
Keenan duduk di kursi kebesarannya. Dia sengaja menghindar dari Thalia dan berangkat lebih pagi, karena dirinya masih belum bisa mengendalikan amarahnya. Mengingat Thalia sudah berani berbohong kepadanya rasanya dia sangat sulit mendengar penjelasan dari Thalia. Dan sebenarnya Keenan merasa menyesal karena kemarin dirinya sudah melukai Thalia. Dan dia juga merasa bersalah karena kemarin terlalu kasar pada Thalia. Keenan bahkan tidak memperdulikan teriakan dan tangisan dari Thalia yang memohon padanya untuk berhenti. Keenan terlalu di penuhi dengan amarah ketika mengingat kembali saat Thalia bersama dengan Mario.
Keenan melirik arlojinya, kini sudah pukul lima sore. Itu artinya Thalia sedang di jalan pulang. Dan Keenan memutuskan akan berbicara dengan Thalia saat dia sudah tiba di rumah. Tidak lama kemudian, terdengar suara dering ponsel dan Keenan mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Dia menatap ke layar ternyata pesan masuk dari Thalia. Dia mengusap layar ponselnya untuk menerima pesan, dan langsung membaca pesan.
Thalia : Kak Keenan, aku akan menginap di rumah Siska. Kau tidak perlu mencari ku. Aku baik - baik saja dan aku juga sudah memberitahu pada Bunda kalau aku akan menginap di rumah Siska.
Keenan: Tidak boleh, aku tidak pernah mengizinkanmu untuk menginap.
Thalia : Aku hanya memberitahumu agar kau tidak salah paham lagi denganku. Dan aku sedang tidak meminta izin padamu.
Keenan menggeram, karena Thalia tidak mau menurutinya. Tanpa menunggu lama, Keenan langsung menghubungi Thalia. Namun, satu, dua hingga lima kali Keenan menghubungi Thalia tapi Thalia tidak menjawab telepon darinya.
"****! Dia berani tidak mengangkat telepon dariku!" Geram Keenan.
Kemudian Keenan menghubungi Billy, untuk datang ke ruang kerjanya. Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dan Keenan langsung memintanya untuk masuk.
"Tuan," sapa Billy saat melangkah masuk kedalam ruang kerja Keenan.
"Kau segera cari nomor telepon dan alamat gadis yang bernama Siska. Dia teman Thalia, untuk wajahnya kau bisa mencari di sosial media milik adikku." tukas Keenan dingin dengan sorot mata yang tajam dan terlihat jelas kemarahan di wajah Keenan.
"Baik, Tuan." Billy menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari ruang kerja Keenan.
Keenan membuang napas kasar dan dia melonggarkan dasinya. Beraninya adik tirinya itu tidak menurut padanya. Tidak perduli jika Thalia itu sudah izin padanya. Tapi dia tidak akan pernah mengizinkan jika adik tirinya itu menginap di rumah orang lain. Meskipun itu adalah rumah sahabatnya sendiri.
Keenan menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya dan memejamkan matanya lelah. Masalah perusahaan cabangnya belum terselesaikan, sekarang harus bertambah dengan adik tirinya yang membuatnya marah.
Suara ketukan pintu terdengar, membuat Keenan menghentikan lamunannya, dia mengalihkan pandangannya ke arah pintu, lalu menginterupsi untuk masuk.
"Tuan," sapa Billy lagi saat masuk kedalam ruang kerja Keenan.
"Iya, ada apalagi?" tanya Keenan dingin.
"Maaf Tuan, di luar ada tamu. Beliau memaksa untuk bertemu dengan anda," jawab Billy.
"Aku sudah mengatakan bukan, jika aku sedang tidak ingin menerima tamu hari ini." tukas Keenan dengan nada dingin dan tatapan tak suka ke arah Billy.
"Bagaimana jika aku yang datang, Tuan Keenan Alexander?" suara bariton yang tiba-tiba menerobos masuk kedalam ruang kerja Keenan.
Dan tatapan Keenan langsung teralih, ke sumber suara itu. Seketika sorot matanya menajam. Rahangnya mengetat kala melihat Mario kini berada di hadapannya.
"Untuk apa kau datang perusahaanku?" Seru Keenan dengan tatapannya yang menghunus tajam ke arah Mario.
"Beginikah caramu menyambut kedatangan tamu?" Mario tidak memperdulikan ucapan Keenan, dia melangkah duduk di hadapan Keenan.
"Aku tidak memiliki waktu untuk berbicara denganmu. Katakan untuk apa kau datang kesini?" tanya Keenan dingin.
"Apa kau tidak ingin menawarkan minuman untukku?" jawab Mario dengan santai.
"Jangan bermain denganku. Aku bisa saja menghabisimu di detik ini juga!" Desis Keenan yang menyalang tajam menatap ke arah Mario yang duduk di hadapannya.
Mario menggeleng pelan dan tersenyum. "Kedatanganku kesini bukan untuk mengajakmu berkelahi Tuan Keenan Alexander. Kenapa kau begitu membenciku. Kedatanganku kesini karena ingin membahas kejadian kemarin."
"Atas dasar apa kau repot-repot datang kesini untuk menjelaskan kejadian kemarin." ucap Keenan yang tampak kesal.
"Dengar, Ken. Kemarin itu kau sudah salah paham padaku dan juga Thalia. Kejadian kemarin aku memang tidak sengaja bertemu dengan Thalia. Saat itu dia sedang duduk sendirian di restoran dan terlihat sedang bersedih lalu aku menghampirinya. Dan saat itu, Manager restoran datang menghampiriku untuk mengadakan rapat, karena Dava Sekertaris ku sedang sibuk aku meminta Thalia untuk menjadi Sekertaris ku sementara. Jika kau masih tidak percaya padaku, kau boleh bertanya pada Manager di restoran milikku itu. Dan setelah meeting aku memaksa Thalia untuk dinner bersama karena aku tau, dia pasti sudah lapar. Namun Thalia menolaknya tapi aku yang terus memaksanya untuk makan bersama denganku di ruangan makan VVIP itu sebagai tanda balasan kepadanya karena Thalia sudah mau membantuku." Jelas Mario. "Aku juga tahu, jika sebenarnya Thalia adalah adik tirimu, bukan? Jika kau benar - benar mencintainya jangan paksa dia untuk mencintaimu dan jangan mengambil keputusan yang akan membuatmu menyesal di masa depan." lanjutnya
"Jangan ikut campur urusanku, Mario!" Tukas Keenan dengan nada penuh penekanan.
Mario mengedikan bahunya acuh. "Aku tidak ingin mencampuri urusan percintaanmu. Tapi percayalah, jika kau terus memaksa Thalia untuk mencintaimu suatu saat kau akan menyesali segala perbuatanmu padanya."
"Diam kau!" Bentak Keenan kesal.
"Aku hanya berkata sejujurnya padamu. Dan aku itu tidak berniat untuk mengambil Thalia darimu dan aku juga tidak menyukai mengambil wanita yang di cintai oleh sahabatku." ujar Mario.
"Jangan beralasan denganku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkan adikku bersama denganmu karena dia adalah milikku."
Mario membuang napas kasar. "Aku harus pergi, aku memberikanmu waktu untuk memikirkan ucapan ku tadi. Aku harap kau tidak menggunakan egomu." tutup Mario. Lalu Mario membalikkan tubuhnya, dia langsung berjalan meninggalkan ruang kerja Keenan.
Keenan membuang napas kasar, dia kembali menyadarkan punggungnya di kursi dan memejamkan matanya singkat. Pikirannya kembali memikirkan semua perkataan Mario.
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.