
Keenan terkekeh, ia menggeleng - gelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang Thalia katakan.
"Kau belum menjadi istriku dan belum juga hamil anakku, bagaimana bisa kau ingin mati, sayang? Jangan dulu, aku belum puas denganmu. Kau itu, canduku." ucap Keenan dengan sengaja ia pun membuat Thalia ketar - ketir dengan ucapannya.
Thalia menggelengkan kepalanya lagi. "Kau bisa mencari yang lebih dari aku Kak Keenan. Kau itu kaya, dan punya segalanya, untuk apa kau menyukaiku?" seru Thalia.
Tawa renyah terdengar dari bibir Keenan saat ini. "Sayangku, kalau nanti aku memilih wanita lain, nantinya kau itu akan cemburu." ucap Keenan dengan kesombongannya.
"Tidak akan, aku tidak akan cemburu. Silahkan saja, dan aku rasa itu tidak masalah dan aku rasa itu jauh lebih baik."
Seketika mobil Keenan langsung terhenti, dan Keenan kini menoleh ke arah Thalia yang kini mencengkram seatbelt nya kuat saat Kakak tirinya itu mendekatinya.
Tatapannya bukan main, dia benar-benar kesal karena Thalia yang selalu membangkang kepadanya.
Keenan mencengkram erat lengan Thalia dan menatapnya marah.
"Dengar Thalia, kau ada di bawah kekuasaanku. Aku itu bebas menyentuhmu kapan pun aku mau. Tak akan aku biarkan orang lain menyentuhmu walupun seujung kuku. Baru, kalau aku sudah bosan padamu, kau bisa bebas berbuat apapun yang kau mau."
Lagi - lagi Thalia harus mendengarkan kata merendahkan lagi yang di ucapkan oleh Kakak tirinya itu dan Thalia pun harus mati - matian menahan air matanya saat ini. Kini Keenan menyentak tangannya dan kembali melajukan mobilnya.
Suara dering ponsel memecahkan keheningan dan Thalia pun melihat kelayar ponselnya tertera nama Axel mengirimkan pesan kepadanya.
Thalia, apa kabar? Aku ingin memberitahu padamu, kalau besok pagi dokter sudah memperbolehkan aku untuk pulang. Dan aku harap kau bisa datang langsung menjengukku di rumah sakit karena ada hal penting yang ingin aku katakan padamu.
Saat membaca pesan yang di kirimkan oleh Axel, Thalia pun tersenyum tipis, dan Thalia pun membalas pesan yang di kirim oleh Axel tadi.
Thalia : Apa benar besok pagi kau sudah di perbolehkan pulang, El?
Axel : Iya, Thalia. Dan aku berharap kau akan datang ke rumah sakit besok.
Thalia : Tentu aku akan datang, kau tunggu saja. Sepulang sekolah aku pasti akan datang kesana.
Axel: Terimakasih kasih, Thalia.
Setelah membaca pesan terakhir yang di kirimkan oleh Axel Thalia pun sekarang sudah merasa sedikit lega. Karena kondisi Axel yang sudah pulih. Dan beruntungnya Kakak tirinya itu tidak menyadari jika Thalia tadi sedang berkirim pesan dengan Axel. Karena Kakak tirinya itu sedang fokus melajukan mobilnya.
Beberapa menit kemudian Thalia di buat kaget karena ia di bawa ke perusahaan milik Ayah tirinya dan kini Kakak tirinya itu mengajak dirinya masuk kedalam perusahaan .
Cengkraman erat tangan Keenan tidak bisa membuat Thalia bergerak ke mana - mana. Mereka berdua pun masuk kedalam lift pribadi yang selalu di pakai oleh Keenan.
Ting.
Pintu lift terbuka, Thalia dan Keenan pun berjalan keluar dan Keenan sudah melihat Asistennya yang berdiri di depan ruang kerjanya.
"Selamat malam Tuan Keenan dan Nona Thalia." sapa Billy saat Keenan berjalan mendekat ke arahnya.
Keenan hanya menganggukkan kepalanya dan bertanya "Apa kau sudah menyiapkan apa yang aku perintahkan tadi?"
"Sudah Tuan," jawabnya.
"Bagus. Sekarang kau boleh pulang."
"Baik Tuan." jawab Billy. Dan pamit undur diri dari hadapan Keenan dan juga Thalia.
Melihat asistennya itu sudah pergi. Keenan pun mengajak Thalia masuk kedalam ruangannya.
"Cepat makan pizza itu sekarang atau kau yang akan aku makan," ancam Keenan menatapnya nyalang.
Kali ini Thalia hanya diam dan pandangannya kini menatap ruang kerja Kakak tirinya itu yang tampak sangat megah dan luar biasa.
Keenan pun tersenyum tipis dan ia pun peka jika adik tirinya itu sedang memuji dan mengagumi kemegahan ruangan kantornya saat ini. Seketika Keenan kini beranjak dan duduk di samping Thalia.
"Kenapa sayang? Kau pasti sedang memuji ruanganku ini karena megah ya?" tanya Keenan itu sebelum ia mengecup pelipis Thalia.
Thalia menatapnya. "A-Anak?" cicit Thalia.
Keenan mengangguk - anggukan kepalanya. "Iya, cepat atau lambat aku itu akan membuatmu hamil, karena hanya dengan cara itu kau pasti akan mau menikah denganku. Lagi pula, laki - laki mana yang mau menikahi wanita hamil yang tidak jelas asal - usul bayinya." ujar Keenan.
Thalia terdiam, diam - diam tangannya meremat perutnya dan ia menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Selain Kak Keenan menjadikan aku sebagai istrimu, sebenarnya apalagi yang kau inginkan dariku Keenan?"
Keenan dia menatapnya lekat, tangannya pada menangkup pipi Thalia. "Ada satu lagi, sayang. Aku ingin, dengan kau menjadi istriku karena aku itu sangat mencintaimu dan dengan begitu juga, maka aku bisa menolak perjodohan orang tuaku. Karena itu, aku ingin kau secepatnya bisa hamil. Jadi, apa kau sudah paham, sayang?"
Thalia membuang napasnya kasar. "Jangan berlebihan Kak Keenan!" Seru Thalia kesal. Selalu saja Kakak tirinya itu seperti ini. Benar - benar membuatnya sakit kepala mendengar ucapan Kakaknya itu.
"Jangan membantahku, Thalia Ivanka!" Tegas Keenan.
Thalia mencebik. "Kenapa Kak Keenan itu selalu memaksaku terus! Aku tidak suka Kak Keenan bertindak semaunya terus!"
"Aku tidak ingin berdebat denganmu."
"Kamu itu memang sudah gila, Kak. Ah, lebih tepatnya spesies gila yang selalu merugikan diriku!" Maki Tahlia dengan penuh emosi.
Mendengar makian dari Thalia. Keenan pun tidak marah dan sama sekali tidak tersinggung. Dia justru malah tertantang dan begitu gemas dengan apa yang sedang di katakan oleh adik tirinya tadi.
"Oh ya?" tanya Keenan berpura - pura syok saat mendengar ucapan dari adik tirinya itu.
"Dasar gila...,"
"Hm. Aku merasa tersanjung dengan ucapanmu itu, sayang!" Kekeh Keenan yang langsung merengkuh pinggang Thalia.
Sontak saja, membuat Thalia langsung jatuh kedalam pangkuan Keenan.
"Akh...," teriak Keenan begitu terkejut.
Dia merasa begitu bahaya berada di posisi seperti ini. Dan Thalia pun dengan sigap berusaha untuk turun dari pangkuan Keenan, tapi rasanya begitu sulit, karena tangan Kakak tirinya itu sudah mengunci pinggangnya.
"Lepaskan aku, Kak!"
"Semakin kamu memberontak, aku tidak mau melepaskanmu, sayang!"
"Dasar Devil sialan!" Maki Thalia lagi.
"Coba ulangi lagi, kamu tadi bilang apa barusan?" tanya Keenan dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Dasar De-"
"Akkkkh...." jerit Thalia, yang kini posisinya sudah di rubah oleh Keenan.
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.