
Sudah setengah jam berlalu sejak kedatangannya di taman hotel itu. Namun, belum terlihat juga akan tanda - tanda kehadiran dari Angga yang mencarinya. Ya, sepertinya Angga tengah sibuk berbincang-bincang dengan teman - temannya dan berakhir melupakan eksistensi Thalia. Rambut dan bajunya juga sudah mulai terasa lembab setelah ke gerimisan selama setengah jam. Terlihat kulit putihnya mulai menggigil kedinginan. Namun Thalia sepertinya masih mengabaikan kondisi tubuhnya itu.
"Thalia!!" Sebuah teriakan tiba - tiba menyadarkan Thalia dari lamunannya.
Ia lalu menengok ke arah belakang dan menemukan Angga yang kini tengah menatapnya dengan nafasnya yang terlihat tak beraturan. Angga kemudian melangkah mendekati ke arah Thalia yang masih terdiam menatapnya.
"Astaga, aku mencari mu kemana - mana sejak tadi. Kalau kamu mau pergi harusnya bilang padaku. Kau membuatku khawatir saja."
Angga lalu meraih sebelah tangan Thalia dan langsung menariknya perlahan. "Ayo kita masuk lagi. Udara malam tidak baik untuk wanita hamil sepertimu, Thalia. Lihatlah, badanmu saja sudah menggigil kedinginan seperti ini."
Bukannya mengikuti langkah Angga, Thalia malah menyentak tangan Angga hingga terlepas dari lengannya. Ia lalu memundurkan tubuhnya beberapa langkah, seolah sedang menjaga jarak dengan Angga.
"Ada apa, sayang? Apa ada seseorang yang sudah menyakitimu?" tanya Angga yang mencoba untuk meraih kembali lengan Thalia.
"Aku tidak mau masuk lagi ke acara reuni mu itu. Aku ingin pulang!" Putus Thalia.
Thalia memundurkan lengannya yang hendak di sentuh oleh Angga. Tentu saja hal itu membuat Angga terkejut bukan main. Ia merasa begitu aneh saat Thalia menolak sentuhannya, seakan tangan Angga adalah sebuah kotoran yang harus di hindari.
"Kau sebenernya kenapa, sayang? Jika ada masalah kau bisa langsung ceritakan kepadaku?" pinta Angga dengan nada suara yang begitu lirih.
"Sudah aku bilang, aku ingin pulang!" Sentak Thalia.
"Baik. Baiklah. Kita akan pulang sekarang ya." putus Angga yang kemudian memandu jalan Thalia menuju ke tempat mobilnya yang terparkir.
***
Selama di perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam itu, tak terjadi percakapan apapun di dalam mobil. Ya, Thalia seakan sedang menghindari Angga kali ini. Bahkan sejak awal masuk kedalam mobil, tak sekalipun Thalia menolehkan wajahnya kepada Angga, karena sedari tadi, ia malah asyik melihat pemandangan malam lewat kaca jendela mobil itu.
Sedangkan Angga sebenarnya sedang menahan diri untuk tidak membordir Thalia, dengan banyaknya sekali pertanyaan yang melintas di kepalanya. Ia pun tahu, saat ini bukanlah saat yang tepat untuk melakukan hal itu. Dan Angga pun paham jika Thalia masih memerlukan waktu untuk menenangkan diri terlebih dahulu.
Setelah mobil benar - benar berhenti di depan halaman villa. Thalia pun langsung turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam villa tanpa menunggu Angga. Ya, Thalia langsung melangkah dengan cepat menuju ke arah kamarnya bersama Angga.
Dan Angga yang baru sampai di kamarnya kini melihat Thalia yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah berganti pakaian dan menghapus make up-nya.
"Sayang, apa kau tidak ingin makan lebih dulu? Bukankah tadi di acara reuni itu kau belum makan apapun?" ujar Angga.
Namun yang terjadi adalah Thalia lagi - lagi mengabaikan ucapan dari Angga. Ia bahkan hanya melewati Angga menuju ke arah ranjang tanpa berniat melirik ke arah Angga. Dan Thalia pun langsung berbaring di atas ranjang kamarnya sambil menarik sebuah selimut tebal hingga menutupi tubuhnya sampai ke dagu.
Angga kembali menghela nafasnya sejenak. Ia lalu melangkah mendekat menghampiri Thalia, dan membungkukkan badannya untuk mengecup sejenak dahi Thalia.
"Selamat malam, sayang." ucap Angga sambil mematikan lampu kamar dan bergegas keluar menuju ke arah ruang kerjanya.
***
Angga memijat pelan sedikit dahinya yang terasa agak pening, dan sesekali matanya terpejam menahan kantuk yang mulai datang menyerangnya. Angga pun kemudian melirik ke arah jam digital yang berada di atas meja kerjanya.
"Hmmm. Pantas saja sudah jam setengah tiga pagi rupanya." gumam Angga saat melihat jam digital yang ada di meja kerjanya.
Angga lalu melirik ke arah kopi dingin di cangkir yang masih tersisa separuh. Dan dengan cepat ia menghabiskan cangkir kopi itu, dan langsung melangkah meninggalkan ruang kerjanya.
Krieet
Dan dengan perlahan ia mulai membuka pintu kamarnya. Ya, jika Angga membuka pintu kamarnya terlalu keras ia takut akan membangunkan Thalia dari tidurnya.
Angga kemudian berjalan mendekati Thalia dan berhenti satu meter darinya. Dan nampak Thalia masih tertidur dengan nyenyak nya dengan suara dengkuran halusnya dan pipi yang tampak memerah. Angga pun membalikkan badannya untuk bersiap mengganti pakaiannya.
"Tunggu dulu. Memerah?" gumam Angga seorang diri.
Dengan cepat Angga membalikkan badannya dan melangkah dengan cepat ke arah Thalia. Ia kemudian langsung menempelkan punggung tangan kirinya pada dahi Thalia yang tampak lembab akibat keringat.
"Astaga, panas sekali." pekik Angga.
Kemudian, Angga yang tampak panik pun langsung membuka laci nakas di samping tempat tidurnya. Ia lalu langsung mencari termometer dan langsung memasang ujung termometer pada dahi Thalia.
Tiit.
Setelah menunggu kurang dari satu menit, akhirnya alat termometer itu menunjukkan hasilnya.
"38,9°C! Gawat. Aku harus segera membawa Thalia ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang lebih lanjut." gumam Angga seorang diri lagi.
Dan dengan cepat Angga pun langsung meraih kunci mobilnya, dan langsung membopong tubuh Thalia sembari berlari menuju ke arah mobilnya. Dengan susah payah, Angga pun berhasil membuka pintu tengah mobilnya dan langsung membaringkan tubuh Thalia pada kursi mobil yang memajang itu. Tak lupa juga Angga memasangkan Thalia sabuk pengaman agar Thalia tidak terjatuh.
Setelah itu, Angga pun langsung masuk ke dalam mobil dan langsung menjalankan mobilnya meninggalkan villa dan tanpa memperdulikan lampu merah atau kendaraan yang lain sedang mengikuti mobilnya dari belakang. Karena yang Angga lakukan hanya ingin terus memacu mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi agar segera sampai di rumah sakit.
"Thalia, ku mohon bertahanlah..." gumam Angga yang tampak panik.
Perjalanan yang seharusnya di tempuh dalam waktu dua puluh lima menit, dapat Angga lalui dalam waktu lima belas menit saja. Dan mobil Angga pun sudah terparkir di depan ruang UGD Rumah Sakit. Ia pun kemudian langsung turun dan berteriak memanggil petugas kesehatan yang berjaga.
Dengan cepat Angga pun langsung membopong tubuh Thalia dan langsung berlari kedalam rumah sakit itu. Terlihat dua orang perawat yang kini menghampiri Angga dan langsung menuntunnya untuk masuk kedalam ruang UGD. Dan dengan hati - hati Angga pun meletakkan tubuh panas Thalia keranjang yang ada di ruangan UGD itu.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....