
Keenan menghembuskan nafas kasar seraya melirik ke arah jam arlojinya sudah hampir satu jam Thalia masih tak kunjung kembali kedalam kamarnya. Dia ingin ingin sekali menyusul Thalia. Namun, jika dia melakukan itu dia akan memperkeruh suasana. Karena Thalia masih marah padanya dan masih tak mau bicara padanya.
Keenan memejamkan matanya sesaat, berusaha meredakan kekesalan di dalam dirinya. Ingin rasanya Keenan bersikap egois dan menarik paksa Thalia agar patuh padanya. Akan tetapi, jika dia bersikap egois, itu hanya akan membuat Thalia semakin membenci dirinya. Ya, sifat Thalia sebenarnya sangat wajar. Terlebih dengan semua yang telah di lakukannya tentu saja meninggalkan kekecewaan yang begitu mendalam di hati adik tirinya itu.
Sedangkan Thalia kini sedang berada di kamar tamu. Ya, Thalia lebih memilih untuk mengunci dirinya di kamar tamu.Dia masih belum berani untuk mengadukan perbuatan Kakak tirinya itu kepada kedua orang tuanya.
"Aku membencimu Kak Keenan. Aku membencimu saat kau selalu melecehkan ku berulang kali." Isak Thalia. Hatinya sesak dan sakit. Dan kini Thalia sedang duduk meringkuk di ranjang dan memeluk tubuhnya. Air mata membasahi pipinya. Saat mengingat kembali perbuatan Kakak tirinya itu kepadanya. Ya, Kakak tirinya itu memang sangat egois dan dia selalu sesuka hatinya mengancam dan melecehkan dirinya.
***
Suasana di pagi hari tidak seperti biasanya. Di ruangan makan terasa sangat sunyi, walaupun mereka semua tengah berkumpul namun tak ada sepatah katapun yang terucap di antara mereka hingga membuat Tristan bingung dan bertanya-tanya.
"Ada masalah di sini?" tanya Tristan sebelum memulai sarapan paginya.
"Tidak ada, Pa." jawab Vina, istrinya. Sedangkan Keenan fokus menikmati sarapan paginya.
"Lalu dimana Thalia? Kenapa dia gak ikut sarapan?" tanyanya lagi.
Dan tidak lama kemudian Thalia pun datang keruang makan untuk berpamitan dengan Ayah dan Ibunya.
"Papa, Bunda. Thalia berangkat dulu ya." pamit Thalia kepada orang tuanya.
"Sarapan dulu. Kalau kamu gak mau sarapan mendingan gak usah berangkat sekalian." ucap Tristan, Ayah tirinya.
Sedangkan Thalia yang mendapatkan tatapan datar dari Ayah tirinya akhirnya mulai mengalah dan dia pun langsung duduk untuk ikut sarapan
"Iya, Pa." ucap Thalia yang kini sudah duduk untuk sarapan.
Beberapa saat kemudian Keenan pun pamit setelah menyelesaikan sarapannya untuk mempersiapkan diri pergi ke kantor. Dan tak lama setelah kepergian Keenan, Bik Jeje pun datang ke ruangan makan dan berjalan menghampiri Tristan.
"Permisi, Tuan. Ada temannya Nona Thalia, katanya dia mau jemput Nona Thalia buat berangkat bareng ke sekolah."
"Siapa namanya, Bik?"
"Dia bilang tadi namanya Axel." jawab Bik Jeje sontak saja membuat Thalia semakin terkejut.
"Jadi, teman Thalia yang datang kesini itu cowok." tanya Ayahnya lagi.
"Iya Tuan besar."
"Ah, itu pasti pacarnya Thalia ya." goda Ibunya.
Dan Thalia pun langsung menggelengkan kepalanya. "Bukan. Dia cuma teman Thalia aja, Bund."
"Teman apa teman nih?" Goda Vina terus - terusan pada putrinya itu. "Kalau hanya teman, masa pipi kamu sampai merah begitu?"
"Udahlah, sayang mengaku saja sama Bunda."
"Ih, Bunda. Axel itu beneran hanya teman Thalia."
"Iya, iya. Bunda percaya kok sama putri Bunda yang cantik ini. Bunda masih tidak percaya ternyata putri Bunda ini sudah tidak jomblo lagi."
"Apaan sih, Bund."
"Ya sudah, kamu habiskan sarapan kamu dulu. Biar Papa yang temuin teman kamu itu?"
"Tapi Papa gak bakalan marah - marah kan. Pas nanti ketemu sama Axel."
"Untuk apa Papa marah. Papa hanya ingin menyapa teman kamu sebentar."
"Iya Pah."
Kemudian Thalia melanjutkan sarapannya lagi. Beruntung Kakaknya Keenan sedang berada di kamarnya untuk bersiap pergi ke kantor, jika dia mendengar kedatangan Axel kerumah untuk menjemputnya sudah di pastikan dia pasti akan meluapkan kemarahannya.
"Pasti, Om. Saya akan memastikan jika Thalia akan baik - baik saja saat bersama dengan saya." jawab Axel tegas.
Terlihat sekali senyuman bahagia dari Ayah tirinya itu saat mendengar jawaban dari Axel.
"Ya sudah, Pa. Thalia berangkat ke sekolah dulu ya." pamit Thalia yang kini mulai memasang wajah gelisah nya.
"Kamu kenapa, Thalia? Kok wajah kamu jadi gelisah begitu?" tanya Tristan heran, saat memperhatikan wajah Thalia yang sepertinya sedang gelisah akan sesuatu.
Sedangkan Axel yang paham betul ekspresi kegelisahan di wajah Thalia, juga langsung berpamitan.
"Iya, Om. Kita berangkat duluan ya."
"Ya, kalian hati - hati di jalan. Dan kamu Axel jangan ngebut - ngebut bawa motornya."
"Pasti, Om." ucap Axel, kemudian Axel dan Thalia berjalan keluar dari rumah menuju ke halaman depan.
"Kamu di sini dulu ya. Aku mau ambil motorku."
"Iya,"
Tidak butuh waktu lama. motor Axel sudah berada di depan Thalia. Namun saat Thalia hendak membonceng motor Thalia. Seseorang menggenggam tangan Thalia dengan cukup kuat.
"Tunggu!"
"Ayo Thalia cepetan bonceng di motor aku." pinta Axel.
Namun Thalia langsung menggelengkan kepalanya yang memberikan tanda jika dia tidak bisa melakukan itu. Melihat hal itu, Axel tidak bisa diam saja. Dia kemudian turun dari motor dan menghampiri ke arah Thalia dan juga Keenan yang kini sedang memegang tangan Thalia cukup kuat.
"Ayo Thalia, kita berangkat bersama sekarang." ucap Axel yang tak mau kalah, dia pun langsung menarik tangan Thalia, hingga membuat genggaman tangan Keenan terlepas.
"Kalau kamu masih berani membawa pergi Thalia. Setelah ini aku pastikan kamu akan menyesal." peringat Keenan yang sudah berada di dekat mereka.
"Sayangnya aku sudah mendapatkan izin dari Ayahnya Thalia. Jadi, mulai sekarang Thalia akan menjadi tanggung jawabku."
"Anak ingusan seperti kamu masih belum mampu untuk menjaga Thalia. Jadi, lebih baik kamu itu mundur teratur sebelum kamu benar-benar menyesalinya. Ini peringatan terakhir dariku."
"Sayangnya aku tidak peduli." ucapnya menyembunyikan Thalia di balik punggungnya.
"Sial. Jangan buat aku marah!" Keenan tidak bisa lagi membendung emosinya. Laki - laki itu meraih seragam Axel serta memojokkan tubuh Axel di badan mobil milik Keenan.
Selanjutnya Keenan pun langsung mengamuk dan menghajar habis Axel. Tanpa ada perlawanan karena Keenan sudah mengunci pergerakan dari Axel.
"Kak Keenan! Udah!" Teriak Thalia, mencoba untuk menghentikan kegilaan Kakak tirinya itu.
"Jangan bela laki - laki lain di depan Kakak!" Bentak Keenan lebih keras pada Thalia. Dan Thalia pun langsung terdiam dan menundukkan kepalanya tidak berani menatap ke arah Kakaknya yang sedang di liputi oleh amarah itu.
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.