Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Bertemu Mario



Sepulang dari rumah sakit. Thalia tidak langsung pulang kerumahnya dan dia meminta supir pribadinya untuk menurunkannya di restoran.


Apa boleh buat, Thalia sedang tidak ingin pulang kerumah di tambah setelah mendengar ucapan Axel yang membuat dirinya sedih akan di tinggal pergi olehnya. Karena sudah lapar juga, akhirnya Thalia pun akan memesan saja makanan dan makan sendirian di restoran itu.


Sambil menunggu, Thalia pun menikmati suasana restoran itu. Tak terlalu ramai. Memang demikian karena sebab restoran itu cukup elit dan mahal. Dan hanya orang - orang tertentu yang bisa makan di restoran itu.


Tapi kemudian, mata Thalia menangkap kehadiran lelaki menyebalkan yang beberapa hari yang lalu pernah bertemu dengannya di pesta sahabat Kakaknya. Mario!


Mata mereka bertemu. Sudah terlambat bagi Thalia untuk menghindar.


Dan dengan santainya Mario berjalan ke arah meja yang di tempati oleh Thalia.


Jantung Thalia mulai deg - degan aneh lagi. Ia tidak menyukai sensasi perasaan yang membuatnya gugup itu.


"Sendirian, Thalia!" Sapa Mario.


"I- Iya, Kak.."


"Sepertinya kau sedang menunggu seseorang. Atau baru saja di campakkan!" Kata Mario. Mulutnya yang ceplas-ceplos itu mulai lagi. Hal yang kini tidak di sukai oleh Thalia.


"Tidakkah ia memikirkan jika ucapannya itu bisa menyinggung orang lain?"ucap Thalia di dalam hati.


"Saya memang sedang sendirian dan tidak sedang menunggu apapun." balas Thalia.


"Konyol sekali. Restoran ini biasanya untuk pasangan yang akan makan malam!" Sindir Mario.


"Kak Mario juga sendirian kan kesini!" Thalia membalas ucapan itu.


"Oh ya?" balas Mario menyunggingkan senyum brengseknya. Dan jujur saja, wajah Mario jika tersenyum juga tampak kelihatan tampan.


Tak lama kemudian, seorang wanita muda berpenampilan formal datang menghampiri ke arah Mario.


"Selamat malam, Pak. Maaf membuatmu menunggu. Saya pikir bapak sendirian tadi." kata perempuan itu sambil melirik ke arah Thalia.


"Ini sekertaris baruku. Dimana kita akan bicara?" ucap Mario tiba - tiba. Membuat Thalia dan gadis yang berpenampilan formal itu mendengarnya begitu terkejut pasalnya Thalia masih mengenakan seragam sekolah.


"T- Tapi Pak Mario. Bukankah gadis ini masih sekolah. Mana mungkin dia menjadi sekertaris, Pak Mario."


"Kau tenang saja, Sekertaris baruku ini sedang cosplay menjadi anak sekolah."


"Ah, seperti itu. Kalau begitu kita ke ruangan khusus saja. Mari silakan!" Ajak wanita itu.


"Thalia, ikut aku!" Kata Mario semena - mena.


"T- tapi, saya sudah memesan ma-"


"Lupakan pesanan mu!" Kata Mario tidak peduli dengan apa yang sedang di pikirkan oleh Thalia.


"Tapi, Kak-"


"Bantu aku sebentar, Thalia." Ucap Mario berbisik. Dan mau tidak mau akhirnya Thalia pun mengikuti Mario dengan perasaan yang tidak ikhlas. Tampak jelas dari wajahnya yang bersungut-sungut. Rasanya ia ingin sekali mencakar wajah Mario, namun jelas ia tak akan melakukan hal itu.


Sampailah mereka berdua di ruangan restoran itu. Semacam ruangan untuk rapat sebab di sana ada sebuah meja panjang dengan banyak kursi.


Dan wanita yang tadi menemui Mario, Sherly namanya. Mempersilahkan Thalia dan juga Mario untuk duduk.


Mario kemudian meminta Thalia duduk di sebelahnya. Lalu Thalia duduk di sebuah kursi yang di depannya ada laptop yang telah menyala.


Tutup lensa proyektor di buka dan di salah satu dinding putih ruangan itu telah muncul materi presentasi.


"Catat, hal - hal yang menurutmu penting Thalia!" Kata Mario.


"Pak, saya tidak membawa apa-apa dan saya ti-"


Thalia menghela nafas. "Baiklah..." Lalu Thalia yang tampak sedang kesal itu mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi voice to teks agar jari - jarinya itu tak perlu sibuk untuk mengetik.


Sherly mulai presentasi. Ternyata malam itu, Mario datang ke restoran untuk mendengarkan laporan keuangan dan progres restoran.


Maka Thalia menjadi tahu, jika restoran yang bisa di bilang mewah itu adalah milik Mario.


Agak nervous juga saat Thalia mengetahui hal itu, sebab ia sering makan bersama dengan Ibu dan Ayahnya di restoran itu dan ternyata milik Mario, sahabat Kakak tirinya.


Dan sudah hampir satu jam Sherly mempresentasikan dengan cantik dan laporan itu pun selesai.


"Thanks, Sherly. Nanti kau bisa mengirimkan file laporan mu ke emailku dan Dava!" Kata Mario.


"Baik, Pak Mario."


"Sekretaris cantikku ini sudah kelaparan Sherly. Tolong siapkan dinner untuk kami. Aku tunggu di ruangan VVIP!" Pinta Mario.


"Baik, Pak. Akan kami siapkan segera. Menu kesukaan Pak Mario."


"Ya, eksklusif!" Kata Mario.


Thalia pun tidak menyangka jika Mario akhirnya akan mengajaknya makan malam berdua di ruangan VVIP.


"Kak Mario, ini sudah malam. Aku harus pulang." Thalia berusaha untuk menolak.


"Aku tidak suka di tolak, Thalia. Lagi pula kau belum makan!" Kata Mario.


Sejujurnya perut Thalia memang sudah merintih kelaparan sejak tadi. "Baiklah, hanya kali ini saja." ujar Thalia di dalam hati.


Dan Thalia pun kembali berjalan mengikuti Mario menuju ke ruangan VVIP dan suasana di sana jauh lebih indah lagi. Sepi, menghadap ke arah taman dengan penataan depan yang sangat cantik dan di sempurnakan dengan tata cahaya yang sangat elegan.


"Silahkan duduk! Kau mau makan sambil berdiri?" kata Mario yang mendapati Thalia masih berdiri dan belum juga duduk.


"Eh, iya Kak." balas Thalia. Ia pun segera duduk dengan perasaan yang sepenuhnya canggung.


Lepas dari ruang rapat tadi, entah kenapa Thalia kembali di landa gugup. Dan kali ini, sejujurnya kedua telapak tangannya berkeringat ketika ia harus duduk berhadapan dengan Mario dalam suasana makan malam bersama.


"Kau tegang sekali, Thalia! Memangnya kau tidak pernah makan malam berdua bersama dengan orang yang tampan, hum?!" Ledek Mario.


"Dih! Narsis sekali!" Ucap Thalia di dalam hati. Ya, meskipun Thalia akui jika Mario itu tampan namun Thalia tidak mau mengakuinya. Pokoknya di mata Thalia sekarang, lelaki itu adalah orang brengsek sama seperti Kakak tirinya.


"Itu, mungkin karena saya terlambat makan." ucap Thalia beralasan.


"Dalam situasi seperti ini, kau tidak perlu bersikap formal kepadaku! Aku tahu, kau pasti sangat penasaran denganku. Jadi, kau boleh bertanya apapun padaku. Lebih baik kau bertanya langsung padaku daripada kau nanti bertanya kepada, Keenan!" Kata Mario.


"Ih.., siapa yang juga penasaran! Gak Kak Keenan, gak sahabatnya mereka berdua kumpulan spesies manusia aneh!" Ucap Thalia membantah di dalam hati.


*****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.