
Setelah lima menit berjalan, Thalia menghentikan langkahnya di dekat sebuah makam yang bertuliskan nama Jake Davidson. Thalia kemudian berjongkok di dekat makam dan mulai menyapa Ayah kandungnya yang sudah meninggal itu.
"Papa, apa kabar? Thalia berharap Papa selalu baik-baik saja. Maaf ya, akhir - akhir ini Thalia jarang mengunjungi Papa. Oh ya, hari ini Thalia gak datang sendirian. Thalia bawa kekasih Thalia, namanya Angga Pratama. Dia baik banget sama Thalia, Pa. Dan dia juga yang selalu ngejagain Thalia." ucap Thalia tersenyum sendu.
Angga kemudian ikut berjongkok di sebelah Thalia. Angga lalu meletakkan sebuket bunga yang berwarna - warni pada makam Ayahnya Thalia.
"Halo, Om. Kenalin, aku Angga, kekasih dari putri cantik, Om. Mungkin terdengar mendadak. Tapi saya tulus mencintai dan menyayangi putri kecil, Om. Saya janji akan terus menjaga dan melindungi Thalia sampai kapanpun. Jadi saya mohon, tolong restui hubungan kami." ucap Angga yang membuat Thalia terharu mendengarnya.
Dan setelah hampir satu jam mereka berada di lokasi pemakaman. Mereka berdua pun memutuskan untuk kembali ke Villa. Selama perjalanan pulang, Thalia terus menerus memeluk lengan Angga, sembari mengucapkan kata terima kasih.
"Sayang, sudah puluhan kali kau mengucapkan kata terima kasih. Memangnya kamu tidak lelah apa?" ujar Angga sambil mengelus kepala Thalia.
"Tidak, terima kasih Angga." sahut Thalia sembari tersenyum bahagia.
"Sudahlah, ayo kita turun. Aku yakin, Bik Nila pasti sudah menyiapkan makan siang untuk kita." ujar Angga yang mulai membuka pintu sebelah kiri mobilnya.
Baru saja mereka membuka pintu mobil di depan villa, terlihat seorang wanita paruh baya yang masih terpancar dengan aura kecantikannya, sedang berdiri seakan tengah menyambut kedatangan mereka berdua. Pandangan matanya tajam, mengarah ke Thalia dan juga Angga dan tak terlihat adanya senyuman di wajah cantiknya.
"Oh, sudah pulang kau rupanya." ucap wanita itu dengan raut wajah sinisnya.
"Mama!" Ucap Angga, dengan pandangan mata yang tak percaya menatap wanita yang ia panggil Mama.
"Mama..." lirih Thalia.
Sedangkan Angga kini masih terdiam mematung melihat kedatangan wanita yang di panggil Mama itu. Dan ya, Angga pun benar - benar tidak menyangka jika Ibunya kini sudah berdiri di hadapannya. Karena, setahu Angga Ibunya itu tinggal di negara A bersama Papanya yang tengah sibuk mengembangkan bisnis di negara itu.
"Mama? Mama kenapa bisa ada di sini?" tanya Angga bingung yang bercampur dengan penasaran.
"Oh, jadi ini sambutan mu, setelah hampir delapan bulan tidak bertemu dengan Mamamu?" ujar Ibunya Angga dengan nada suara yang cukup tinggi.
"Bukan seperti itu, Ma. Ya sudah, ayo kita duduk lebih dulu." sahut Angga sambil menuntun bahu Ibunya ke arah sofa di ruang santai.
Angga duduk di sofa yang bersebrangan dengan Ibunya bersama Thalia. Dan ternyata sudah terdapat tiga cangkir teh hangat dan beberapa kudapan manis yang sudah di siapkan oleh Bik Nila.
"Jadi, siapa wanita yang ada di sampingmu itu?" tanya Ibunya Angga dengan pandangan yang menelisik ke arah Thalia
"Kenalkan, Ma. Dia adalah Thalia, kekasihku. Kalau boleh jujur dia juga tengah hamil delapan Minggu, Ma. Jadi tolong, jangan terlalu galak ya, Ma. Dan Thalia, perkenalkan ini Mama ku, namanya Abella" jelas Angga terkekeh pelan, seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Thalia hanya bisa menganggukkan kepalanya singkat. Jujur saja, ia sangat gugup. Sejak tadi, Ibunya Angga terus - menerus menatap ke arah Thalia dengan pandangan menilai. Dan sepertinya juga Ibunya Angga tidak menyukainya. Mengingat sejak awal bertemu, belum sekalipun Thalia melihat Ibunya Angga terus tersenyum kepadanya.
"Ma, tapi Angg-" ucapan Angga langsung terpotong.
"Mama, sudah tahu semuanya. Karena Mama sudah meminta orang untuk menyelidiki kalian, sejak dua minggu yang lalu." ucap Ibunya Angga yang kini langsung menikmati minuman teh hangat yang ada di cangkirnya.
Mendengar ucapan dari Ibunya Angga, sejujurnya Thalia juga bingung harus menjawab apa. Ya, walaupun sebenarnya Thalia juga tidak begitu kaget melihat bagaimana respon dari orang tuanya Angga. Bagaimana pun juga pastinya tak ada orang tua yang ingin anaknya ikut bertanggung jawab atas kesalahan yang telah di lakukan oleh orang lain. Thalia tentunya sadar betul akan hal itu.
"Ya, apa yang di katakan oleh Tante Abella memang sepenuhnya benar. Karena anak yang saya kandung ini, memang bukanlah anak dari Angga." ujar Thalia dengan raut wajahnya yang terlihat pasrah.
"CK, kalau kau sudah sadar diri, lalu kenapa kau masih memaksa anakku untuk bertanggung jawab atas anak yang kau kandung itu? Apa kau sudah gila, Hah?!" ujar Ibunya Angga yang kini mulai menaikkan kembali nada bicaranya.
"Ma! Dengarkan penjelasan dari Angga dulu. Asal Mama tahu ya, Thalia itu tidak pernah sekalipun memaksa aku untuk bertanggung jawab padanya. Tapi Akulah yang dengan tulus ingin bertanggung jawab atas anak yang ada di dalam kandungan, Thalia," sela Angga berusaha memberikan penjelasan pada ibunya dan menenangkannya.
"Diam kau Angga!" Bentak Ibunya dengan nada penuh kemarahan kepada putranya itu.
Lagi - lagi mendengar suara Ibunya Angga yang terdengar sangat marah itu, Thalia pun hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berani menatap ke arah wajahnya. Dan ya, bola matanya terasa sangat panas saat ini, terlihat air matanya pun mulai berlinang di pinggiran matanya. Dan ia sama sekali tidak tahu harus bertindak seperti apa di saat seperti ini.
Nafasnya juga kini mulai terasa sesak, akibat menahan isakan agar tidak keluar dari mulutnya.
Kini ibunya Angga tampak menghembuskan nafasnya kasar. Ia lalu menatap ke arah Thalia yang masih menundukkan kepalanya. Dan beralih menatap ke arah anaknya yang kini sedang merengkuh bahu Thalia yang bergetar karena menahan tangis.
"Bagaimana bisa kamu mempermalukan Mama seperti ini, Angga? Jika kau kasihan dengan wanita ini, bukan seperti ini caranya kau bertanggung jawab, Angga?!" Ucap Ibunya Angga yang berusaha untuk menekan emosinya.
"Ma, Angga itu tidak sedang mempermalukan, Mama. Karena Angga sangat mencintai Thalia dengan tulus, bukan hanya karena rasa kasihan terhadapnya. Memang apa salahnya sih, Ma? Lagi pula, Angga itu sangat bahagia bisa bersama dengan Thalia." jelas Angga kepada Ibunya dengan penuh percaya diri.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....