Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Acara Reuni



Angga tengah berdiri di sebuah cermin untuk merapikan kemeja berwarna biru muda yang tengah di kenakannya. Sudah lima menit berlangsung, namun sepertinya Angga masih enggan untuk melangkah meninggalkan tempat itu.


"Apa belum selesai juga? Sudah lebih dari lima menit kau merapikan pakaianmu. Padahal menurutku itu sudah sangat rapi, Angga. Lagi pula, nanti akan berantakan kembali saat kau duduk di mobil." ujar Thalia yang duduk di tepian ranjang sembari menatap ke arah Angga dengan tatapan jengah.


"Tak apa, aku hanya ingin terlihat tampan di depan kekasihku. Memang itu salah?" dapat Thalia lihat dari cermin, Angga tengah menyeringai tipis seraya menatap ke arahnya.


Thalia memutar bola matanya malas. Ia tidak tahu darimana datangnya sifat narsis dari Angga. Ia akhirnya memilih untuk mengabaikan sang kekasih dan memilih untuk membaca novel yang baru Angga bawa beberapa hari yang lalu.


"Oh ya, sayang. Semalam aku mendapatkan undangan dari salah satu teman kuliahku. Mereka mengundangku untuk mengikuti acara reuni dari anggota organisasi yang pernah aku ikuti semasa kuliah dulu. Dan untuk acaranya, akan dilaksanakan pada hari Minggu besok." ucap Angga.


Thalia terlihat mengalihkan atensinya ke arah Angga yang ternyata sudah membalikkan badannya menghadap ke arah Thalia.


"Baiklah. Have fun ya." ucap Thalia singkat.


Terlihat Angga yang mengerutkan dahinya dan nampak raut wajahnya yang tak suka ia tunjukkan begitu mendengar respon dari Thalia.


"Kau juga akan ikut, sayang." melihat penuturan dari Angga, tentu saja Thalia terkejut.


"Untuk apa aku ikut? Lagi pula itu kan acara reuni kalian? Mana mungkin aku yang orang asing mengikuti acara reuni tersebut," sahut Thalia.


Bagaimana pun juga itu adalah momen temu kangen antara Angga dengan temannya. Mana mungkin Thalia berniat untuk menganggu acara itu. Sebagai kekasih yang baik, tentu saja Thalia ingin memberikan ruang untuk Angga agar bersenang - senang dengan teman - temannya. Lagi pula Thalia juga tidak mengenal satu pun teman Angga kecuali seorang wanita yang bernama Lia itu.


"Di undangan tertulis, jika kita di perbolehkan untuk membawa satu orang pada acara itu. Lagi pula akan sangat memalukan jika aku datang tanpa membawa teman. Banyak seniorku dulu yang saat ini sudah berkeluarga dan aku yakin jika mereka juga akan membawa pasangan mereka dalam acara reuni itu." jelas Angga.


Thalia hanya menganggukkan kepalanya paham dengan apa yang di sampaikan oleh Angga. Lagi pula, berkenalan dengan beberapa teman kuliah Angga sepertinya bukan sesuatu hal yang buruk.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu. Tapi aku meminta bayaran untuk hal itu."


"Baiklah. Jadi apa yang kau inginkan kali ini?" tanya Angga.


Thalia tersenyum lebar saat mendengar respon dari Angga. Ia ingin memanfaatkan momen ini dengan baik agar Angga mau memberikannya sesuatu yang sangat di inginkan oleh Thalia.


"Belikan aku pizza jumbo dengan topping keju double. Karena aku sangat menginginkan itu akhir - akhir ini. Hehehe." ujar Thalia sambil terkekeh pelan.


Angga hanya menghela nafas pasrah, saat mendengar permintaan dari Thalia. Tapi mau bagaimana lagi, mau tidak mau ia pun harus menuruti keinginan dari kekasih kecilnya itu.


"Baiklah. Aku akan membelikannya nanti sepulang dari klinik. Apa kau puas?" tanya Angga.


Thalia menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Terima kasih, Angga." Thalia langsung memeluk pinggang Angga dengan sangat erat.


"Sama - sama," balas Angga seraya mengecup dahi Thalia.


***


Keesokan harinya...


"Apa kau sudah siap, sayang?" tanya Angga. Terlihat Angga mengintip dari arah pintu kamar mereka. Terlihat saat ini Thalia tengah mencoba mengenakan anting di daun telinganya di depan kaca meja rias.


Begitu Thalia membalikkan badannya menghadap ke arah Angga, seketika Angga membeku saat melihat betapa cantiknya penampilan Thalia saat ini.Dengan menggunakan dress hitam selutut dan dengan rambut yang di tata dengan model fisthail braid dengan sebuah hair piece kecil sebagai penghiasnya, dan semakin menonjolkan aura kecantikan milik Thalia.


"Kau tampak sempurna, sayang." ucap Angga dengan jujur.


Mendengar pernyataan dari Angga, seketika pipi Thalia terasa memanas. Dan dengan cepat Thalia menutup kedua pipinya dan melangkah melewati Angga menuju ke lantai bawah.


"Berhenti bercanda. Nanti kita bisa telat." ucap Thalia saat akan melewati Angga tadi.


Sedangkan Angga hanya tersenyum geli melihat sang kekasih yang nampaknya malu - malu saat mendengar pujiannya.


***


Mobil yang di tumpangi mereka telah berhenti dengan sempurna di halaman parkir di sebuah hotel mewah. Dan dengan cepat Angga mematikan mesin mobilnya, dan bergegas turun untuk membukakan pintu mobil untuk Thalia.


"Acara reuninya ternyata di adakan di sebuah hotel yang mewah seperti ini ya?" tanya Thalia saat ia baru turun dari dalam mobil Angga dan melihat lokasi hotel berbintang itu.


"Tidak pada hotelnya, melainkan pada bangunan aula yang berada di sebelah kanan hotel ini. Dan aku dengar, mereka telah menyewa aula itu khusus untuk acara reuni ini."


Angga mengaitkan tangannya Thalia pada lengannya. Ia pun lalu melangkah meniggalkan tempat parkir menuju gedung yang akan di jadikan tempat untuk acara reuni. Terlihat beberapa pasangan di depan mereka mulai memasuki aula itu. Sedangkan Thalia yang tiba-tiba merasa gugup pun langsung mengencangkan pelukannya pada lengan Angga.


"Tak apa, tenang saja. Karena tidak ada yang di perlukan khawatirkan di dalam sana, sayang." ucap Angga sambil mengusap lengan Thalia yang memeluk lengannya dengan maksud untuk memberikan rasa tenang kepada Thalia.


Begitu mereka memasuki aula itu, terlihat banyak sekali orang yang ada di dalamnya. Mungkin, lebih dari seratus orang yang telah datang dan berkumpul dalam ruangan itu. Ada yang tengah menikmati kudapan yang tersaji, ada yang asyik mengobrol bersama dengan temannya, bahkan ada yang tengah asyik bermain game online bersama dengan yang lain.


"Lihat, tak semenyeramkan yang kau bayangkan, bukan?" tanya Angga.


Terlihat tubuh Thalia yang mulai rileks. Ia lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap ke arah Angga dan kemudian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari Angga.


"Angga!!" Tiba - tiba suara teriakan terdengar dari arah kanan mereka yang memanggil nama Angga.


Sedangkan Angga yang merasa namanya di panggil pun, mengalihkan atensinya ke arah sumber suara itu. Dan terlihat seorang laki - laki tengah melambaikan tangan ke arahnya.


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....