Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Hasil Laporan



Tok... Tok... Tok


"Masuk..." sahut Keenan yang sedang fokus pada laptop di kantornya, tanpa terusik oleh suara ketukan pintu.


Terlihat seorang pria memasuki ruangan itu. Ia melangkah dan berhenti di sebrang meja kerja Keenan.


"Maafkan saya jika menganggu waktu berharga anda. Kedatangan saya kemari untuk memberikan laporan mengenai informasi Nona Thalia Ivanka yang terlihat memasuki ruangan dokter yang berada di rumah sakit kota," ujar pria itu.


"Baiklah, Bian. Langsung katakan saja semua yang kau ketahui. Aku harap, laporanmu tidak akan mengecewakanku." sahut Keenan tanpa mengalihkan pandangannya kepada Bian.


Bian terlihat menghelat nafasnya sejenak. Ia kemudian mengeluarkan sebuah map yang berwarna coklat yang kemudian ia letakkan di meja Keenan. Bian kemudian menjelaskan informasi perihal mengenai Thalia yang sedang berada di rumah sakit, adalah kebohongan semata.


"Apa hanya itu saja laporanmu, Bian? Jika ia, segera enyahlah dari ruanganku." ucap Keenan dengan tajam.


"Maaf Tuan, tapi saya belum selesai memberikan laporannya.Memang benar, jika tidak ada nama Nona Thalia Ivanka di daftar pengunjung, tapi saya menemukan nama yang mencurigakan di buku itu." ujar Bian.


Keenan yang kini mulai tertarik dengan perkataan Bian, langsung menghentikan tangannya yang sedari tadi asyik menari di atas keyboard. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Bian seraya mengerutkan dahinya.


"Saya menemukan nama Nyonya Abella Pratama di daftar nama tersebut. Bukankah ini mencurigakan, mengingat Tuan dan Nyonya Pratama saat ini masih berada di Negara A. Sedangkan kedua putra mereka yang bernama Logan dan Angga juga belum ada yang menikah." sambung Bian.


Keenan tengah mencerna kata - kata yang keluar dari mulut Bian. Abella Pratama? Logan dan Angga? Entah kenapa nama - nama itu, Keenan sepertinya pernah mendengar nama itu.


"Bukankah Logan Pratama itu CEO yang pernah menolak kerja sama dengan perusahaanku. Lantas apa hubungannya dengan adik tiriku?" tanya Keenan.


"Apakah Tuan masih ingat, bahwa Nona Thalia juga pernah beberapa kali bertemu dengan Tuan Angga Pratama adik dari Tuan Logan Pratama. Bukankah ini semakin mencurigakan, Tuan." sahut Bian yang mencoba untuk meyakinkan Tuannya.


Memang benar apa yang di katakan oleh Bian, ini terlalu mencurigakan. Jika adik dari Logan merupakan dalang di balik kaburnya Thalia, tentu saja ini akan menjadi masuk akal. Mengingat Thalia tidak mungkin mampu membuat rencana yang sebersih ini, tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Di tambah lagi dengan hilangnya Thalia yang sudah hampir satu bulan, bak lenyap di telan bumi.


"Kalau begitu, kau selidiki orang itu.Kemudian laporkan semua informasi yang kau dapatkan langsung pada diriku. Kau bisa pergi sekarang." ujar Keenan di ikuti keluarnya Bian dari ruangan Keenan.


"Hmm. Keluarga Pratama ya." gumam Keenan mengepalkan tangannya dengan kuat.


***


Cahaya matahari masuk menembus celah tirai, yang berakhir tepat di kelopak mata Thalia. Dan dengan perlahan kelopak mata itu terbuka, menampilkan manik mata coklat yang menawan dari sang pemilik. Di lihatnya sebuah lengan yang terlihat kekar, tengah melingkar dengan nyaman di pinggangnya.


Dengan perlahan, Thalia menyingkirkan lengan tersebut agar tidak menganggu waktu tidur Angga yang berharga. Namun, baru saja ia hendak berdiri, tiba - tiba sebuah lengan kekar melingkar di pinggangnya.


Thalia pun membalikkan badannya ke arah Angga, dan mendapati pria itu tengah menatapnya dengan matanya yang masih terlihat menahan kantuk.


"Ini masih pagi, sayang. Ayo kita tidur lagi." gumam Angga dengan sebelah tangan yang tengah mengucek matanya.


"Tidak. Ini sudah siang, Angga. Lihatlah, cahaya matahari saja sudah terasa panas di kulit. Lagi pula, bukankah kau akan berangkat ke klinik siang ini." sahut Thalia yang berusaha untuk melepaskan lilitan lengan Angga.


"Aku berangkat nanti pukul sebelas." ujar Angga yang malah menenggelamkan tubuhnya dalam selimut.


Dan Thalia hanya bisa menghela nafas pasrah melihat tingkah kekasihnya itu. Ia kemudian melangkah menuju ke arah pintu kaca, dan langsung menyibakkan tirai hingga membuat kamar itu berubah menjadi terang.


Ia lalu membalikkan badannya ke arah Angga yang masih asyik bergelung dengan selimutnya dan dengan cepat, Thalia langsung menarik selimut itu, yang membuat Angga langsung terbangun karena dinginnya hawa AC itu.


"Bangun. Setelah itu mandi. Dan aku akan membantu Bik Nila menyiapkan sarapan untuk kita." ujar Thalia pada Angga yang kini duduk di tepian ranjang.


Belum sempat ia melangkah meninggalkan kamar. Angga lebih dulu menarik tangannya. Angga kemudian mengusap pelan perut Thalia dan kemudian mengecupnya dengan penuh kasih sayang."


"Selamat pagi anak - anak Daddy." gumamnya yang membuat pipi Thalia langsung memerah.


***


"Aku mau ikut." sahut Thalia yang masih menggelayuti lengan Angga


Sudah lebih dari sepuluh menit Angga terus membujuk Thalia. Biasanya, hanya di bujuk dengan makanan, Thalia akan mudah luluh. Tapi entah kenapa dia menjadi keras kepala sekali.


"Ayolah, sayang. Hanya sebentar saja kok. Lagi pula kau pasti akan bosan jika hanya menunggu di ruanganku terus," bujuk Angga yang sepertinya di hiraukan oleh Thalia.


Angga pun kembali memutar otaknya, memikirkan cara agar terlepas dari Thalia, hingga akhirnya ia menemukan satu ide yang sepertinya akan berhasil untuk membujuk Thalia.


"Bagaimana jika seperti ini. Kalau kau mau menuruti permintaanku kali ini, aku berjanji akan membawamu untuk mengunjungi pasar malam yang berada tidak jauh dari sini. Bagaimana? Apa kau setuju?" tanya Angga memberikan penawaran.


"Tapi-"


Belum selesai Thalia menyelesaikan ucapannya, Angga langsung memotongnya. "Iya, atau tidak sama sekali." ujar Angga dengan tegas.


Raut wajah Thalia seketika berubah menjadi sedih.Dan dengan terpaksa Thalia menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia setuju dengan penawaran Angga, padahal ia hanya ingin ikut dengan Angga. Tapi sepertinya Angga benar - benar tidak ingin jika Thalia mengikutinya.


Cup... Cup...


Angga mengecup kening dan perut Thalia yang masih memasang wajah cemberutnya.


"Baiklah, sayang. Aku berangkat dulu. Jaga dirimu," ujar Angga yang langsung masuk ke belakang kursi mobilnya.


***


Hari ini Angga berangkat ke klinik dengan menggunakan sopir pribadinya yang bernama Hardi. Hardi bilang jika mobilnya sudah harus di service di bengkel. Maka dari itu, setelah mengantar Angga, mobil itu akan langsung di bawa ke bengkel.


"Hardi, lihatlah. Bukankah mobil hitam yang ada di belakang sepertinya terus mengikuti kita sejak empat hari yang lalu." ucap Angga yang menatap ke arah kaca spion mobilnya.


"Benar, Tuan. Menurut mata - mata yang telah Tuan Logan turunkan, mobil itu sepertinya milik salah satu anak buah dari Tuan Keenan Alexander. Sepertinya mereka sudah mulai mencurigai anda, terkait hilangnya Nona Thalia Ivanka." jelas Hardi.


"Hebat juga, Keenan. Sampai bisa mencurigai ku yang pada dasarnya tak pernah berurusan dengan Alexander." balas Angga tersenyum tipis.


Dan inilah salah satu alasan Angga yang selalu melarang Thalia untuk ikut Klinik. Karena akhir - akhir ini Angga sadar jika dirinya sudah di ikuti oleh seseorang, merasa harus menyembunyikan Thalia agar keberadaannya tidak bisa di endus lagi oleh anak buah Keenan.


"Hardi, tunjukanlah keahlianmu dalam menyetir. Bukankah kau itu sangat ahli dalam melarikan diri dengan menggunakan mobil. Kau tahu, kan? Aku tidak suka melihat para pasienku menunggu. Jadi, kuserahkan semuanya padamu." pinta Angga.


"Baik, Tuan." sahut Angga yang kemudian langsung menancapkan gasnya membelah jalanan kota.


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....