
"Tumben kamu ke ruangan Papa. Punya nyali berapa kamu?" tanya Tristan pada putranya. Ya, Keenan yang secara tiba - tiba masuk kedalam ruangannya tanpa adanya perjanjian terlebih dahulu.
Dan kini Keenan melirik Ayahnya dengan angkuh duduk di kursi kekuasaannya. Pria itu terus menatap ke arahnya dengan tatapan tidak sukanya. Dan Keenan tidak mempermasalahkan tentang itu. Tanpa di minta Keenan sudah langsung duduk tenang di sofa. Dimana sekarang posisinya sudah langsung mengarah ke Ayahnya.
"Ada apa repot - repot menemui Papamu di sini? Bukankah kita bisa membicarakannya di rumah, atau kamu ingin membuat malu dirimu sendiri?"
Mendengar hal itu, membuat Keenan terkekeh geli.Ya, Keenan merasa Ayahnya itu seperti sedang melawak. Atau Ayahnya itu sudah lupa telah membuang anaknya dan tidak membiarkannya untuk menginjakkan kakinya di rumahnya lagi.
"Dasar pelupa." ucap Keenan di dalam hati.
"Katakan saja. Papa terlalu sibuk untuk menunggu."
"Aku pikir Papa perlu waktu untuk menyiapkan diri. Tapi ternyata Papa tidak sabaran menunggu kabar terbaru dan terhangat dariku." kata Keenan tersenyum lebar layaknya tidak memiliki beban yang di pikulnya.
"Katakan saja, atau tidak sama sekali."
"Tenang. Tenang dulu. Kalau Papa terus - menerus seperti ini. Bisa - bisa Papa terkena serangan jantung secara mendadak, kan tidak seru. Papa bahkan belum menimang seorang cucu loh."
"Cucu?" ulang Tristan di dalam hati dengan kening mengerut. Mencoba untuk mencerna ucapan dari putranya itu. Lalu membulatkan matanya.
"Jangan bilang kamu-"
"Ah, tepat sekali. Apa yang akan Papa katakan itu. Papa tahu, putra kebanggaan Papa ini telah berhasil meniduri adik tirinya sendiri." ucap Keenan yang berbangga hati.
"Apa yang kamu bilang, huh?!"
Keenan menyunggingkan bibirnya ke atas, dan mendekat ke arah Ayahnya. Ingin memberitahukan lebih jelas agar Ayahnya itu tidak lagi bertanya - tanya lagi dan itu sungguh membuatnya sangat kesal. Jika harus mengulangi ucapannya lagi.
"Papa tahu. Tadi malam aku sudah merenggut kesucian adik tiriku itu. Dan aku rasa, sebentar lagi Thalia akan segera mengandung anakku." jelas Keenan kepada Ayahnya.
"Apa? Kamu memang sudah gila Keenan!"
"Well, aku rasa memang iya. Dan asalkan Papa tahu, tadi malam Thalia itu begitu agresif. Aku sangat menyukainya dan-"
BUGH
"Brengsek kamu Keenan!"
Seketika tubuh Keenan terhuyung ke belakang dan berakhir mengenaskan di atas lantai saat mendapatkan pukulan keras dari Ayahnya secara tiba-tiba itu hingga mengenai rahangnya. Dan kepalanya tidak sengaja menghantam ujung meja yang ada di samping dan tentu saja itu berhasil membuat kepala Keenan merasa pening. Laki - laki itu menggelengkan kepalanya cepat, lalu bangkit berdiri menantang Ayahnya.
"Gila! Kamu benar - benar sudah gila! Bisa - bisanya kamu itu memperkosa adik tirimu sendiri, huh?!" Murka Tristan pada putranya. Ya, Tristan begitu menyesali keputusannya untuk mengizinkan putranya itu kembali dari negara E. Sungguh dia benar-benar sangat menyesalinya.
"Semua sudah terjadi, Papa." kata Keenan yang kini begitu santai. Dan ya, Keenan juga masih bisa tersenyum di sela - sela kemurkaan sang Ayahnya dan menghiraukan rasa sakit di kepalanya.
"Lalu? Bagaimana dengan masa depan Thalia, Ken? Kamu bahkan hanya memikirkan nafsu besarmu saja. Dan bagaimana aku harus menjelaskan semua ini pada istriku?"
"Kami akan melangsungkan pernikahan secepat mungkin? Untuk Bunda Vina biar aku yang akan menjelaskannya nanti."
"Menikah? Kamu tidak mikir apa, kalau Thalia itu masih sekolah!"
"Bukannya sebentar lagi Thalia akan lulus? Jadi, aku rasa Thalia juga tidak akan keberatan jika kita menikah lebih dulu."
"Sampai kapanpun Papa tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Dan jangan berharap kamu mendapatkan restu dari Papa."
"Harus berapa kali aku katakan. Kami itu tidak butuh restu dari Papa atau siapapun itu."
"Kamu memang sudah gila! Papa tidak habis pikir bisa mempunyai anak gila seperti dirimu. Akal sehat kamu sudah tidak ada! Dan otak kamu isinya hanya nafsu semata! Kamu bahkan sangat egois tidak memikirkan keadaan Thalia."
"Apa? Egois? Bukankah Papa juga egois? Papa bahkan ingin menjodohkan Thalia dengan laki - laki yang Thalia tidak cintai."
"Semua yang Papa lakukan itu demi kebaikan Thalia. Papa membuat perjodohan itu untuk Thalia agar kau bisa melupakan cintamu pada adik tirimu sendiri. Tapi kamu terus - menerus menganggu hidupnya!"
"Tenang, Pa. Tenangkan dirimu. Seharusnya hal seperti ini tidak usah pakai perasaaan.Bukannya kenapa, aku hanya tidak ingin bertanggung jawab jika setelah mendengar penjelasan dari ku Papa itu di bawa kerumah sakit, hahahaha.... Papa tahu, gini - gini aku masih punya rasa belas kasihan sama Papa loh."
"Psikopat!" Teriak Ayahnya begitu menohok di dadanya.
"Kalau begitu aku pamit dulu. Tidak baik meninggalkan pekerjaanku terlalu lama." pamit Keenan lengkap dengan kekehannya.
"Pergilah."
"Baiklah, terima kasih atas waktu luangnya." Setelah mengatakan itu, Keenan langsung keluar dari ruangan Ayahnya. Dan dia sengaja berhenti di balik pintu karena hanya ingin mendengar kemurkaan Ayahnya di dalam sana.
"Tuan Keenan." Billy asisten Keenan menundukkan kepalanya kala melihat Keenan baru saja melangkah keluar dari ruangan Tuan besarnya.
"Kau di sini?" Keenan mengalihkan pandangannya menatap Billy yang ada di hadapannya.
"Tuan, saya sudah mendapatkan informasi yang anda inginkan mengenai Tuan muda Axel Dirgantara," ujar Billy memberitahu.
Keenan mengangguk singkat. "Kita bicara di ruang kerjaku."
Kini Keenan melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya, bersamaan dengan Billy yang mengikutinya dari belakang.
"Apa yang kau dapatkan tentang laki - laki sialan itu?" tanya dingin Keenan, saat dia dan Billy sudah tiba di ruang kerjanya. Keenan kini duduk di kursi kebesarannya seraya mengambil wine yang berada di atas meja dan di sesapnya perlahan.
Ya, beberapa hari ini Keenan memang meminta asisten pribadinya untuk mencari tahu informasi tentang Axel Dirgantara. Lebih tepatnya Keenan hanya penasaran dengan sosok laki - laki yang akan di jodohkan dengan adik tirinya itu.
"Tuan muda Axel Dirgantara adalah anak kedua dari Viktor Dirgantara dan juga Giselle Dirgantara. Saat ini, usia Tuan muda baru berusia 18 tahun. Dia juga bersekolah sama dengan Nona Thalia, Tuan."
Keenan meletakkan gelas sloki di tangannya di atas meja. Dan mengetuk pelan meja kerjanya dengan jemarinya "Apa dia tidak memiliki catatan kriminal maksudku catatan buruk tentangnya."
"Sama sekali tidak ada, Tuan."
"Ah, Sial! Kau boleh pergi sekarang,"
"Baik Tuan."
***
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.