Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Peringatan Dari Keenan



"Sabar - sabar, Thalia. Jika kamu ingin terbebas dari jerat singa buas yang ada di hadapanmu ini bersikap baiklah padanya." ucap Thalia di dalam hati sambil meyakinkan dirinya sendiri agar bisa secepatnya terlepas dari kamar hotel yang menyesakkan untuknya.


"Lucu banget sih, kamu? Pengin Kakak karungin boleh?"


Tuk.


"Kak Keenan pikir aku apaan, huh?" ucap Thalia sambil memukul bahu Keenan.


"Abisnya kamu lucu banget. Bikin Kakak gak bisa nahan nafsu Kakak lagi?"


Thalia memutar bola matanya malas, "Dasar mesum," gumam Thalia tidak suka.


"Cepat gih kerja sana. Ntar Kak Keenan telat di marahin sama Papa loh?"


"Kakak tidak mau ketemu sama dia?"


"Kenapa?"


"Males aja liat mukanya. Kakak itu sangat benci melihat orang-orang yang mencoba memisahkan kita berdua."


"Tolong, Kak. Jangan samakan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Nanti, pas Kak Keenan menikah, istri dan anak Kakak makan apa, hm? Kalau nanti makannya pecahan beling kan gak lucu?"


"Kok lucu sih bayangin kamu makan pecahan beling bareng Kakak? Ada romantisnya gitu ya?"


"Gila?" sembur Thalia tidak percaya dengan jalan pikiran dari Keenan yang tidak masuk akal.


"Kakak aja sendirian yang makan pecahan beling. Aku mah ogah. Di kira kuda lumping."


"Kuda lumping? Ide yang bagus. Gimana kalau kita main kuda-kudaan di atas ranjang. Bukankah kamu sudah pernah merasakannya?"


"Sinting!" Sumpah serapah Thalia menggaris miring di dahinya menggunakan telunjuknya.


"Ayolah sayang. Kayaknya seru tuh?"


"Gak mau. Kakak main sendiri sana?!"


Thalia kini sudah beranjak dari ranjang dan Keenan langsung menahannya.


"Kamu mau kemana? Kita belum selesai bicara?"


"Mau mandi dulu, Kakak kapan nih berangkat kerjanya? Nanti Thalia telat berangkat ke sekolahnya?"


Keenan memicingkan matanya, "Kamu kenapa sih, kok kaya maksa gitu? Apa ada yang kamu rencanakan?" selidiknya, namun langsung mendapatkan gelengan kepala dari Thalia.


"Tidak. Aku tidak bermaksud untuk kabur dari sini,"


"Siapa yang sedang nuduh kamu punya maksud buat kabur dari sini, huh?"


"Bukannya... Ah, terserah. Aku gak tau."


Sedangkan Keenan kembali terkekeh geli melihat tingkah Thalia yang kini tampak sedang kesal sendiri.


"Baiklah, Kakak akan berangkat bekerja setelah ini dan mengantarmu ke sekolah. Tapi ada syaratnya."


"Memang apa syaratnya?" tanya Thalia ingin tahu.


"Cukup mudah kok, kamu tinggal kasih Kakak kecupan manis mu." jawab Keenan yang begitu santai. Bahkan laki - laki itu mengarahkan jarinya ke depan bibirnya.


"Tapi-"


"Baiklah, kalau begitu Kakak tidak akan pergi bekerja dan akan mengurungmu seharian di sini." potong Keenan yang tampak sangat senang.


"Eh? Kenapa begitu, Kak?"


"Itu terserah kamu. Kalau kamu masih gak mau nurut sama Kakak gak bakal ijinkan kamu keluar dari kamar hotel ini."


"Ah, sial." umpat Thalia di dalam hati.


"Baiklah. Kakak sudah sangat menantikannya dan sudah tidak sabar untuk segera di puaskan. Kakak harap, kamu tidak akan pernah mengecewakan Kakak." ucap Keenan kini sedang duduk dengan santai. Sambil menunggu Thalia untuk mencium bibirnya.


Dan kini, Thali memposisikan dirinya dengan menghadap ke arah Keenan. Kemudian gadis itu menangkup kedua pipi Keenan.


Dan ya, Thalia mengaku belum pernah memegang pipi Keenan seperti ini. Apalagi, sampai mencium lebih dulu bibir Kakak tirinya. Dan ini adalah pengalaman pertamanya dan Thalia tidak tahu, terlebih dahulu harus seperti apa. Yang ia tahu, Keenan hanya menyatukan bibirnya saja dan setelah itu **********.


Tidak. Thalia tidak ingin **********. Dia terlalu malu jika harus melakukan hal itu. Dan Thalia belum berpengalaman dan ya, Thalia tentunya sangat berbeda dari Kakak tirinya yang sudah lebih dulu berpengalaman.


"Sayang, kok kamu lama banget sih? Ah, kamu sengaja ya biar Kakak telat dan gak jadi kerja. Jadi, kamu kan bisa gak masuk sekolah."


Thalia langsung menggelengkan kepalanya. "Bukannya gitu? Hanya saja...."


"Oh ya.Sekarang kakak baru inget. Kamu kan belum pernah mimpin buat ciuman.Jadi, kamu ikutilah instruksi dari Kakak. Kakak yakin, setelah ini kamu akan bisa menjadi good kisser dan tentunya Kakak akan sangat menyukai-"


Cup.


Ucapan Keenan langsung terpotong saat Thalia langsung mengecupnya.


"Gitu doang kan mudah?" ujar Thalia, yang kini langsung berlari ke arah kamar mandi sebelum Kakak tirinya itu memarahinya.


"Kenapa kamu malah ciumnya di pipi. Kan, Kakak minta ciumnya di bibir, sayang." teriak Keenan kesal dan Thalia hanya tertawa mendengar teriakan dari Kakak tirinya itu.


***


Thalia kini sudah melangkah keluar dari kamar mandi. Kini tubuhnya sudah memakai seragam sekolahnya yang sudah di siapkan oleh Kakak tirinya. Dan beruntung, Kakaknya itu ternyata sudah meminta asistennya untuk membawakan seragam sekolah dan tas Thalia. Begitu juga dengan pakaian kantor untuk Keenan.


"Kau sudah selesai," tanya Keenan. Setelah Keenan juga sudah selesai mengganti pakaiannya dengan pakaian kantor.


"Seperti yang Kak Keenan lihat." Thalia menjawab dengan nada dingin dan raut wajah yang tanpa ekspresi.


"Akh-" Thalia langsung memekik terkejut saat tiba - tiba Keenan langsung menarik tangannya dan membuatnya terduduk di pangkuan pria itu. Dan ya, Thalia berusaha untuk mendorong tubuh Keenan dengan sekuat tenaga.Namun, sayangnya pria itu mengunci pergerakannya.


"Kak Keenan lepaskan aku!" Thalia kini sudah tidak bisa lagi berontak. Tubuh Thalia terasa begitu mungil saat sudah berada di dalam dekapan Keenan. Kakak tirinya itu memang memiliki tubuh yang tegap dan gagah. Dan wajar saja, jika tenaga Thalia hanya bagaikan kapas bagi Keenan.


"Jika kau tidak diam, maka jangan harap aku akan melepaskan mu." Keenan berucap dengan tegas dan penuh dengan penekanan. Tatapannya tak lepas menatap Thalia dengan lekat.


Thalia menghela nafas dalam. Dan ya, terpaksa dia tidak lagi berontak. Jika sudah seperti ini, dia bisa apa? Karena sampai kapanpun Thalia tidak akan pernah menang.


"Kenapa kau selalu mencoba menghindar dari Kakak, hm?"


"Siapa yang menghindar dari Kakak? Aku hanya ingin cepat berangkat ke sekolah, Kak? Karena mulai hari ini udah ada les tambahan. Jadi berangkat sekolahnya harus lebih cepat dan pulangnya juga agak sore." ucap Thalia menjelaskan pada Kakak tirinya itu.


"Kamu lagi gak bohongin Kakak kan? Awas kalau sampai kamu keluar dari sekolah atau kamu lagi pacaran di sekolah. Kakak akan berikan hukuman yang berat buat kamu?" peringat Keenan dengan tegas.


Thalia menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan dari Kakak tirinya itu.


"Iya Kak. Aku janji kok. Pulang sekolah nanti aku juga langsung pulang, nggak akan mampir - mampir dulu kok.Kak Keenan tenang aja. Aku gak bakal langgar aturan dari Kakak." jawab Thalia sambil beranjak berdiri dari pangkuan Keenan.


"Sebelum Kakak jemput atau supir pribadi nanti jemput. Kamu jangan berani - berani pulang bersama dengan laki - laki sialan itu lagi." peringat Keenan.


*****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.