Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Tingkah Thalia Yang Sedang Marah



Pemandangan yang indah bagi Keenan, saat pagi - pagi sekali ia di suguhi oleh wanita cantik menawan dari Thalia yang membuatnya enggan beranjak.


Tangannya terulur merapikan rambut Thalia yang menutupi sebagian wajahnya. Laki - laki itu mengusap pipinya sebelum menarik pundak Thalia dalam pelukannya.


"Aku ingin menghentikan waktu saat ini, Thalia. Aku ingin terus seperti ini, berdua denganmu dan bersama denganmu adalah hal yang indah. Kau akan menikah denganku di kemudian hari, dan ada saatnya kau itu tidak bisa mengelak lagi dari apa yang aku minta, Thalia." gumam Keenan.


Keenan melepaskan pelukannya pada Thalia. Ia menatapnya dan mengecup kening dan kedua pipi Thalia sebelum ia bangkit dan menarik selimutnya menutupi tubuh Thalia.


Sorot matanya masih tertuju ke arah Thalia dan tidak pernah beralih barang sedikitpun dari sosok gadis yang meringkuk seperti bayi di sampingnya.


Ya, meski tengah terlelap kecantikan Thalia tidak berkurang sedikitpun. Bahkan gaya tidur seperti ini saja sudah membuat Keenan bergairah dan menahan hasratnya untuk bercinta dengan panas bersama dengan gadisnya.


"Eughhh.." erang Thalia menggeliat karena sedikit terusik dengan gerakan Keenan yang kini sedang mengecupi wajahnya.


Keenan menjauhkan bibirnya lalu tak lama dari itu, Keenan kembali menempelkan bibirnya di pipi Thalia dan cumbuannya turun ke garis rahang. Mengendus sepanjang garis rahang dan berakhir di leher jenjang Thalia yang terpampang begitu menggoda.


Ya, tak mau membuang kesempatan Keenan mendaratkan bibirnya di sana.


"Eughhh..." erang Thalia sekali lagi dan sedetik kemudian matanya di paksa untuk terbuka, karena dia merasakan hal yang aneh seperti benda kenyal yang melahap bibirnya begitu ganas tak terkendalikan. Tentu membuat Thalia kaget dengan mata melotot sempurna mengetahui siapa pelakunya, Keenan. Dan Thalia langsung mendorong tubuh Kakak tirinya itu untuk menjauh darinya. Buru - buru gadis itu bangkit dan membuat jarak antara dirinya dan juga Keenan.


"Mendekatlah.." pinta Keenan dengan suara seraknya.


Thalia mencengkram erat bad cover yang ada di bawahnya. Kepalanya menggeleng cepat sebagai isyarat penolakkan atas permintaan dari Keenan.


"Apa kamu sudah lupa dengan perjanjian kita, hm?" ucapnya membantu Thalia untuk mengingatkan kembali. Ya, jika tidak seperti itu Thalia akan selalu lupa. Buktinya, cukup lihat yang sebelum - sebelumnya saja.


"Cepat mendekat lah pada Kakakmu ini," ujar Keenan yang mengulang kembali perkataannya. Tangan kanannya di ulurkan ke arah Thalia. Meminta Thalia untuk segera menyambutnya.


"Thalia, jangan bikin Kakak mara-" ucapan Keenan terpotong saat Thalia mulai mendekat ke arahnya. "Ah, baguslah. Akhirnya kau sudah mengerti juga." ucapnya saat Thalia semakin mendekat kepadanya.


Keenan menarik tangan Thalia untuk menghapus jarak di antara mereka berdua.


"Lebih baik duduk di sini, deh." pintanya sambil menepuk pahanya yang sudah terbuka lebar.


"Ayo cepetan, sayang." ucap Keenan yang tidak sabaran lalu mengangkat tubuh Thalia untuk segera duduk di pangkuannya.


"Kak Keenan mau apa?" cicit Thalia. Kedua tangan Thalia saling bertautan untuk menepis rasa takutnya saat ini dan kini ia sudah duduk di pangkuan Keenan yang tengah duduk di atas ranjang.


"Memelukmu seperti ini," bisik Keenan sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Thalia dan hal itu membuat bulu kuduk Thalia meremang. Lilitan tangan dan usapan lembut itu kini Thalia rasakan di sekitar perutnya.


Namun, kaki Keenan tidak tinggal diam saja. Ibu jari kaki nya bergerak menyusuri Thalia menghantarkan sensasi aneh pada tubuh gadis itu. Tanpa sadar, tubuh Thalia menggeliat atas sensasi yang di rasakanya sekarang.


"Dan menciummu seperti ini," sambung Keenan menarik kepala Thalia untuk mundur ke belakang.Memberikanya akses untuk menggapai pipi Thalia yang akan menjadi santapannya kali ini.


Thalia diam. Terlalu lemah jika di hadapan Kakak tirinya dan hanya membiarkan Keenan mengecupi pipi berserta bibirnya. Dia yakin kini bibirnya semakin memerah dan membengkak karena Keenan yang selalu memainkannya.


"Manis, Kakak suka." puji Keenan saat merasa cukup mencecap bibir Thalia untuk pagi ini. "Kalau kamu selalu nurut dan tak memberontak kan, Kakak jadi senang." lanjutnya memberitahu.


"Semuanya milik, Kakak. Tidak ada yang berhak mengambil alih milik Kakak terutama si sialann itu!" Ujarnya.


Ya, tanpa di beritahu secara jelas pun. Thalia tahu siapa yang di maksud dengan si sialan itu dan menurutnya yang lebih sialan dari itu adalah Keenan, Kakak tirinya sendiri dan bukannya Axel.


"Kakak hari ini tidak bekerja?" tanya Thalia tiba - tiba mengalihkan pembicaraan Keenan.


"Tidak. Kakak masih mau berlama-lama bersama kamu di sini," ucapnya terdengar sangat manja seraya membenamkan wajahnya di ceruk leher Thalia dan tentu saja hal itu membuat Thalia merasa geli.


"Berhenti, Kak. Aku geli."


"Gak mau, Ah. Kakak sudah enakkan di sini," ujarnya terus menerus membuat Thalia menggeliat kegelian. Juga sapuan napas Keenan membuat tubuhnya langsung meremang seketika.


"Udah, udah, Kak."


Thalia menegakkan kepala Keenan yang semula berada di ceruk lehernya. Mata mereka saling beradu dan dengan gesit, Keenan langsung mencuri ciuman di bibir Thalia. Dan tentu saja hal itu membuat Thalia sangat kesal, memukul dada bidang Keenan bertubi-tubi.


Namun, Keenan hanya tertawa saat melihat tingkah Thalia yang sedang marah. Dan ya, Thalia ternyata masih sama seperti dulu. Mudah sekali marah jika dirinya mengusili nya dan itu sangat menggemaskan di mata Keenan.


"Pipi kamu tambah tembem, sayang. Dan Kakak sangat menyukainya." ucap Keenan sambil mencubit pipi tembem milik Thalia.


"Argghh. Kak Keenan apa - apaan sih? Sakit tau?!" Ucap Thalia kesal. Sambil memukul bahu Kakak tirinya itu.


Namun Keenan tidak memperdulikannya dan mengabaikan pukulan dari Thalia di bahunya Dan kini Keenan menggigit gemas pipi adik tirinya itu hingga meninggalkan bekas gigitan di sana.


"Sekarang dia juga milik Kakak. Dan kamu juga gak boleh nolak kalau Kakak gigit pipi kamu." pinta Keenan.


"Semuanya aja di borong menjadi hal milik Kakak. Percuma juga aku menolak. Aku yakin, pasti Kak Keenan akan bilang aku gak terima kata penolakan, iya kan?"


Keenan tersenyum lalu menganggukkan kepalanya saat mendengarkan ucapan dari Thalia.


"Sabar - sabar, Thalia. Jika kamu ingin terbebas dari jerat singa buas yang ada di hadapanmu ini bersikap baiklah padanya." ucap Thalia di dalam hati sambil meyakinkan dirinya sendiri agar bisa secepatnya terlepas dari kamar hotel yang menyesakkan untuknya.


*****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.