Keenan jangan begini. Aku mohon, aku takut padamu." tangis Thalia pecah dan kedua tangannya menahan dada bidang Keenan saat ini.
"Diam dan nikmati apa susahnya, hem?" Keenan meraih tangan Thalia dan menggenggamnya. "Kemana cincin berlian yang aku berikan padamu, Thalia?" ucap Keenan yang mulai menyadari jika cincin berlian yang di berikan kepada Thalia tidak terpakai di jari manis adiknya.
Thalia mati kutu, ia mengingat cincin berlian itu ia masih di letakkan di atas meja kamarnya beberapa hari yang lalu saat Ibunya datang ke kamarnya.
"Aku...aku sudah menyimpannya. Karena Bunda sudah mengetahuinya dan-"
"Lebih baik, Bundamu itu tahu tentang cincin berlian itu, dari pada dia tahu kalau putri kebanggaannya sudah tidak lagi perawan."
PLAAKK
Tamparan keras itu mendarat di pipi Keenan. Dan Keenan tertawa sumbang seraya bangkit dari posisinya saat ini dan ia melepaskan jas dan pakaian kemejanya yang menempel pada tubuhnya sebelum melemparkannya asal.
"Tampar aku sepuas mu, dan maki aku sampai kau muak, tapi aku sudah sangat candu padamu. Aku tidak ingin melakukannya sekali padamu, Thalia." ucap Keenan sambil mengusap air mata Thalia. "Dengar, sampai kau benar - benar jatuh cinta padaku. Dan mau mengakui kalau kau adalah milikku, Thalia."
"Tidak. Tidak akan. Dan Sampai kapanpun tidak akan!" Pekik Thalia menggeleng - gelengkan kepalanya.
Dan Keenan menatapnya dengan pandangan yang lemah. Memang Thalia tidak ada apa - apanya di hadapannya saat ini.
"Lepaskan aku, Kak Keenan! Jangan macam - macam Kak Keenan aku mohon." lirihnya memejamkan matanya.
Dan ya, Thalia merasakan ada yang menjalar di hatinya saat usapan lembut tangan Keenan pada pucuk kepalanya hingga Thalia menatapnya dan hanya tersisa isakan tangis sebelum ia tidak sadar dan memekik saat bibir tipis Kakak tirinya itu dengan sopannya ******* bibirnya dan tidak berhenti ia melakukannya.
"Jangan pikirkan apapun. Kupastikan hukuman mu malam ini akan membuatmu bahagia,sayang." ucap Keenan setelah ciuman di bibirnya terlepas dan menyeringai ke arahnya.
Dosa besar entah sudah ke berapa kalinya Thalia lakukan saat ini. Tubuhnya melemah, tiap laki - laki itu ada bersamanya. Satu persatu seragam pakaian Thalia kini terbuang di lantai dan tidak ada suara lain dalam ruangan itu selain suara mereka berdua dan rasa kebencian Thalia pada Keenan yang kian bertambah. Dan yang di rasakan Thalia saat hanyalah.
Takut.
Sakit.
Sampai kapan Thalia harus menanggungnya?
Namun Kakak tirinya itu selalu memaksanya. Dan membiarkan Thalia dan menangis kesakitan.
Suara gema tangisannya sama sekali tidak meluluhkan hatinya yang sekeras batu.
Keenan hanya melampiaskan setiap kebutuhannya. Membiarkan tubuh di bawahnya terkoyak. Kedua tangan kecil Thalia memukuli punggungnya, mencakari nya, berharap Kakaknya itu mau melepaskannya.
Satu kali saja.
Namun, pada akhirnya Thalia pun mengerti. Perlawanannya itu tidak berguna. Rontaannya kian melemah dan tubuhnya bergoyang seiring hentakkan yang di lakukan Kakak tirinya pada inti tubuhnya. Napasnya tersengal-sengal, air terus mengalir melewati sudut matanya.
Thalia bertanya - tanya, berapakah lama lagi?
Bisakah ini di selesaikan dengan cepat!
Namun, Kakak tirinya mengabaikannya. Ia terus bergerak di atas tubuhnya seraya menggeram beberapa kali. Dan ya, Keenan pun tidak menyangka jika akan selalu sehebat ini rasanya.
Malam ini, Keenan kembali terjerat dalam kenikmatan bersama gadis yang selalu di cintainya dan gadis itu adalah adik tirinya sendiri.
***
Dingin, yang pertama kali Thalia rasakan saat ini. Ia menggeleng - gelengkan kepalanya resah dengan kedua matanya yang masih terpejam sebelum usapan lembut dan kecupan manis mendarat di pucuk kepala Thalia.
Thalia memiringkan badannya dan memeluk seseorang di sampingnya tanpa sadar. Justru seseorang itu malah sangat merasa kesenangan saat ini.
Keenan pun tersenyum tipis dan mendekap hangat tubuh Thalia yang sama sekali tidak berbalut apapun, hanya selimut tebal.
"Thank you, honey. I love you. I love you more." bisik Keenan dengan lirih dan memeluk hangat Thalia saat ini.
Laki - laki itu menatap wajah Thalia dan mengusap pipinya. Keenan pun juga bingung dengan dirinya yang hanya selalu berselera pada satu gadis, bahkan ia tidak tertarik lagi pada gadis lain di luaran sana. Namun mirisnya, adik tirinya selalu menolak dirinya meskipun sudah dua kali dia menjamah tubuh adiknya itu.
Kini kedua mata Thalia perlahan terbuka, wajah Keenan yang menyebalkan itu menjadi pemandangan pertamanya yang ia lihat. Sesak luar biasa dada Thalia saat ini, bahkan ia masih sempat mengecup bibirnya sebelum Thalia menarik selimut dan bangkit secepatnya.
"Sakit...!" Pekiknya tertahan dengan kedua matanya yang tertutup. Dan ya, kedua kaki Thalia seraya tidak bisa berjalan saat ini.
"Istirahatlah dulu,sayang. Aku akan mengantarmu pulang nanti," ujar Keenan yang kini dengan mudahnya berjalan ke arah kamar mandi.
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.