
Sepulang dari sekolahnya Thalia menyusuri trotoar. Keenan yang sudah berjanji akan menjemputnya juga tak kunjung datang. Akhirnya Thalia memutuskan untuk berjalan kaki. Lagi pula Thalia juga masih marah dengan sikap Kakaknya saat tadi pagi.
"Sukur deh, gue lebih baik jalan kaki daripada pulang di jemput Monster Pemarah itu. Jujur gue risih banget kalau ada di sampingnya. Lebih baik gue bertemu dengan penjahat dari pada bertemu dengan Kak Keenan." gerutu Thalia sambil berjalan di trotoar.
Saat menoleh ke belakang Thalia sangat terkejut pasalnya dia melihat mobil Keenan yang sedang berbelok menuju ke arah sekolahnya. Dan Thalia pun langsung bersembunyi di sebuah rumah yang kebetulan gerbangnya terbuka. Agar Kakaknya itu tidak mengetahui keberadaannya.
"Awwwh!!" Teriak Thalia saat telapak tangannya tergores sebuah beling.
Thalia terduduk di sana bersandar pada tembok dan menatap tangannya yang berdarah.
"Heh, apa yang terjadi denganmu gadis cantik?" tanya salah satu dari mereka. Pandangan mereka jatuh pada tangan Thalia yang berdarah. "Oh, tanganmu terluka. Apa kau sedang butuh bantuan cantik?" tawar laki - laki yang berambut panjang dan ikal itu yang kini menyentuh dagu Thalia.
"Pergi! Jangan sentuh gue!" Pekik Thalia menangkis tangan laki - laki itu.
Dan sebisa mungkin Thalia bangkit dari duduknya dan berusaha kabur dari sana. Lagi - lagi sial saat tangannya di tarik dan mereka langsung mengangkat tubuhnya bagai mengangkat sebuah karung.
"Lepaskan! Lepaskan gue!" Teriaknya kencang.
Thalia kini di jatuhkan di atas lantai dan kedua laki - laki itu menatapnya menyeringai. Thalia melangkah mundur pelan - pelan saat laki - laki itu menatapnya dengan tertawa puas.
"Berteriak lah sepuas mu gadis cantik. Hingga kamu mati pun tidak akan ada yang bisa menolong mu di sini!"
Thalia menggeleng - gelengkan kepalanya. "Jangan macam-macam denganku?! Kalian para penjahat mau apa?" teriak Thalia keras.
salah satu dari mereka mendekati Thalia. "Tentu saja kami menginginkan dirimu. Memangnya apalagi?"
"Kalian jangan kurang ajar ya. Dasar penjahat!"
Plak.
Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Thalia hingga meninggalkan bekas merah di sana.
"Diamlah gadis cantik! Atau kau ingin mati, Hah?!"
Thalia menangis kuat dan terus menggeleng saat salah satu penjahat itu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arahnya.
Apalagi tatapan mereka tidak berbeda dengan tatapan Kakak tirinya yang sangat menginginkan dirinya seperti semalam.
"Luar biasa. Kau sangat cantik. Kulitmu yang putih halus ini juga sangat menggoda."
"Jangan sentuh gue!!" Teriak Thalia.
"DIAM!!!" Sentak laki - laki itu keras.
Thalia pun tidak mau diam, karena kedua penjahat itu terlihat sangat menjijikkan bagi Thalia dan sebisa mungkin Thalia harus bisa kabur dari kedua penjahat tersebut.
"Sudah kubilang diam!!"
Plak.
Ya, satu tamparan lagi di berikan pada pipi putih Thalia hingga meninggalkan bekas merah di pipi Thalia.
Thalia hanya bisa menangis, apalagi saat melihat salah satu penjahat yang menamparnya tadi hendak membuka kancing bajunya dan sebisa mungkin Thalia pun memberontak.
Brakkkkk.
"Apa yang sedang kalian lakukan!"
Seketika tawa kedua laki - laki jahat itu terhenti, mereka menoleh kebelakang tepat seorang laki - laki dengan balutan jas berwarna biru tua mendobrak pintu depan keras dan berjalan menghampiri mereka dengan penuh amarah.
"Kak Keenan," melihat kedatangan Kakak tirinya Thalia menangis kencang.
"Ya, aku di sini. Maafkan aku datang terlambat."
Kemudian, tatapan Keenan kini beralih pada dua orang laki - laki yang sudah berani bermain-main dengan gadis kesayangannya di tambah lagi mereka telah melukai gadis kesayangannya juga.
BUGH..
Ya, tidak tanggung - tanggung Keenan langsung menghajar kedua laki - laki itu hingga babak belur dan tak berdaya. Bahkan Keenan tidak memberikan sela sedikitpun untuk mereka berdua melawan dirinya.
Dan kini Keenan berlari ke arah Thalia.Namun, saat melihat kondisi Thalia yang sangat memprihatinkan membuat Keenan langsung melepaskan jas yang di kenakan nya untuk menutupi tubuh adiknya.
"Berani sekali kalian berdua membuat gadis kesayanganku terluka?" ucap Keenan mengusap lembut sudut bibir Thalia yang terluka.
Thalia memejamkan kedua matanya dan memeluk Kakaknya itu karena dirinya masih gemetar ketakutan.
"Tenanglah, sayang. Aku berjanji akan membunuh mereka berdua karena sudah berani membuatmu terluka seperti ini."
Kemudian Keenan mengangkat tubuh Thalia dan membawanya pergi keluar dari tempat itu. Dan membawa Thalia masuk kedalam mobilnya. Sebelum menjalankan mobilnya Keenan menelepon asistennya untuk menahan kedua laki - laki yang sudah berani melukai adik yang di sayangnya itu. Setelah itu, Keenan langsung melajukan mobilnya untuk mengantar Thalia pulang kerumah karena kondisi Thalia saat masuk kedalam mobil sudah tak sadarkan diri karena shock atas kejadian tadi.
***
Kedua mata Thalia terbuka menghirup aroma lavender kesukaannya dan dinding kamar yang berwarna biru dan ya, sekarang Thalia tau jika sekarang dia sedang berada di rumahnya.
Tatapan Thalia kini beralih pada sebuah gagang pintu kamar yang di buka. Dan nampak kedua orang tuanya yang kini sedang berlari heboh dan histeris. Dan di belakangnya terlihat Kakak tirinya yang tersenyum tipis ke arahnya.
"Sayang, apa yang sudah terjadi padamu? Bunda kan sudah bilang kalau kamu itu harus menurut pada Kakakmu? Untung Kakakmu datang tepat waktu untuk menolong mu dari para penjahat itu. Kalau tidak bagaimana?"
"Maafkan Thalia, Bund."
"Bund, ini bukan sepenuhnya salah Thalia. Jika aku tidak terlambat menjemput Thalia, mungkin saja kejadian seperti itu tidak akan menimpa Thalia. Jadi, jangan terlalu menyalahkan Thalia, Bund." ucap Keenan membela Thalia.
"Ya sudah, kalau begitu Bunda dan Papa akan turun kebawah untuk menemui dokter Kayla yang tadi habis memeriksa kamu, sayang."
"Bunda, bisakah Bunda di sini saja. Temani Thalia di sini, Bund." pinta Thalia sambil menahan tangan Ibunya.
"Thalia, sayang. Bunda dan Papa hanya ingin menemui dokter. Lagi pula di sini juga ada Kakak kamu yang akan menjagamu." jawab Vina, kemudian melepaskan tangan Thalia dan dia beranjak keluar dari kamar tidur Thalia untuk menemui sang dokter bersama dengan suaminya.
Setelah kedua orang tua mereka keluar dari kamar Thalia. Tiba-tiba saja Keenan tertawa terbahak-bahak membuat Thalia langsung menatapnya dengan tajam. Di samping itu Thalia langsung mencengkram erat selimut biru muda miliknya, ia menatap Kakak tirinya yang kini membungkukkan badannya dan mulai mengusap lembut pipinya.
Walaupun Keenan menyentuh pipinya dengan pelan. Namun, Thalia masih merasakan nyeri dan perih di pipinya. Apalagi saat Keenan langsung mengecup pipinya dia pun sangat terkejut.
"Malang sekali nasibmu, sayang. Bibirmu yang manis itu sampai terluka." ujarnya menatap lekat luka pada bibir Thalia.
Thalia langsung menyentak tangan Keenan saat itu juga. Seketika juga Keenan langsung menangkap pergelangan tangan Thalia sebelum ia menatap Thalia dengan tajam.
"Kapan sih Kakak warasnya?"
"Pas udah nikahin kamu, baru Kakak waras. Tapi masih tetap gila juga, soalnya pesona kamu itu sangat susah di tolak bikin yang di bawah itu tegang terus, sayang."
"Sadar Kak Keenan. Kita itu masih saudaraan. Tidak boleh saling mencintai apalagi sampai menikah itu dos-" ucapan Thalia langsung terpotong karena Keenan langsung mencium bibirnya.
"Cepat ngomong sekali lagi, sayang." kata Keenan sambil menyeringai ke arah Thalia. "Biar setelah itu Kakak cium kamu lagi."
"Gila!" Murka Thalia langsung mengusap dengan kasar bibirnya menggunakan telapak tangannya untuk menghilangkan bekas ciuman yang baru saja di berikan oleh Keenan.
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.