Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Amarah Keenan



Thalia tersenyum samar, entah darimana laki - laki itu tahu kalau Thalia sangat menyukai bunga.


Usai tadi malam Keenan mengajak Thalia pulang kerumahnya dan membelikan beberapa baju ganti untuknya.Kini Keenan sedang mengajak Thalia pergi ke taman bunga yang sangat jauh jaraknya dari ia tinggal. Dan ya, seperti biasanya Kakaknya itu selalu mengancam dirinya agar Thalia mau ikut bersama dengannya. Dan pada akhirnya sampailah mereka berdua di taman bunga.


Thalia masih tak acuh pada laki - laki itu, ia sibuk sendiri membiarkan Keenan mengikutinya.


"Kau suka?" tanya Keenan merangkul pundak Thalia.


"Suka. Aku sangat suka tempat ini, Kak. Tapi sayang, jauh sekali dari rumah. Kalau dekat aku pasti bisa mengajak Bunda," ujar Thalia, entah dia sadar atau tidak berbicara panjang lebar dengan laki - laki yang sangat di bencinya.


Keenan terkekeh, ia mengusap pucuk kepala Thalia saat ini sedang gemasnya.


"Kau bisa kesini setiap hari, Thalia. Atau kau bisa juga mendapatkan taman ini kalau kau mau," ujar Keenan dengan seriusnya.


Thalia menggeleng - gelengkan kepalanya. "Aku tidak mau, Kak. Kalau imbalannya aku harus menjadi istrimu."


Keenan melepaskan rangkulannya pada Thalia saat dia melihat sosok laki - laki yang berdiri di depan sana.


Thalia juga terdiam di tempat, sebelum akhirnya laki - laki itu mendekati Thalia dan menarik tangan Thalia.


"Ayo pulang, sayang. Apa yang kau lakukan dengannya?" Tanya Tristan menarik tangan Thalia.


Ya, Tristan akhirnya bisa menemukan keberadaan putra dan putri tirinya setelah meminta anak buahnya untuk mencari keberadaan mereka berdua. Dan kini Tristan menarik tangan Thalia dan mengajaknya pulang sebelum Keenan balik menariknya.


"Ingat, Pah. Kalau kau itu hanya Papa tiri. Jadi, jangan terlalu posesif pada anak tirimu, Pah!" Ucap Keenan dengan geram.


Bukan hanya itu, kini Keenan sudah merangkul bahu Thalia. Thalia mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah Kakak tirinya yang terlihat sangat marah.


Thalia tahu, kalau sebenarnya mereka berdua mempunyai tujuannya sendiri - sendiri saat ini. Dan Thalia tidak ingin berada di pihak siapapun.


Thalia hendak melepaskan pelukan Keenan, namun semakin erat pula Keenan mendekapnya dan menatapnya dalam - dalam.


"Kak Keenan, aku mau pulang. Lepaskan aku!" Cicit Thalia berusaha melawan.


Keenan menundukkan kepalanya dan tersenyum smirk sebelum akhirnya ia membalikkan badannya dan mengajak Thalia pergi meninggalkan Tristan.


"Papa..!" Pekik Thalia menoleh ke belakang dan menatap Tristan yang hanya diam saja saat ini.


Keenan kini mengajak Thalia masuk kedalam mobilnya. Dan ya, laki - laki itu sedikit mendorong tubuh Thalia.


"Kak Keenan, aku mau pulang sekarang! Aku mau pulang sama Papa?!" Seru Thalia hendak membuka pintu mobilnya sebelum Keenan akhirnya menariknya.


"Tidak Thalia! Lebih baik kamu sekarang diam. Dan jangan banyak berpikir kalau laki - laki yang kamu panggil Papa itu adalah laki - laki yang baik, dia itu picik! Ingat, Papaku itu selalu menghalangi hubungan di antara kita berdua. Apa kau masih tidak mengerti juga, Hah?!" Bentak Keenan kesal.


"No Thalia. No! Because I love you, i love you so much," ucap Kakak tirinya itu dan Thalia menggeleng - gelengkan kepalanya.


"I hate you Kak Keenan! You ear, I HATE YOU!!"


Mendengar ucapan dari Thalia, Keenan semakin marah di buatnya. Keenan menggeram, tanpa memperdulikan ucapan Thalia. Dia langsung menarik paksa tengkuk leher Thalia. Dia mencium kasar bibir Thalia, dia menghisap kuat bibir Thalia. Thalia mendorong kuat dada bidang Keenan.Namun, Keenan tidak memperdulikannya. Keenan terus mencium kasar bibir Thalia. Bahkan tangan Keenan kini sudah meremas dengan kuat gundukan kembar di dada Thalia. Hingga membuat Thalia memekik terkejut.


Thalia jelas melawan, ia terus memukul - mukuli pundak dan dada Kakak tirinya itu hingga perlawanannya terasa sia - sia dan ia hanya diam apa yang sedang Kakak tirinya itu lakukan padanya. Karena semakin Thalia berusaha untuk melepaskan diri, Kakak tirinya itu semakin menciumnya dengan kasar. Hingga akhirnya Thalia pun diam dan membiarkan Kakak tirinya itu mencium bibirnya.


"Jangan pernah lagi memancing amarahku, Thalia! Menurut lah, atau kau akan tahu akibatnya." geram Keenan tatapannya menatap Thalia penuh dengan peringatan.


"Kenapa Kak Keenan? Kenapa kau tidak bertindak dengan adil? Kenapa aku yang harus selalu menurutimu? Dan kenapa kau selalu memaksaku untuk selalu mencintaimu!" Seru Thalia. Dan ya, sebisa mungkin Thalia ingin menahan emosinya. Karena Kakak tirinya itu selalu bertindak seenaknya dan tidak adil padanya. Karena memang Thalia tidak pernah mencintainya.


"Diamlah Thalia! Aku itu tidak pernah peduli dengan berapa banyaknya penolakan yang kau berikan padaku! Kau jangan membuatku marah! Atau kau akan melihat apa yang akan aku lakukan lagi pada temanmu yang bernama Axel itu!" Seru Keenan dengan nada penuh dengan penekanan. Tersirat nada penuh dengan nada ancaman dan peringatan.


"Belum cukupkah Kak Keenan membuat Axel terluka seperti itu. Aku mohon, kau jangan bertindak berlebihan. Dia juga tidak salah apapun. Kenapa kau selalu membawa namanya untuk mengancam ku! Dan jika kau ada masalah denganku, jangan libatkan Axel! Kau ini sudah tua Kak Keenan, tapi kau selalu bersikap kekanak-kanakan."


"Jangan berani membelanya! Kita pulang sekarang!" Keenan mulai menghidupkan mesin mobilnya, dan menginjak rem. Kemudian dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Kau sungguh gila Kak Keenan! Bagaimana kita meninggalkan Papa sendirian di taman ini!" Geram Thalia. Dia melayangkan tatapan tajam pada Kakak tirinya itu.


"Kau bisa pilih, masih ingin ikut dengan Papa pulang atau aku akan memaksamu agar kau mau menikah denganku di hari ini juga," tukas Keenan pandangannya masih menatap kedepan. Dia tidak mengalihkan sedikitpun pandangannya ke arah Thalia. Wajahnya tetap memperlihatkan sikap dingin dan angkuhnya.


"Bagaimana bisa kau selalu mengaturku, Kak Keenan? Apa hakmu selalu mengaturku? Kenapa kau terus - menerus mengancam ku?" Seru Thalia kesal. Dan ya, Thalia benar - benar tidak suka jika Kakak tirinya selalu memaksanya.


"Jika kau tidak lupa, dan otakmu itu masih berfungsi dengan baik. Aku akan mengingatkanmu beberapa kali lagi, jika aku itu berhak mengatur mu karena aku itu mencintaimu dan kau juga sudah setuju dengan peraturan yang aku buat, bukan? Ingat Thalia, aku akan membebaskan mu jika aku sudah merasa bosan denganmu." Tukas Keenan menekankan.


***


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.