Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Cheesecake



Kini Keenan dan Thalia sudah berada di lantai dua dimana pemilik acara pesta berada.


"Widih! Udah bawa cewek nih. Pacar, tunangan ataukah sudah menjadi Istrimu." goda Vino.


"Calon ibu dari anak-anakku." jawab Keenan dengan santainya.


Thalia langsung memelototkan bola matanya nyaris keluar dengan rahangnya yang mengeras. Dan ya, ingin sekali Thalia mencakar muka tampan Kakak tirinya itu yang selalu berbuat semaunya.


"Woow! So sweet. Ternyata sudah punya pasangan ya? Kapan rencananya kalian menikah? Atau jangan - jangan sudah menikah diam - diam?" ucap Vino yang kembali menggoda Thalia dan juga Keenan.


"Kalau aku sudah sukses. Pasti aku akan segera menikah. Untuk sekarang biarkan dia lulus sekolah dulu. Kecuali kalau dia udah pengin jadi ibu, maka pernikahan juga akan aku percepat." jawab Keenan sambil merangkul pundak Thalia.


"Ah, Sial! Kalau aku ingat ini sedang tidak di acara pesta aku pastikan akan mencakar wajah tampan dan sombongnya itu." ucap Thalia di dalam hati kesal.


"Ayo, kita turun ke lantai bawah dan bergabung bersama dengan teman - teman kita." ucap Vino beranjak dari tempat duduknya dan mengajak Keenan dan Thalia ke lantai bawah.


Setelah sampai di lantai bawah Thalia dan Keenan pun langsung duduk di sofa di ruangan pesta itu.


"Kalian mau minum apa?" tawar Vino.


"Aku lagi gak sakit ya? Jadi gak perlu di tawarin juga." jawab Keenan.


"Oh! Iya maaf. Tunggu sebentar, aku akan meminta waiters untuk mengambilkan minuman."


Vino pun kemudian langsung meminta waiters untuk menyiapkan minuman.


Di ruangan pesta itu, Thalia dan Keenan hanya saling diam. Dan Keenan tidak henti - hentinya mengamati kecantikan wajah Thalia yang membuatnya tenang. Tentunya lebih menggairahkan.


"Thalia, walaupun semua orang menoleh dan tidak setuju tentang hubungan kita ini. Aku tidak peduli. Yang paling penting, aku sama kamu. Setelah kamu lulus sekolah nanti aku akan langsung menikahimu. Dan aku akan membawamu ke istana kita dan hidup bahagia berdua. Dan kau nanti akan menjadi ibu dari anak - anakku kelak," gumam Keenan di dalam hati dengan tersenyum bahagia.


Sedangkan Thalia saat ini saat malas dan sangat jijik saat di perhatikan begitu intens oleh Kakak tiri nya. Dan ya, Thalia pun langsung mengerti pasti yang ada di pikiran Kakaknya itu sangat kotor. Sangat tidak nyaman jika dia harus bersanding dengan Kakaknya.


"Kamu sedang ngelihatin apa sih, Kak?" tanya Tahlia pura - pura tidak tahu.


"Nggak ada. Kakak itu cuma ngelihatin kamu."


"Aneh."


"Kamu tau. Kamu itu sangat cantik dan menggairahkan Thalia. Nanti, kalau Kakak sudah lebih sukses dari Papa kita menikah ya?"


Dan dengan pedenya, Keenan mengatakan kata menikah dengan Thalia dan itu membuat Thalia semakin geram.


"Sampai kapanpun itu gak akan pernah terjadi, Kak. Jangan mengkhayal." cerca Thalia menatap Keenan kesal.


"Aku tidak lagi mengkhayal, sayang. Aku berbicara dengan jujur. Kamu akan menikah denganku dan kamu akan melahirkan anak - anak kita. Jadi bersiaplah untuk menjadi Nyonya Alexander." jawabnya dengan menggoda Thalia.


"Omong kosong! Kamu semakin hari memang semakin gak waras, Kak. Aku sangat menyesal telah menjadi adikmu. Lebih baik jika aku tidak pernah mengenalimu. Mengenalimu adalah petaka bagiku. Kau bukanlah Kakakku kau adalah ibl...."


Saat yang bersamaan, Vino kembali bergabung dengan mereka, dan itu membuat Thalia tidak meneruskan caciannya terhadap Keenan. Kemudian Keenan dan Vino pun membawa Thalia untuk menemui rekan bisnis sekaligus sahabat mereka. Thalia mendesah pelan, sejujurnya dia sudah sangat bosan berada di tempat di seperti ini.


"Kak Keenan, aku ingin minum. Aku akan kesana," Thalia berbisik sembari menunjuk ke tempat minuman.


"Jangan minum alkohol, jika kau tidak tahu jenis minuman yang kau minum, tanya pada pelayan." tukas Keenan memperingati.


Thalia kini berjalan mendekat ke arah minuman dan mengambil jus strawberry dan langsung meneguknya. Seketika, pandangan Thalia menatap ke sebuah cheese cake. Dan Thalia mulai mendekat ke tempat cake, lalu dia mengambil cheesecake itu.


"Hmm. Enak sekali." gumam Thalia ketika cheese cake itu masuk kedalam mulutnya. Thalia memejamkan matanya menikmati cheesecake yang begitu lezat di lidahnya.


"Sepertinya Nona sangat menyukai Cheesecake?" suara bariton bertanya, hingga Thalia membuka matanya menatap sosok pria tampan berdiri di hadapannya.


Thalia diam, dia sedikit terkejut. Tiba - tiba saja ada pria asing yang menatap dirinya.


"Tuan siapa?" tanya Thalia dengan sopan dan lembut.


Pria itu tersenyum dan berdehem. Kemudian mendekat kearah Thalia. "Perkenalkan, aku Mario Maurer, jangan panggil aku dengan sebutan Tuan. Cukup panggil aku Mario saja. Sejak tadi, aku sudah memperhatikanmu yang sangat lahap menikmati cheese cake itu." ujar pria yang bernama Mario itu.


"Ah, sialan. Ternyata dia memperhatikan aku makan.Bikin malu saja." gerutu Thalia di dalam hati.


Thalia mengukir senyuman kaku berusaha untuk menahan malunya"Ah, iya. Hmm. Sebenarnya aku suka semua jenis cheese cake. Perkenalkan aku Thalia Ivanka. Dan kau bisa memanggilku Thalia."


"Wow, nama yang indah. Senang berkenalan denganmu, Thalia." Mario memuji dengan tatapan yang kagum. "Kau sangat cantik sekali. Aku seperti melihat boneka hidup di hadapanku." lanjut Mario. Ya, Mario pun masih tidak percaya jika kedatangannya di pesta sahabatnya dia akan bertemu dengan seorang wanita yang cantik bagaikan boneka hidup. Rasanya Mario belum pernah melihat wanita yang secantik ini.


Pipi Thalia bersemu merah, saat mendapatkan pujian dari Mario. Tidak pernah dia mendengar pujian tulus yang seperti ini dari seorang pria.


"Astaga, aku menyukai pipimu." Mario tidak tahan, lalu dia langsung mencubit gemas pipi Thalia. "Kau kesini dengan siapa?" lanjut Mario bertanya karena dia sudah sejak tadi penasaran pada wanita yang ada di hadapannya.


"Aku dengan-"


"Thalia!" Suara bentakan keras dari arah belakang, membuat Thalia langsung mengalihkan pandangannya ke suara itu.


"Kak Keenan." Thalia menelan salivanya susah payah, saat melihat wajah Kakak tirinya itu memerah, terutama tatapan tajam pria itu yang menyayat tajam.


"Sialan kau, Mario!" Keenan langsung menarik kerah baju Mario, dan menghempaskan kasar tubuh Mario hingga tersungkur ke lantai.


"Kak Keenan." Thalia menutup mulutnya dengan tatapan yang tak percaya dengan tindakan kasar Kakak tirinya.


"****! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, Keen!" Seru Mario yang tidak terima.


"Kau yang kehilangan akal sehatmu! Beraninya kau menyentuh calon istriku!" Bentak Keenan dengan tatapan yang begitu tajam mengarah kepada Mario yang masih tersungkur.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.