
Waktu telah menunjukkan pukul lima sore. Dan sudah hampir satu jam Thalia asyik menata dan menyirami tanaman di dalam Villa milik Angga. Terlihat beberapa kali ia mengangkat pot berisi bunga - bunga yang akan di letakkan ke rak tanaman yang baru.
"Nona, jika sudah selesai pergilah mandi. Bibi sudah menyiapkan cemilan sore untuk Nona Thalia." ujar Bik Nila yang sedang menyapu halaman rumah.
"Iya, Bik. Hanya perlu beberapa pot lagi yang perlu aku pin-. Awwwh.."pekik Thalia sakit.
Terlihat jari kaki Thalia yang mengeluarkan setetes darah akibat tertusuk duri bunga mawar yang ia pindahkan. Dan Bik Nila yang khawatir langsung menghampiri Thalia untuk mengecek keadaannya.
"Ah, syukurlah hanya luka kecil. Sebentar Nona, saya ambilkan obat merah dulu." ucap Bik Nila, berlari meninggalkan Thalia.
"Bik Nila, tidak usah." teriak Thalia yang di abaikan oleh Bik Nila.
Thalia menghela nafas pasrah, saat melihat kepanikan dari Bik Nila. Padahal, luka di kakinya hanya luka kecil saja, tapi kenapa Bik Nila bisa sepanik itu. Kemudian Thalia melangkah menuju ke arah keran air, untuk mencuci lukanya dari darah yang mulai mengering.
Ciit.
Terdengar suara decitan rem mobil, yang berhenti di depan gerbang Villa. Thalia yang penasaran pun mengalihkan perhatiannya ke arah gerbang dan ia berharap jika mobil yang berhenti adalah mobil milik Angga. Tapi harapannya langsung pupus, saat melihat mobil yang berhenti bukanlah mobil milik Angga.
Terlihat sang supir berlari keluar, dan membukakan pintu belakang mobilnya. Sebuah sepatu hitam keluar dan di ikuti dengan tubuh seorang pria dewasa yang menggunakan tuxedo yang berwarna hitam.
Pria itu mengalihkan perhatiannya ke arah Thalia yang tengah juga menatapnya penasaran. Lalu, Thalia pun langsung membuka gerbang dan melangkah mendekat ke arah pria itu yang masih berdiri diam di tempat.
"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Apakah kau pembantu baru di villa ini?" tanya pria itu begitu melihat penampilan Thalia yang sedikit berantakan dan kotor karena terkena tanah.
"Ehh..." gumam Thalia yang bingung dengan pertanyaan pria yang ada di hadapannya ini.
Merasa tidak mendapatkan respon dari wanita itu, pria dewasa itu hendak melayangkan pertanyaan kembali sebelum sebuah teriakan dari arah samping menghentikannya.
"Astaga, Tuan muda Logan. Sejak kapan anda sudah pulang? Seharusnya Tuan muda memberikan kabar terlebih dahulu jika ingin berkunjung ke villa." pekik Bik Nila dengan kotak obat yang berada di tangannya.
"Aku baru baru pulang kemarin, Bik. Saat hendak pergi ke Apartemen milik adikku, pelayan di rumah mengabari jika Angga tinggal di villanya dengan membawamu, Bibi. Maka dari itu, aku buru - buru datang untuk menemuinya." tutur Logan dengan senyumannya yang mengembang di wajahnya.
"Oh, iya. Bisa tolong panggilkan Angga! Karena ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan adikku." sambungnya.
***
"Oh, jadi kau yang bernama Thalia Ivanka. Maaf, tadi aku sempat menganggap mu sebagai pembantu di villa ini." ujar Logan dengan cangkir teh yang berada di tangannya.
Ya, mereka saat ini tengah mengobrol di ruang keluarga di villa milik Angga. Dan Bik Nila juga sudah langsung menjelaskan bahwa Thalia bukanlah pembantu di villa ini, melainkan dia adalah kekasih dari Angga.
"Ahh, tidak apa-apa, Tuan. Wajar saja jika anda menganggap saya begitu. Mengingat betapa kacaunya penampilan saya saat ini." balas Thalia dengan tersenyum manis.
"Tidak usah terlalu formal padaku, santai saja." sahut Logan.
Terdengar suara pintu yang di buka dengan kasar, di ikuti oleh suara langkah kaki yang tengah tergesa - gesa. Dan tidak berapa lama kemudian, sosok Angga muncul dari balik tembok, menuju ke arah kekasih dan juga Kakaknya yang kini tengah mengobrol.
Angga lalu melangkah mendekat ke arah Thalia, dan mendudukkan dirinya di sebelah kanan Thalia. Ia mengecup dahi Thalia sejenak, dan membawanya kedalam dekapannya.
"Aku pikir kau kenapa - napa, sayang. Aku tadi begitu panik melihat mobil asing yang terparkir di depan Villa ku. Dan tak taunya yang datang si tembok berjalan itu." cibir Angga seraya melirik Logan dari ujung matanya.
"Kurang ajar sekali kau ini. Minta di hajar ya? Lagi pula mana mungkin kau tidak mengenali mobil Kakakmu sendiri, Hah?!" Dengus sebal Logan.
Dan Angga yang tidak terima pun langsung melepaskan pelukannya pada Thalia, dan menghadapkan tubuhnya ke arah wajah pria itu. Ia tidak terima dengan penuturan dari Logan pun langsung menunjuk pria itu dengan raut wajah kesalnya.
"Bagaimana mungkin aku bisa mengigat kendaraanmu, Kak. Jika setiap seminggu sekali kau pasti akan selalu menggantinya dengan yang baru." geram Anggap pada Kakaknya itu.
Sedangkan Thalia yang bingung dengan situasi yang terjadi, hanya bisa diam saja saat melihat interaksi Kakak dan adik yang ada di hadapannya saat ini sedang berdebat. Ya, karena mereka berdua terlihat sama - sama keras kepala, mustahil jika ingin menghentikan perdebatan mereka.
"Sudah. Kita hentikan saja perdebatan kita sampai di sini. Lagi pula ada sesuatu yang penting yang harus aku katakan padamu. Maaf Thalia, bisakah kau meninggalkan kami hanya untuk sebentar saja? Karena ada hal penting yang ingin aku diskusikan dengan kekasihmu ini." ujar Logan seraya menatap sepasang kekasih yang ada di hadapannya.
"Thalia, kau mandilah lebih dulu. Lalu aku akan meminta Bik Nila untuk memanggilmu nanti, saat makan malam." ujar Angga.
Thalia yang mulai paham akan situasinya pun mulai beranjak dari sofa menuju arah kamarnya. Ia paham, jika kedua adik kakak itu membutuhkan privasi agar dapat mengobrol dengan lebih banyak.
Begitu Thalia pergi, Angga langsung menanyakan kembali maksud dari kedatangan Logan ke villanya. Karena tidak biasanya, Kakaknya itu datang langsung menemui dirinya, karena biasanya Logan lah yang akan meminta Angga untuk datang menemuinya.
"Tanpa harus ku jelaskan, sepertinya kau pun sudah tahu kemana arah pembicaraanku ini akan tertuju." ucap Logan dengan nada suara yang begitu tenang.
"Jadi, apa yang manusia gila itu perbuat lagi?" tanya Angga memandang ke arah Logan dengan serius.
Logan menghela nafasnya sejenak, sebelum melanjutkan kembali perkataannya. "Pergilah dari negara ini bersama dengan Thalia. Karena aku tidak yakin bisa menahan Keenan lebih lama lagi. Aku juga akan meminta kepada Ayah untuk mengirimkan pasukan khususnya untuk melindungi mu di sana." tutur Logan.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....