Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Halte bus



"Yah hujan..." gumam Thalia yang kini tengah duduk di kursi yang ada di halte bus dekat dengan sekolahnya.


Ya, saat ini dia tengah menunggu jemputan dari Keenan. Namun, Kakaknya itu tiba - tiba mengabari jika akan terlambat menjemputnya, akibat masih ada meeting di perusahannya.


Dan kini saat Thalia hendak pulang menggunakan bus, ia harus mengurungkan niatnya. Ia lupa, jika saat ini jam sudah menunjukkan pukul enam petang karena sudah satu jam dia menunggu kedatangan Kakaknya yang tak kunjung datang.Ya, Thalia sendiri pulang dari sekolah pukul lima sore karena ada materi tambahan untuk mempersiapkan ujiannya yang sebentar lagi akan di lakukan.


"Hey, sedang menunggu jemputan?" tanya seseorang yang sedang berada di samping kanan Thalia.


Thalia yang penasaran dengan seseorang yang mengajaknya berbicara, ia pun langsung mengalihkan pandangannya dan Thalia begitu terkejut saat mengetahui ada Angga di sebelahnya.


"Biar ku tebak. Dari reaksimu ini aku yakin kau pasti masih mengenaliku. Namamu Thalia, bukan? Anak dari Vina dan Tristan Alexander?" ucap Angga sambil tersenyum ke arah Thalia.


"Bagaimana kau bisa tahu? Bukankah kita baru ketemu sekali, dan itu juga tidak lebih dari sekitar sepuluh menit." ucap Thalia yang kini begitu heran, mengapa Angga bisa mengetahui identitas dirinya. Padahal, setelah pertemuannya di pesta malam itu dia langsung melangkah pergi.


"Yah, bagaimana mana mungkin aku bisa melupakan seorang gadis dengan tatapan yang penuh kekhawatiran. Kau sedang sakit, kan?" tanya Angga tiba-tiba.


Mendengar ucapan dari Angga, Thalia langsung mengalihkan pandangannya agar tidak bertatapan dengan Angga.


"Hei Nona, kenapa diam?"


"Ta- Tahu apa kau tentang diriku? lagi pula aku sehat - sehat saja." jawab Thalia dengan nada ketus dan terbata.


"Bukan sakit seperti itu yang aku maksud. Tapi jiwamu, Nona. Baiklah, biar aku perkenalkan diriku sekali lagi. Perkenalkan aku Angga Pratama, seorang psikolog. Tentu saja dengan latar belakangku yang seorang psikolog akan dengan mudah bisa melihat seseorang yang tengah mengalami gangguan psikis sepertimu," jelas Angga.


Mendengar penjelasan dari Angga, Thalia hanya terdiam tanpa ada niatan untuk menjawabnya. Dan ya, Thalia merasa jika Angga itu aneh, karena sudah bersikap sok akrab dengannya padahal dirinya baru bertemu dengan Angga hanya dua kali saja.


Angga dengan tiba - tiba langsung meraih kedua tangan Thalia yang membuat gadis yang ada di depannya itu terkejut. Ia menggenggam kedua tangan itu sembari menatap dalam ke arah mata Thalia.


"Katakan sejujurnya padaku. Dan sebisa mungkin aku pasti akan membantumu. Kau tahu, sekarang matamu terlihat sedang menjerit meminta pertolongan, terlihat begitu menyedihkan." tutur Angga yang melihat bola mata Thalia yang mulai kehilangan cahayanya.


Mendengar ucapan dari laki - laki yang ada di hadapannya. Hati Thalia kini mulai goyah saat melihat tatapan yang begitu tulus dari Angga. Tapi, ia juga masih ragu untuk menceritakannya. Ya, walaupun Thalia sedikit mulai menyukai Angga yang mau membantu masalahnya, tapi tetap saja ia hanyalah pria asing yang kebetulan lewat di hidupnya.


"Aku telah di sumpah menjadi seorang dokter dan kau tenang saja. Aku itu akan membantumu dan akan berjanji menjaga rahasia mu." sambung Angga yang kini masih melihat keraguan di mata Thalia.


"Tapi, hm..." ucap Thalia yang masih ragu.


"Percayalah, Thalia." ucap Anggap meyakinkan.


"Bisakah kau pegang janjimu?" lirih Thalia menatap Angga dengan mata yang kini mulai berkaca-kaca.


Angga tersenyum teduh, sembari menatap dalam manik mata coklat Thalia. Ia lalu menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban untuk pertanyaan dari Thalia.


"Kau bisa menyimpan kartu namaku untuk berjaga - jaga nanti." ucap Angga yang kini sudah memberikan kartu namanya pada Thalia dan Thalia pun menerimanya.


"Terima kasih,"


"Nah, sekarang apakah kau sudah mau menceritakan tentang masalahmu itu, Nona?" tanya Angga memastikan sekali lagi.


Thalia mengangguk sebagai jawaban batas pertanyaan Angga padanya. "Tolong aku..." ucap Thalia lirih dengan lelehan air mata dan isakan tangis yang begitu menyayat hati.


Dan petang itu, di bawah atap halte bis yang terguyur oleh derasnya air hujan, Thalia menceritakan semua keluh kesahnya kepada Angga tanpa ada satupun yang terlewat.


Dan setelah Thalia menceritakan semua masalahnya, Angga pun akan berjanji untuk memikirkan cara untuk menyelamatkannya dari genggaman Kakak tirinya.


"Ekhm, Ekhmmm.." suara deheman seseorang dari arah samping.


"Sudah puas bermain - mainnya," ucap Keenan dengan suara rendahnya.


"Ka, Kakak. Bagaimana kau bisa ada di sini?" ucap Thalia terbata.


"Sepertinya kau tidak mengharapkan kehadiranku, ya? Atau kau mulai amnesia?" jawab Keenan sambil menyunggingkan senyum seringai di bibirnya.


"Bu- bukan begitu, Kak. Tadi aku tidak merasakan kedatangan mobilmu." cicit Thalia dengan senyum canggung di wajahnya.


"CK! Alasan saja!" Ucap Keenan, dan kini tatapannya beralih kearah Angga.


"Dan kau Angga, lebih baik kau pergi sari sini sebelum aku berbuat kasar kepadamu. Dan aku peringatkan, jauhi adikku!" Peringat Keenan pada Angga.


"Tenang, Ken. Aku hanya menemani adikmu saja. Karena tadi aku tidak sengaja melihatnya duduk sendirian di halte ini." ucap Angga.


"CK! Kau pikir aku akan percaya."


"Apa yang di katakan oleh Angga memang betul kok, Kak. Tadi dia cuma nemenin Thalia di sini."


"Ah, adikku ini ternyata sudah mulai berani membela pria lain ya. Kali ini kau tidak bisa membodohi Kakak Thalia. Kau pikir aku tadi melihat kalian berdua hampir berpelukan, hm?"


"A-Aku tidak-"


"DIAM!!" Bentak Keenan pada Thalia.


Thalia pun langsung menundukkan kepalanya, ia meremas kuat tali tas yang ia bawa saat ini. Dan Thalia tidak berani menatap ke arah Kakak tirinya itu yang sedang terlihat sangat marah.


Thalia tersentak saat Keenan langsung menarik tangannya, ia sangat kaget bukan main saat ini. Dan ya, Kakak tirinya itu sedang marah dan tidak tahu tempatnya.


"Ayo ikut! Ikut Kakak sekarang!" Kecam Keenan menarik kasar tangan Thalia saat ini juga.


"Lepaskan Kak Keenan ini sangat sakit." pekik Thalia mencoba lepas dari genggaman tangan Keenan.


"Keenan, apa yang kau lakukan pada adikmu sendiri. Kenapa kau kasar sekali pada adikmu." ucap Angga yang kini mencekal tangan Keenan yang sedang menggenggam Thalia begitu erat.


"Aku peringatkan jangan ikut campur!"


Sakit pada pundak Thalia saat Kakak tirinya itu langsung mendorong tubuhnya untuk memaksa masuk kedalam mobilnya


****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.