
Sejak bangun dari tidurnya, tangan Thalia tidak pernah lepas dari lengan Angga. Ia pun sepertinya tidak ingin membiarkan Angga beranjak pergi walaupun satu langkah darinya. Tatapannya pun kini terlihat kosong sambil menatap lantai kamarnya.
Dan tentu saja hal yang seperti ini membuat Angga sangat khawatir. Angga pun paham betul, jika sikap Thalia yang seperti ini pasti ada hubungannya dengan Ibunya sendiri. Angga pun takut, jika psikis Thalia akan kembali terganggu. Jika hal yang di khawatirkan itu terjadi maka selama ini usahanya sangat sia - sia.
"Sayang, apa hari ini kau mau ikut ke klinik? Atau mau pergi jalan - jalan ke tempat yang kau mau. Sebutkan saja, karena aku ingin menghabiskan weekend ini bersamamu."
Ngomong - ngomong jadwal keberangkatan mereka berdua di negara A terpaksa harus di batalkan. Mengingat, jika Ibunya sendiri kini tengah berkunjung ke negara L, dan mana mungkin juga Angga tega meninggalkan ibunya yang sudah datang jauh - jauh kesini.
"Atau kau ingin pergi ke kafe kekinian yang dekat dengan alun - alun kota. Kudengar dari beberapa perawat, pastry di sana rasanya sangat enak. Apa kau mau mencobanya?" sambung Angga saat tak mendapatkan feedback dari Thalia.
Angga hanya bisa menghela nafasnya lelah. Terkadang, ia pun berpikir menebak jalan pikiran seorang perempuan itu mustahil. Terlebih lagi untuk orang yang seperti Thalia yang masuk kedalam kategori introvet. Tapi bagaimana pun juga ia adalah seorang psikolog yang harus bisa memahami perasaan dari pasiennya.
"Thalia, apa kau menyayangiku?" tanya Angga tiba - tiba.
Namun langkah ini sepertinya berhasil menarik perhatian dari Thalia, buktinya ia langsung mengalihkan atensinya kepada Angga. Dan Thalia pun semakin mengeratkan genggamannya pada lengan Angga.
"Ya, aku menyayangimu. Jangan tinggalkan aku." lirih Thalia menatap ke arah Angga dengan raut wajah sedihnya.
"Kalau kau menyayangiku, maka jawab pertanyaanku. Apa kau mau menghabiskan weekend ini bersamaku?" tanya Angga menatap lekat ke arah Thalia.
Dan dengan cepat, Thalia pun langsung menganggukkan kepalanya ke arah Angga sambil tersenyum. Kemudian, Angga pun mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Thalia pada lengannya. Tapi sepertinya gagal, karena Thalia terlalu kencang mencengkram nya.
"Ada apa, sayang? Aku ingin pergi ke kamar mandi? Apa kau pengin ikut?" kekeh pelan Angga.
Dengan terpaksa Thalia pun melepaskan genggamannya dan membiarkan Angga menuju ke arah kamar mandi.
***
"Mau pergi kemana kalian?" sentak seseorang dari arah belakang Angga dan juga Thalia.
Angga pun langsung membalikkan badannya menghadap ke arah Ibunya dan menyembunyikan Thalia di balik tubuhnya.
"Aku hanya ingin menikmati weekend bersama dengan kekasihku. Memangnya itu salah, Ma." jawab Angga dengan tenang.
Mendengar jawaban dari anaknya, Abella kini menatap ke arah Thalia yang kini tengah bersembunyi di balik punggung Angga. Dan dengan cepat, Ibunya Angga langsung menarik tangan Thalia dan menghentakkan nya ketika Thalia sudah berada di depan Angga.
"Kau ini, sudah menumpang. Tapi masih banyak maunya ya. Apa kau itu tidak pernah sadar diri posisimu berada di villa ini." ujar Ibunya Angga yang kini langsung mendorong kepala Thalia dengan jari telunjuknya.
Sedangkan Angga yang melihat kekasihnya di perlakukan dengan tidak baik oleh Ibunya sendiri pun, buru - buru langsung menarik Thalia kembali ke belakang punggungnya. Ya, terlihat Angga cukup marah kali ini. Dan Angga pun tidak pernah menyangka jika Ibunya bisa berbuat hal seperti itu pada Thalia.
"Mama! Jika Mama tidak suka dengan Thalia, aku tak masalah. Tapi tolong, setidaknya perlakukan Thalia lebih manusiawi, Ma. Dia juga manusia yang punya perasaan." tutur Angga berusaha untuk menekan emosinya.
Dan tanpa menunggu balasan dari Ibunya Angga. Angga langsung menarik Thalia keluar dari rumah dan membawa Thalia masuk kedalam mobil. Terlihat juga di sana sudah ada Hardi yang sudah duduk di depan untuk menjadi sopir.
"Kita akan kemana?" tanya Thalia penasaran.
"Kau akan tahu nanti, Hardi jalankan mobilnya ." tutur Angga yang masih setia merengkuh tubuh Thalia meski sudah berada di dalam mobil.
***
Meskipun dirinya terus-menerus merasakan mual dan pusing, namun Keenan juga tidak berhenti memikirkan Thalia. Apalagi membuat Keenan mengabaikan pekerjaannya. Kenyataannya dia malah mampu membuat perusahaan yang berada di bawah kepemimpinannya kini berkembang pesat. Ya, semenjak menghilangnya Thalia, Ayahnya sekarang lebih fokus untuk menemani istrinya dan menyerahkan semua tanggung perusahaan jawab kepadanya.
Terdengar suara interkom masuk, membuat Keenan menghentikan lamunannya. Keenan pun meletakkan gelas sloki nya di atas meja, lalu menekan tombol penerima.
"Ya, ada apa?" jawab Keenan saat panggilannya terhubung
"Tuan Keenan, maaf menganggu anda. Tapi ada tamu yang ingin bertemu dengan anda," ujar Billy, sang asisten.
Keenan mengerutkan keningnya "Siapa yang mencari ku? Bukankah hari ini sudah tidak ada lagi yang memiliki janji denganku?"
"Di luar ada Tuan muda Gilang, Mario dan Vino, Tuan." jawab Billy.
"Persilahkan mereka untuk masuk." Keenan menekan tombol untuk mengakhiri panggilan.
Pandangan Keenan kini beralih ke arah pintu. Menunggu sahabatnya yang sama sekali tidak dia sangka akan datang secara bersamaan. Tidak lama kemudian, ketiga sahabatnya kini masuk kedalam ruang kerja Keenan secara bersamaan.
Mereka bertiga kemudian langsung duduk dengan menyilangkan kakinya di hadapan Keenan. Tatapannya tidak lepas menatap ke arah Keenan.
"Apa yang membuat kalian datang ke kantorku secara bersamaan seperti ini?" tanya Keenan kepada tiga sahabatnya.
"Apa kabar, Ken? Aku dengar dari Gilang kemarin kau sakit, apa itu benar?" tanya Vino memulai pembicaraan.
"Well, aku hanya sedang sakit biasa saja." jawab Keenan. "Kebetulan kalian datang kesini, kalau begitu gue minta tolong beliin gue kue putu!" Lanjut Keenan tiba - tiba memerintah seperti itu, yang membuat ketiga sahabatnya mengernyitkan dahinya.
"Hah, kue putu? Hah, mohon maaf ya Bapak Keenan ini sudah siang, dimana coba belinya. Kalau mau cari kue putu itu biasanya pagi atau sore." tutur Mario yang mulai tampak kesal.
"Tapi gue maunya sekarang." Keenan mengalihkan pandangannya hingga tatapan tajamnya menghunus mata ketiga sahabatnya.
"Mau cari dimana?" tanya Vino.
Keenan mengedikan acuh. "Terserah kalian. Pokoknya gue nggak mau tau. Kalian harus bisa mendapatkannya.Kaalau nggak, gue bakalan menarik saham gue yang ada di perusahaan kalian?"
"Damn it!" Umpat Gilang yang tampak kesal begitu mendengar kembali ancaman dari Keenan.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....