
Setelah kejadian tadi pagi, dan dengan keadaannya yang masih menahan rasa sakit di Kakinya. Keenan pun langsung pergi ke perusahaannya karena ingin menghindar dari Ayahnya. Keenan turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam perusahaannya. Ya, Keenan pun masih memikirkan perkataan dari Ayahnya jika Thalia akan di jodohkan dengan Axel, anak dari rekan bisnisnya. Kemudian Keenan melangkah masuk ke dalam lift pribadinya.
Ting.
Pintu Lift terbuka, dan kini Keenan sedang berjalan menuju ke arah ruang kerjanya.
"Selamat pagi, Tuan muda Keenan." sapa Billy asistennya. Saat melihat Keenan baru saja keluar dari lift.
"Billy, ikut aku ke ruanganku." tukas Keenan dingin.
"Baik, Tuan." jawab Billy.
Dan Keenan langsung berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya dan Billy mengikutinya dari arah belakang.
"Billy, apa kamu tahu tentang perusahaan Dirgantara Group?" tanya Keenan kepada Billy yang kini sedang berdiri di hadapannya.
"Dirgantara Group? Itu seperti perusahaan penerbangan yang sangat ternama dan cukup sukses, Tuan." Billy memberikan jawabannya. "Maaf, Tuan. Kenapa Tuan muda, tiba - tiba menanyakan tentang Dirgantara Group?" tanya Billy memastikan.
Keenan membuang napas kasar. "Kau tahu, sekarang Papaku itu berencana ingin menjodohkan Adikku dengan putra pemilik dari Dirgantara Group?"
"Tuan, menurut saya Tuan Tristan hanya ingin mencarikan jodoh yang baik untuk Nona Thalia dan mungkin saja putra dari pemilik Dirgantara Group adalah orang yang cocok untuk bersanding dengan Nona Thalia." jawab Billy memberikan pendapatnya.
"Terbaik dari mana? Bahkan melihat putra dari Dirgantara Group yang seperti berandalan itu membuatku semakin bertambah marah."
"Jadi Tuan muda sudah bertemu dengan anak dari pemilik Dirgantara Group?"
"Sudah. Maka dari itu, aku ingin memberikan tugas untukmu, untuk mencari tahu tentang data pribadi dari Axel Dirgantara."
"Baik Tuan." ucap Billy menundukkan kepalanya lalu pamit undur diri dari hadapan Keenan.
***
Siang harinya kini Keenan sudah berada di depan sekolah Thalia dan sudah lima menit berlalu, terhitung saat Keenan sudah memarkir mobilnya di depan gerbang sekolah dan Thalia masih belum juga terlihat. Keenan mengetukkan jarinya di atas kemudi mobil. "Ah, sial! Kenapa Thalia keluarnya lama sekali sih" gerutu Keenan dengan nada suara yang terdengar kesal.
Ya, bagaimana Keenan tidak kesal. Pasalnya, Keenan sudah mengirimkan pesan kepada adiknya bahwa dia akan menjemput adiknya itu pulang bersama dan tentunya Keenan juga tidak lupa memberikan ancaman untuk adik tirinya itu agar tidak akan pernah lagi menolak permintaannya.
Dan tentu saja Adik tirinya itu pasti akan langsung menuruti keinginannya. Dan dari gerbang sekolah Keenan bisa melihat ketika adiknya sedang melangkah mendekat ke arah mobilnya.
"Akhirnya kesayanganku keluar juga." ucap Keenan yang kini sedang tersenyum senang sambil menatap wajah Thalia yang kini sudah mulai mendekat ke arah mobilnya. Namun, langkah Thalia terhenti saat Axel menghentikan langkah Thalia yang sedang menuju ke arah mobil Kakaknya.
"Thalia, apa kamu yakin, kamu itu mau pulang bersama dengan Kakak tirimu? Kamu tahu sendiri kan, betapa liciknya Kakakmu Keenan? Aku takut, dia memilki rencana untuk melukaimu lagi?" Ucap Axel dengan ekspresi wajah yang tampak khawatir.
"Tapi Thalia, situasinya sekarang sudah berbeda. Kamu juga pasti belum lupa kan kejadian yang terjadi tadi pagi? Di situ jelas sekali kalau Kakak kamu itu sudah sangat keterlaluan memperlakukan kamu dengan sangat kasar." ucap Axel dengan kekhawatirannya "Dan ini, apa kamu tidak lihat pergelangan tangan kamu masih memerah akibat kejadian tadi pagi?" lanjutnya memberitahu.
Thalia tersenyum, dan melepas tangan Axel yang masih menyentuh tangannya dan kini, Thalia menjatuhkan kedua tangannya di pundak Axel. "Aku tidak mungkin lupa kejadian yang terjadi tadi pagi, El. Tapi, kamu sendiri juga tau kan kalau aku juga masih mengkhawatirkan kondisi Kakakku sejak tadi pagi. Dan kau tahu, El. Sebenarnya Kak Keenan dulu pernah mengalami kecelakaan dia pernah di tabrak oleh motor dan Kakinya pernah mengalami cidera. Aku hanya takut, jika Kakinya yang pernah cidera itu sebenarnya masih belum sembuh apalagi saat aku melihat Kak Keenan merintih sangat kesakitan seperti tadi pagi. Bahkan, pagi tadi aku sempat berpikir ingin bolos sekolah saja untuk mengetahui kondisi Kakakku apakah dia baik - baik saja atau tidak."
Axel menjauhkan kedua tangan Thalia dari pundaknya, lalu di genggamannya erat."Tetapi Thalia, aku rasa Kakakmu itu pasti baik - baik saja. Buktinya saja dia masih bisa mengendarai mobilnya sampai ke sekolah ini untuk menjemputmu."
Thalia memejamkan matanya sejenak. Ya, menurutnya Axel kini sudah bertindak berlebihan mencampuri urusannya di tambah lagi saat Ayahnya sendiri mengijinkan Axel untuk menjaga dirinya. Thalia sangat yakin jika hal itu akan memancing Kakak tirinya untuk semakin mengusik ketenangannya. Dan Thalia yakin, situasinya pasti akan semakin rumit nantinya. Thalia berharap agar Axel juga bisa mengerti tentang keadaannya sekarang.
"Thalia, aku mohon lebih baik kamu pulang sama aku aja, ya? Sungguh aku sangat takut kalau Kakak kamu itu akan berbuat kasar padamu lagi?" ucap Axel yang masih menggenggam tangan Thalia dengan erat.
Thalia menarik tangannya dari genggaman tangan Axel secara halus. "Axel, aku mohon. Untuk kali ini saja izinkan aku untuk pulang bersama dengan Kakakku. Aku sangat khawatir dengan kondisi Kaki Kakakku. Aku harap kamu bisa mengerti."
Axel menghela nafas panjang. Ya, ternyata Thalia juga sangat keras kepala. "Baiklah, tapi kalau Kakak kamu berani berbuat kasar kepadamu lagi. Aku mohon, langsung hubungi aku. Karena aku tidak ingin pacarku kenapa - napa." ucap Axel dengan nada suara yang terdengar sedikit keras.
Mendengar ucapan dari Axel, sontak saja Thalia langsung menepuk dada Axel karena terlalu malu saat Axel mengakui dirinya sebagai pacarnya di depan umum.
"Siap, Bos! Oh ya, kamu juga jangan lupa obati luka kamu ya." ucap Thalia sambil mengingatkan kembali tentang luka Axel akibat terkena pukulan dari Keenan tadi pagi untuk di obati. " Aku pergi dulu ya." lanjut Thalia berpamitan.
Namun, langkah Thalia langsung terhenti lagi saat Axel kembali menggenggam tangannya lagi dan kini Axel menatap ke arah Thalia dan beberapa detik berlalu Axel pun mulai memberanikan dirinya sendiri untuk melangkah maju sedikit dan mendekatkan wajahnya untuk mencium kening Thalia. Sedangkan Thalia pun sangat terkejut saat merasakan benda kenyal mencium keningnya. Ya, sebenarnya Thalia sungguh merasa berdebar ketika Axel tiba-tiba saja langsung mencium keningnya. Pasalnya, sudah cukup lama mereka berteman dan baru kali ini Axel berani untuk mencium dirinya. Meskipun hanya ciuman di keningnya saja tetapi rasanya berbeda.
"Sampai kerumah nanti. Jangan lupa hubungi aku lagi ya, My Pacar." ucapnya.
Dan Thalia hanya membalasnya dengan anggukan dan penuh senyuman yang tampak bahagia. Dan entah kenapa, Thalia merasakan ada sesuatu yang aneh tentang dirinya. Namun Thalia tidak ingin ambil pusing dengan perasaan yang merasa aneh setelah Axel mencium keningnya.
Dan kali ini Thalia pun kembali melanjutkan langkahnya menghampiri mobil Kakaknya yang terparkir tidak terlalu jauh dari mereka berada. Dan di dalam hati Thalia berdoa jika Kakak tirinya itu tidak melihat kejadian dimana Axel tadi mencium keningnya.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.