
Logan menghela nafasnya sejenak, sebelum melanjutkan kembali perkataannya. "Pergilah dari negara ini bersama dengan Thalia. Karena aku tidak yakin bisa menahan Keenan lebih lama lagi. Aku juga akan meminta kepada Ayah untuk mengirimkan pasukan khususnya untuk melindungi mu di sana." tutur Logan.
Angga terdiam sejenak, untuk memikirkan perkataan Kakaknya. Ia juga sebenarnya sempat berpikir untuk membawa kabur Thalia keluar negeri. Tapi bagaimanapun juga ia harus mendapatkan persetujuan dari Thalia. Mengingat Thalia lah yang paling berhak atas dirinya sendiri.
"Apakah harus sampai pergi keluar negeri, Kak? Bukankah di negara ini pasukan khusus milik Ayah juga bisa melindungi kami." ujar Angga yang masih memikirkan kembali ucapan dari Logan.
"Memang bisa, tapi ruang mereka akan sangat terbatas. Mengingat di negara ini cukup ketat terhadap hukum yang berlaku. Lagi pula, koneksi kita di sini jauh lebih sedikit dari keluarga Alexander. Tapi berbanding terbalik dengan koneksi kita yang memang sebagian besar itu berada di luar negeri." jelas Logan.
"Baiklah, akan aku sampaikan nanti kepada Thalia. Tapi jika dia tidak menginginkannya maka kami tidak akan pergi dari sini." ujar Angga dengan tegas.
"Aku serahkan semua keputusan kepadamu." sahut Logan yang memulai menikmati kembali teh miliknya.
***
Seorang pria nampak tengah berdiri menghadap ke arah jendela kaca, yang memperlihatkan keindahan pemandangan kota di malam hari. Dan tangan kirinya terlihat memegang segelas wine yang isinya tersisa setengahnya saja.
"Bisakah kita bertemu? Ada suatu kerjasama yang ingin aku tawarkan padamu," ucapnya pada ponsel yang tengah menempel di telinga kanannya.
"Dan aku sangat yakin kau pasti akan tertarik dengan kerja sama yang aku tawarkan ini." sambungnya dengan seringai yang menghiasi wajahnya.
***
Pagi harinya....
"Aku tidak menyangka kau benar-benar datang ke markas ku, hanya demi ingin bertemu denganku, Keenan." tutur seorang pria dengan cerutu yang masih menyala di tangannya.
Mendengarkan penuturan pria itu, Keenan hanya terkekeh pelan. Ia kemudian menuangkan wine dari botol kedalam gelas miliknya dan milik pria yang ada di hadapannya. Ia kemudian meminum cairan berwarna kemerahan itu sembari menatap pria itu yang tengah menghembuskan asap dari mulutnya.
"Jadi, apa yang membuatmu ingin bertemu denganku. Setelah hampir dua tahun berlalu?" tanya pria itu.
Tanpa berniat untuk membalasnya. Keenan langsung mengeluarkan selembar foto bergambar seorang wanita muda, yang tampak cantik dengan balutan gaun yang berwarna pastel. Ia meletakkan foto itu di meja, yang membuat pria yang ada di hadapannya itu mengernyitkan dahinya bingung.
"Bukankah ini adik tirimu? Kenapa kau memberikan foto adik tirimu padaku? Ah, apa kau ingin menjodohkan ku dengannya? Kalau aku sih tentu saja tidak akan menolaknya." tanyanya penasaran.
"Tutup mulutmu. Aku memberikan foto itu padamu karena sudah satu bulan dia menghilang, atau lebih tepatnya dia kabur. Saat itu, aku tidak begitu mengkhawatirkannya karena aku tau, dia tidak akan pernah bisa lolos dari genggamanku." ucap Keenan.
Pria yang ada di hadapannya langsung tertawa saat mendengarkan cerita dari Keenan. "Jadi intinya, adik tirimu itu kabur dan kau tidak dapat menemukannya, sehingga meminta bantuanku, untuk mencarinya, begitukah?" sahutnya dengan tawanya yang belum terhenti.
"Tak sesederhana itu, Marvel. Karena aku yakin, ada seseorang yang ikut membantu untuk menghilangkan jejak kaburnya adikku." ujar Keenan yang kemudian mengeluarkan dua lembar foto seorang pria hingga Marvel pun membelalakkan matanya saat melihatnya.
"Jangan bilang ka----" ucap Marvel terputus.
"Ya, seperti yang kau pikirkan. Aku sendiri pun awalnya tidak percaya. Tapi jujur saja, aku juga masih belum tahu, apakah informasi ini valid atau tidak.Aku masih memerintahkan beberapa orang kepercayaanku untuk menyelidikinya lebih jauh." jelas Keenan dengan raut wajah datarnya.
Mendengar penjelasan dari Keenan seketika mood Marvel langsung turun. Ia pun langsung membuang cerutunya ke dalam asbak yang telah di siapkan dan berbalik meminum wine yang telah di tuangkan oleh Keenan.
"Sepertinya aku paham dengan garis besarnya. Jadi apa yang akan kau tawarkan untuk kerjasama ini, hm?" tanya Marvel.
"Dua persen saham di perusahaan milikku," jawab Keenan singkat.
"Empat atau tidak sama sekali." jawab Marvel yang langsung di setujui oleh Keenan.
"Senang berbisnis denganmu, Ken." ujar Marvel terkekeh.
***
Tap... Tap... Tap...
Suara langkah kaki Logan yang menuruni tangga, terdengar begitu menggema di villa itu. Ia melihat tak ada satu orang pun yang berada di ruangan santai villa. Kemudian Logan melangkah menuju ke arah dapur villa dan mendapati Bik Nila dan kekasih dari adiknya yang tengah asyik memasak.
"Dimana Angga?" tanyanya yang membuat Thalia dan Bik Nila terlonjak kaget.
Seketika itu, Thalia dan Bik Nila pun langsung membalikkan badannya menatap ke arah Logan yang tengah bersandar di pintu dapur sambil melipat kedua tangannya.
"Ahh.. Maaf, Kak. Sepertinya Angga belum bangun. Jika memang ada sesuatu yang penting aku akan langsung membangunkannya sekarang," ucap Thalia kepada Logan.
"Tidak usah, Thalia. Biarkan saja adikku itu tidur. Lalu, bisakah kita berdua ngobrol di ruang santai? Ada hal yang ingin aku sampaikan kepadamu?" sahut Logan.
Thalia menganggukkan kepalanya, mendengar permintaan dari Logan. Ia lalu melangkah mengikuti Logan dan kemudian berkahir dengan duduk di sofa ruang tamu.
Dan jujur saja, Thalia sedang sangat gugup saat ini. Terlebih sekarang, dirinya itu tengah di tatap oleh Logan, yang pada dasarnya memiliki tatapan mata yang tajam. Walaupun begitu, Thalia sangat yakin jika Logan tidak berniat memandang Thalia dengan cara yang seperti itu.
"Tidak perlu gugup seperti itu, Thalia. Di bawa santai saja. Lagi pula, aku hanya ingin mengenal lebih dekat calon adik ipar ku."ucap Logan dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
"Namamu Thalia Ivanka, bukan? Lalu apa hubunganmu dengan Keenan Alexander?" tanya Logan yang berpura - pura tidak tahu.
Tubuh Thalia langsung bergetar ketakutan saat nama Keenan di sebut oleh Logan. Karena bagaimana pun juga, trauma bukanlah suatu hal yang dapat di sembuhkan dalam jangka waktu yang singkat.
"A- Aku adiknya Kak Keenan. Ah, lebih tepatnya adik tirinya." jawab Thalia terbata.
"Bisa kau jelaskan lebih detail?" pinta Logan yang kemudian di balas anggukan kepala dari Thalia.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....