
Kini Thalia sedang menutup telinganya dengan bantal karena ia semakin di buat pusing saat mendengar Ibunya yang tengah berteriak di depan pintu kamarnya saat ini.
Tangisan Thalia pun sudah berhenti yang tersisa hanyalah rasa marah dan benci serta emosi yang bergejolak di dalam dirinya saat ini. Ketika mengingat kembali perlakuan kurang ajar Kakak tirinya.
"Thalia sayang, buka pintunya. Ini Bunda, sayang." teriak Vina dari luar pintu kamar Thalia.
"Thalia..., Bunda minta maaf kalau ada salah. Tapi Thalia makan ya, sayang. Dari tadi siang kamu belum makan." teriak Vina yang kini mulai menangis di depan pintu kamar Thalia.
Ya, Vina jelas frustasi, dalam kepalanya hanya ada tanda tanya di dalam benak wanita itu.Sosok Thalia yang ceria dan biasannya sangat manja pada Ibunya tapi kini anak itu sudah berubah drastis.
"Sayang, buka pintunya, Nak." lirih Vina
"Bunda!" Teriak Tristan yang langsung menghampiri istrinya dan membantu istrinya itu untuk bangkit dari duduknya.
"Pa, Thalia tidak mau keluar sama sekali. Dia juga belum makan dari tadi siang. Bunda harus bagaimana, Pa? Apa yang harus Bunda lakukan?" tanya wanita itu menangis kuat - kuat.
Dan kini Tristan yang sedang berdiri di depan pintu mencoba untuk mengetuk pintu Thalia. "Thalia, sayang. Ini Papa, buka pintunya sebentar ya, sayang." bujuk Tristan.
"Thalia, sayang..." lirih Vina masih dengan tangisnya.
"Bunda, Papa. Biar aku yang membuka pintu kamar Thalia. Mungkin saja Thalia sedang marah dengan kalian."
Suara itu membuat Tristan dan Vina pun langsung menoleh menatap seseorang yang berdiri tepat di samping mereka berdua.
Sedangkan Thalia yang ada di dalam kamarnya masih berusaha untuk memejamkan matanya.Ia merasakan, jika ia sudah tidak lagi mendengarkan teriakan dari Ibu dan Ayahnya. Dan Thalia pun mulai bernapas dengan lega.
"Dingin," lirihnya menarik selimut yang berwarna biru muda untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Kemudian Thalia pun mendengar suara pintunya yang terbuka dengan sangat kasar sebelum ia tersentak dan menutup wajahnya dengan menggunakan selimut.
Derap langkah kaki membuatnya merinding saat ini. Terlebih lagi usapan tangan pada surainya yang membuat Thalia semakin gemetar tak tertahan. Ya, karena sentuhan itu sama persis dengan sentuhan laki - laki yang sudah kurang ajar itu padanya saat tadi siang.
"Sayang, kau sedang marah ya?" tanya Keenan.
Mendengar ucapan dari Keenan membuat jantung Thalia seolah berhenti berdetak, dan dengan cepat ia membalikkan badannya dan menatap laki - laki yang ada di sampingnya saat ini. Ingin rasanya Thalia berteriak sekeras mungkin namun mulutnya tak sanggup untuk mengeluarkan suaranya.
"Kenapa sayang? Kau pasti terkejut dan sangat kaget ya? Saat tau, aku bisa masuk kedalam kamarmu?" tanya Keenan menatapnya sambil tersenyum miring.
"Bund-"
Ucapan Thalia langsung terhenti ketika telapak tangan Keenan membungkam mulutnya.
"No! Sekalinya kamu berteriak kau akan tahu akibatnya, sayang." peringat Keenan kemudian langsung menarik tangannya dari mulut Thalia.
Thalia menggeleng - gelengkan kepalanya. "Pe-Pergi dari sini Kak Keenan, hiks...hiks..."
"Aku tidak mau pergi sebelum kamu makan makananmu atau kamu yang mau aku makan?" ucap Keenan kini melirik ke arah pintu dan mendekatkan wajahnya pada wajah Thalia. "Ini belum seberapa, karena aku berharap akan ada malam yang panjang dan panas dimana kau akan menyatakan cintamu padaku dengan sendirinya, Thalia."
"Maksud Kak Keenan apaan sih? Jangan aneh - aneh ya, Kak!"
"Kamu kan udah bilang mau nurut sama Kakak, jadi kamu itu harus selalu nurut sama Kakak. Tapi, kalau kamu masih ngebantah perintah Kakak lagi, jangan salahkan Kakak, kalau malam ini akan jadi malam pertama buat kita. Masih ada pertanyaan lagi, sayang." jawabnya.
"Tidak, tidak. Ini Thalia mau makan. Tapi Kak Keenan jangan macam-macam ya. Aku lagi sakit loh."
"Ah, berarti kalau kamu gak sakit Kakak boleh macam - macam dong?"
"Iya, ya. Kamu makan dulu ya, sayang. Setelah itu minum obatnya. Malam ini Kakak gak bakalan ganggu sayangku yang lagi sakit. Pergunakan malam ini untuk istirahat ya." ucapnya kemudian beranjak pergi dari kamar Thalia.
***
"Pagi, Bunda." sapa Thalia saat masuk ke dapur menemui Bundanya, kemudian Thalia duduk di depan meja dapur sambil melihat Bundanya memasak untuk sarapan pagi.
"Eh, Thalia, sayang. Gimana kondisi kamu sekarang? Apa sudah baikkan?" tanya Vina, saat melihat putrinya itu sudah berada di dapur.
"Ya, Thalia udah agak mendingan, Bund. Walaupun tangan Thalia masih sakit dan agak lemes juga." jawab Thalia.
"Ya syukurlah, sayang. Pokoknya kamu itu harus nurut sama Kakak kamu ya, Thalia. Untung Keenan langsung nolongin kamu. Kalau dia sampai terlambat buat nolongin kamu gimana? Kemarin Bunda khawatir sekali liat kondisi kamu yang terluka seperti itu. Dan hari ini, kalau kamu masih sakit mending gak usah berangkat dulu ya ke sekolah."
"Thalia seperti ini juga karena Kak Keenan, Bund. Coba aja kalau Kak Keenan gak telat jemput Thalia, pasti Thalia gak dapat musibah kaya gini. Dan Thalia kan bisa pulang bareng sama temen Thalia." gerutu Thalia kesal.
"Thalia, kamu jangan bicara seperti itu tentang kakak kamu. Nanti kalau Keenan dengar, yang ada dia itu bakalan marah sama kamu lagi, kamu kok kayaknya seneng banget sih kalau buat Kakak kamu itu marah."
Mendengar ucapan Ibunya, Thalia memutar bola matanya malas. Kemudian, Thalia langsung beranjak berdiri dan meninggalkan dapur untuk segera pergi mandi.
Saat membuka pintu kamarnya Thalia membulatkan matanya saat melihat Kakak tirinya yang baru selesai mandi dengan hanya mengenakan lilitan handuk yang melekat di pinggangnya.
"Kamu pergi kemana aja sih, Sayang. Kakak dari tadi nyariin kamu. Ah, kamu mau coba - coba kabur ya." selidik Keenan dengan muka datarnya pada Thalia.
"Nggak! Siapa juga yang mau kabur. Lagi pula aku juga gak punya banyak uang buat kabur." jawab Thalia dengan ketus tanpa menoleh pada Keenan.
Melihat tingkah Thalia. Keenan pun terkekeh dan langsung berjalan menuju ke arah Thalia. Sedangkan Thalia yang merasakan Kakak tirinya itu berjalan semakin mendekat membuat Thalia memelototkan matanya.
"Kak Keenan mau apa? Jangan dekat - dekat ya?! Mendingan Kak Keenan pakai baju dulu deh." peringat Thalia menoleh pada Keenan dengan memundurkan langkah kakinya.
Keenan menunduk dengan mengamati tubuh sispek nya sendiri sambil tersenyum bangga.
"Hemm. Emangnya kalau aku gak pakai baju kenapa, ada yang salah? Bahkan setelah kita menikah nanti, aku bakalan lebih terbuka dari ini loh?" ucap Keenan sambil menarik tangan Thalia agar Thalia bisa berada di dalam pelukannya.
Thalia meneguk ludahnya susah payah. Ya, sekarang Thalia sangat ketakutan dan yang ada di pikirannya Thalia saat adalah jika Keenan akan berbuat kurang ajar lagi padanya.
"Lepasin, Kak. Aku mau mandi, nanti aku kesiangan lagi, Kak." pinta Thalia agar Kakak tirinya itu mau melepaskan pelukannya.
"Kenapa gak mandi dari tadi, sayang. Kalau tadi kamu mau mandi kan kita bisa mandi bareng." goda Keenan dengan melepaskan satu tangannya dan mengelus puncak rambutnya Thalia.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.