Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Nasehat Papa



"Bagaimana perasaan kamu sekarang,Thalia? Sudah tidak takut lagi, kan?" tanya Axel. Namun Thalia hanya menganggukkan kepalanya dan tidak lupa tersenyum agar Axel tahu bahwa dirinya kini sudah baik - baik saja. Dan Thalia sadar diri bahwa dirinya itu sudah terlalu banyak menyusahkan Axel.


Axel pun senang melihatnya, melihat ekspresi wajah Thalia yang sudah lebih tenang. "Kalau begitu kita segera temui Papa kamu. Beliau terlihat sangat mengkhawatirkan kamu."


"Apa Papaku sudah tahu mengenai hal ini, El?" tanya Thalia takut - takut.


Axel mengangguk mengiyakan. "Ya, Thalia. Papa kamu ternyata sudah mengetahui perilaku Keenan ke kamu."


Tubuh Thalia seketika menegang. "Bagaimana jika-"


Axel menggenggam tangan Thalia. "Kamu tenang saja, aku yakin Papa kamu tidak akan pernah menyalahkan kamu malahan Papa kamu sangat mengkhawatirkan kamu."


Axel melepaskan genggaman tangannya setelah melihat Thalia kembali tenang dan mulai mengetuk pintu rumah Thalia. Dan Bik Jeje yang membukakan pintu.


"Non Thalia, kenapa bisa seperti ini?" tanya Bik Jeje yang terkejut saat melihat penampilan Thalia yang sangat berantakan.


"Aku gak papa, Bik. Oh ya, dimana Papa dan Bunda." jawab Thalia sambil tersenyum mencoba untuk baik - baik saja.


"Tuan besar sudah menunggu Non Thalia di dalam. Tapi kalau Nyonya besar belum pulang dari acara arisannya." jawabnya.


"Kalau begitu ayo kita masuk, El." ucap Thalia sambil menggenggam tangan Axel lalu masuk kedalam rumahnya.


Setelah sampai di ruang keluarga. Thalia langsung melepaskan tangannya yang sedang di genggam oleh Axel. Ya, Thalia langsung berlari menghampiri Ayah tirinya yang sedang berdiri di depan sana dan setelah sampai di hadapan Ayahnya. Thalia pun langsung memeluknya.


"Papa..." suara Isak tangis Thalia mulai terdengar.


"Sudah, jangan menangis sayang." ujarnya menghapus air mata Thalia. Namun, Thalia semakin terisak. Bukan karena Keenan melainkan karena Ayahnya.


Entah kenapa Thalia merasa di lindungi dan dia juga tidak tahu sejak kapan dia itu dekat dengan Ayah tirinya di bandingkan dengan Ibu kandungnya sendiri yang selalu berpihak pada Keenan.


Dan yang pasti Thalia itu sangat bersyukur karena masih ada orang yang sangat menyayanginya. Dan melindunginya dari perbuatan bejat Keenan.


"Maafkan aku, Pa."


"Ini bukan salah kamu, Tahlia. Berhentilah untuk meminta maaf."


"Tapi..." Thalia tidak mampu lagi untuk melanjutkan kalimatnya dan suaranya teredam oleh tangisannya.


Dan Axel yang melihat Thalia sedang menangis di pelukan Ayahnya membuat dadanya merasa sesak. Dan ya, Thalia seperti itu terjadi karena Keenan.


Axel berjanji, setelah ini akan menjaga Thalia dengan lebih ketat lagi dan dia sama sekali tidak peduli jika nyawanya yang akan menjadi taruhannya.


Axel yang sudah berani memukul Keenan, itu sama saja memulai peperangan di antara mereka berdua. Dan Axel tidak akan pernah menyerah apalagi menyerahkan Thalia kepada Keenan yang menurutnya sudah gila itu. Karena Thalia adalah miliknya.


"Papa, kalau begitu aku izin masuk ke kamar dulu, ya? Aku capek." pamit Thalia setelah mereka bertiga cukup lama saling berbicara di ruang keluarga. Dan sebelum itu, Thalia berterima kasih kepada Axel karena sudah menolongnya.


Saat melihat Thalia sudah masuk kedalam kamarnya, Axel pun izin untuk pulang pada Ayahnya Thalia.


"Kalau begitu aku pamit ya, Om." pamit Axel pada Ayahnya Thalia.


"Ya, hati - hati ya Nak Axel." Dan di balas oleh anggukan kepala dari Axel.Lalu Axel melangkah pergi dari mansion milik keluarga Alexander.


Thalia yang sudah mandi dan mengganti pakaiannya langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan hampir beberapa menit berlalu Thalia masih belum juga bisa tidur.Padahal sebelumnya, Thalia merasa mengantuk dan entah kenapa saat ini sangat susah baginya untuk pergi ke dalam alam mimpi.


Tok! Tok!Tok!


Tubuh Thalia seketika menegang saat mendengar suara ketukan pintu.


"Thalia sayang, ini Papa. Apa kamu sudah tidur?." suara itu terdengar dari balik pintu kamarnya. Dan Thalia pun akhirnya bernafas dengan lega karena ternyata suara ketukan pintu berasal dari Ayahnya. Dan Thalia segera membukakan pintu kamarnya.


"Belum, Pa. Ada apa?"


"Apa Papa boleh masuk."


"Iya boleh." ucap Thalia kemudian Tristan melangkah masuk kedalam kamar Thalia dan duduk di sofa kamar Thalia.


Tristan memandang Thalia khawatir. Tangannya mengelus lembut kepala anaknya dan berkata, "Apa kamu masih takut?"


Dan Thalia hanya membalasnya dengan anggukan kepala.


"A-Apa Kak Keenan sudah pulang kerumah, Pa?" tanya Thalia ragu - ragu dan Thalia berharap di dalam hati agar Kakaknya itu tidak akan pulang kerumah.


"Kamu tenang saja, sayang. Karena mulai malam ini Keenan tidak akan pulang kerumah ini lagi. Itulah hukuman yang Papa berikan pada Kakakmu." jawab Tristan dengan nada yang serius.


Thalia menatap balik ke arah Ayahnya seolah mencari kebohongan di sana. Namun, dia tidak menemukannya. Dan tangannya di genggam oleh Ayahnya.


"Mulai sekarang kamu itu sudah aman. Dan bisa tidur nyenyak sepuasnya." ucap Ayahnya.


"Terima kasih, Pa. Aku juga senang mendengarnya. Tapi kenapa Papa malah menghukum Kak Keenan harusnya kan aku?Dan Kak Keenan juga anak kandungnya Papa bukan aku." ucap Thalia yang sadar diri akan posisinya sambil menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Ayah tirinya itu.


"Papa tidak peduli lagi dengan status Keenan sebagai anak kandungnya Papa. Karena dia sudah membuat Papa sangat kecewa atas perbuatannya kepadamu. Kamu tahu, sayang? Papa sebenarnya sangat malu dan merasa menyesal telah membiarkannya tinggal satu atap denganmu. Dan ya, harusnya Papa itu membiarkan saja jika Keenan tinggal lebih lama di negara E untuk bisa menghapus perasaan gilanya itu padamu."


"Papa.." Thalia mulai mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Ayahnya."Maafkan atas segala perbuatan Kak Keenan. Karena itu semua salahku."


"Tidak, sayang. Papa mohon, berhentilah untuk menyalahkan dirimu sendiri, Thalia. Karena sampai kapanpun Papa tidak akan pernah memaafkan anak itu. Papa sudah terlanjur kecewa padanya."


"Tapi, Pa-"


"Tidurlah, sayang. Besok - besok tidak usah jadi orang yang baik. Sekali - kali kamu itu jadi orang jahat tidak masalah apalagi kalau Kakak kamu akan melakukan hal - hal yang buruk kepadamu. Karena dia memang pantas mendapatkannya." itulah pesan Ayahnya sebelum dia beranjak pergi dari kamar Thalia.


*****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.