Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Keadaan Thalia



Dengan cepat Angga pun langsung membopong tubuh Thalia dan langsung berlari kedalam rumah sakit itu. Terlihat dua orang perawat yang kini menghampiri Angga dan langsung menuntunnya untuk masuk kedalam ruang UGD. Dan dengan hati - hati Angga pun meletakkan tubuh panas Thalia keranjang yang ada di ruangan UGD itu.


Tak sampai satu menit berselang, seorang dokter perempuan datang dan langsung mendekat ke arah Thalia yang masih terbaring lemas. Dan terlihat dokter itu langsung memeriksa Thalia, mulai dari mata hingga denyut jantungnya.


"Maaf, Pak. Tapi anda harus keluar. Ini adalah prosedur dari rumah sakit kami." ucap salah satu perawat laki - laki yang langsung mendorong pelan bahu Angga, agar mau keluar dari ruangan UGD itu.


Sedangkan Angga yang sama - sama bekerja di bidang kesehatan, tentu saja tahu tentang prosedur itu. Dan dengan berat hati, ia melangkah keluar dari ruangan itu dan,


Bug!


Dengan keras, Angga tiba - tiba saja langsung menonjok tembok rumah sakit itu. Ia pun nampak tak peduli dengan ruas jarinya yang mulai mengeluarkan darah. Karena yang tengah ia pikirkan saat ini adalah keadaannya Thalia dan kandungannya.


"Sial!" Geram Angga pada dirinya sendiri.


***


Sepuluh menit menunggu dan belum ada juga tanda - tanda dokter beserta perawat itu akan keluar. Dan ya, posisi Angga saat ini sedang berjongkok di dekat pintu UGD sembari menenggelamkan kepalanya pada lipatan tangannya. Dan ya, ia sebenarnya sangat risau menunggu kabar dari Thalia.


Krieet!


Pintu ruangan UGD terbuka dan menampilkan dokter yang baru saja selesai memeriksa Thalia, dan dengan cepat Angga langsung berdiri dan melangkah sampai di hadapan dokter itu.


"Dengan keluarga pasien?" tanya dokter yang ber name tag Gisel itu untuk memastikan.


"Benar, Dok. Saya adalah keluarga pasien yang ada di dalam ruangan itu," sahut Angga dengan raut wajah yang terlihat tegang.


"Mari, ikut ke ruangan saya." ujar dokter Gisel seraya memandu jalan untuk Angga.


Dan begitu sampai di ruangan itu, dokter Gisel langsung mempersilahkan Angga untuk duduk di hadapannya. Terlihat dokter itu melepas stetoskop yang masih menggantung di lehernya.


"Saya akan langsung saja memberitahu. Sepertinya pasien mengalami gejala tifus. Di lihat dari lidahnya yang berwarna putih, demam tinggi bahkan tadi pasien sempat mengalami mual saat di ruangan pemeriksaan tadi. Dan sepertinya mual itu tidak di sebabkan karena kehamilannya. Namun, untuk lebih memastikannya kita akan menunggu lebih dulu hasil dari lab." jelas dokter Gisel.


"Lalu bagaimana dengan kandungannya, Dok?" tanya Angga.


"Syukurlah, kandungannya baik - baik saja. Untung saja anda bisa dengan cepat membawa pasien ke rumah sakit, sehingga kami bisa cepat-cepat menangani." jelas dokter Gisel lagi.


Raut wajah panik Angga seketika langsung berubah menjadi raut wajah yang tampak lega. Ia pun bersyukur dapat membawa Thalia dengan cepat ke rumah sakit. Padahal, saat berada di villa tadi, dia sempat berpikir untuk merawat Thalia di rumahnya sendiri.


"Untuk selanjutnya Nona Thalia, di sarankan untuk melakukan bed rest terlebih dahulu, selama kurang lebih satu minggu. Dan untuk kegiatan bed rest sendiri itu terserah, ingin dilakukan di rumah sakit atau melakukan rawat jalan," ujar dokter Gisel yang memberikan pilihan kepada Angga.


Dan tanpa banyak membuang waktu. Angga pun langsung memilih untuk melakukan bed rest di rumah sakit saja. Mengingat jika Angga dan Bik Nila juga tidak memungkinkan untuk menjaga Thalia selama dua puluh empat jam.


Begitu selesai berkonsultasi dengan dokter Gisel, Angga langsung mengurus berkas dan membayar biaya perawatan rumah sakit, Thalia yang belum selesai. Dan begitu semuanya telah beres dan Thalia pun sudah di pindahkan ke ruang rawat VVIP. Angga pun langsung melangkah memasuki ruang rawat VVIP milik Thalia itu.


"Maaf, karena aku telah gagal menjagamu, sayang." gumam Angga yang merasa menyesal melihat kondisi Thalia sekarang.


Terlihat Angga tengah duduk di sebuah kursi yang berada di sebelah kanan ranjang Thalia. Angga meraih dengan pelan punggung tangan kanan Thalia, kemudian mengecupnya pelan pada kain kasa yang menahan jarum infus itu.


"Sudah hampir pukul setengah empat pagi, rupanya. Aku harus bergegas pulang untuk membawakan pakaian ganti untuk Thalia, sebelum dia bangun. Tapi dimana para perawat ya?" gumam Angga.


Tak lama setelah itu, Angga pun langsung melangkah keluar dari ruang rawat VVIP milik Thalia. Namun, masih tak nampak keberadaan seorang perawat yang tengah lewat. Dan dengan terpaksa, Angga melangkah pergi kebagian receptionis untuk menitipkan Thalia kepada salah satu perawat yang tengah mengobrol di sana.


"Permisi," ucap Angga yang memotong pembicaraan mereka.


"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya salah seorang perawat yang ber name tag Aliya tersebut.


"Saya ingin menitipkan kekasih saya, yang berada di ruang perawatan VVIP kamar 108. Karena saya harus pulang lebih dulu untuk mengambil baju ganti untuknya. Mengingat tadi saya datang ke rumah sakit dengan keadaan panik dan terburu - buru, sehingga saya lupa untuk membawa keperluan itu." ujar Angga dengan begitu sopan.


"Saya tidak masalah untuk menjaganya. Tapi shift malam saya, akan berkahir pada pukul tujuh pagi, bagaimana?" tanya perawat itu memastikan.


"Tak apa, saya akan memastikan kembali pada pukul enam pagi. Sekali lagi terima kasih." ucap Angga pada perawat yang ber name tag Aliya itu.


Begitu mendapatkan respon dari perawat itu, Angga pun langsung bergegas menuju ke arah mobilnya yang masih terparkir di halaman rumah sakit.


Dan dengan cepat ia memacu mobilnya menuju ke villa, tanpa menyadari ada seseorang yang mengintainya di dalam mobil tidak jauh dari Angga yang memarkirkan mobilnya tadi.


***


"Tuan, sepertinya dia telah pergi." ujar seseorang yang duduk di depan kursi pengemudi, kepada Tuannya yang duduk di kursi belakang mobil.


"Billy, kau tunggu saja di sini. Jika dia tiba - tiba kembali, segera hubungi aku!" Perintah Keenan pada Billy, asistennya.


Kemudian, Keenan pun langsung membuka pintu belakang mobil mewahnya. Dan dengan cepat ia melangkah ke arah meja receptionis yang terdiri dari dua orang berbaju perawat. Keenan menghela nafasnya sejenak, dan langsung merubah raut wajahnya dengan raut wajah tersenyum saat melangkah mendekat ke arah penjaga resepsionis itu untuk menanyakan kamar rawat Thalia.


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....