Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Maafkan Aku



"Tapi Kakak malah seneng kalau kamu itu beneran hamil nanti." Keenan menyunggingkan senyumannya saat Thalia menatapnya begitu tajam.


"Dasar psikopat!" Ya, Thalia hanya bisa berteriak di dalam hati.


Keenan kemudian melangkah ke arah meja dan mengangkat pistol itu hingga kedepan mulutnya. Lalu meniup - niupnya tepat di dalam lubang. Keenan menatap Thalia lengkap dengan seringainya.


"Asalkan kamu tahu, sayang di dalam pistol ini hanya terdapat dua peluru saja. Dan Kakak akan berjanji akan memberikannya sebagai hadiah kelak di hari pernikahanmu dan laki - laki sialan itu. Jika kamu masih berani menerima perjodohan itu." ujarnya.


"Tapi Axel jauh lebih baik daripada kamu, penjahat!" Maki Thalia.


"Tidak Thalia, aku lebih baik dari semua laki - laki yang kau kenal. Aku kaya, aku berkuasa dan aku memiliki apapun atas dirimu, termasuk dengan tubuhmu." seru Keenan yang kini menaruh pistolnya ke atas meja dan melangkah mendekat ke arah Thalia.


Sedangkan Thalia yang tidak bisa bergerak sama sekali hanya bisa menangis dan menggeleng - gelengkan kepalanya sebelum Keenan menahannya dengan melingkarkan lengan kekarnya pada pinggang kecil Thalia.


"Bagaimana Thalia, kau sekarang sudah tidak punya harga diri lagi, kau sudah kehilangan segalanya. Kau masih menolakku atau memilih untuk menikah denganku esok." tawar Keenan mengusap pipi Thalia dengan sangat lembut.


Thalia menggelengkan kepalanya kekeuh. "Menikah denganmu adalah kesialan untukku, Kak Keenan! Jangan banyak bermimpi.Dengar ucapanku, aku tidak akan pernah sudi dengan manusia kegelapan sepertimu argghh..."


Ucapan Thalia langsung terhenti saat laki - laki itu kembali mencengkram kedua tangannya dan mengurung pergerakannya.


"Lepaskan aku, Kak Keenan! Kau bukan manusia, kau jahat!"


"Tidak akan, sayang! Aku akan terus membuatmu menyebut namaku dan aku akan meminta lebih dari ini, tidak hanya melakukan percintaan denganmu sekali bahkan aku akan melakukannya sampai berkali - kali sampai kau bisa tunduk padaku, ingat itu!."


"Kakak jahat!" Geram Thalia yang mencoba untuk membuat tubuh Keenan menyingkir dari atasnya.


"Pergi hiks... Thalia tidak mau lagi bertemu dengan Kak Keenan!" Teriak Thalia yang seketika membuat telinga Keenan berdengung.


"Bisa diam, Thalia?!" Kesal Keenan.


"Tidak! Kakak jan-"


Keenan kembali membungkam mulut Thalia. Namun, hanya seperkian detik saja. Sontak saja hal tersebut membuat segala rengekan dan isak tangisan Thalia terhenti.


"Nah, Kakak suka kalau liat Thalia diam begini!" Gumam Keenan dengan menyunggingkan senyuman manisnya.


Thalia menelan ludah dengan susah payah. Entah kenapa, saat melihat Kakak tirinya tersenyum membuat jantung Thalia berdetak dengan lebih kencang.


"Sekali lagi jangan membuatku kesal. kalau sampai itu terjadi, aku akan menculikmu dan menghamili mu, sayang."


Sungguh, Keenan mengatakan seperti itu seolah - olah tidak ada rasa penyesalan setelah merenggut kesucian Thalia.Kemudian Keenan mengambil pistol miliknya yang berada di atas meja. Lalu kembali memasukkan pistolnya kembali ke tempat semula dan bersiap pergi dari kamar Thalia melalui jendela kamar Thalia. Sebelum Keenan melompat dari atas jendela kamar Thalia Keenan berkata, "Ah, ya. Setelah pulang sekolah nanti kamu harus ikut dengan Kakak."


"Aku tidak mau!" Tolak Thalia.


"Kakak tidak peduli. Kalau kamu berani menolak maka jangan salahkan kakak kalau pistol ini beraksi pada laki - laki sialan itu. Sampai jumpa besok, calon istri." ucap Keenan kemudian melompat turun dari kamar Thalia.


***


Perlakuan keji dan kejam yang di lakukan oleh Kakak tirinya benar - benar membuatnya begitu hancur dan tidak lagi punya harapan. Sesak di dada yang kini Thalia rasakan.


Selangkah demi selangkah hanya menyisakan perih pada hati dan tubuhnya. Thalia kemudian langsung masuk kedalam kamar mandi yang ada di kamarnya.


"Menjijikan, aku sangat menjijikkan hiks..." isak Thalia sambil menatap pantulan tubuhnya pada cermin di kamar mandinya.


Ia terduduk di lantai kamar mandi dengan air shower yang mengguyur tubuhnya saat ini.


"Aku tidak sanggup lagi, Papa... Maafkan, Thalia Pa, Thalia sudah mengecewakan Papa. Thalia ingin ikut Papa saja." ucap Thalia dengan sangat frustasi dan ia menutup kedua matanya pelan.


***


Pagi harinya, sebelum Thalia berangkat ke sekolah dia menutupi beberapa tanda di lehernya akibat ulah Kakak tirinya semalam dengan menggunakan foundation dan bedak. Ya, Thalia tidak ingin melihat kedua orang tuanya apalagi temannya melihat tanda di lehernya akibat perbuatan kakak tirinya itu semalam. Dan seperti biasanya Axel yang kini mulai mengantar Thalia ke sekolahnya. Dan kini mereka sedang berada di kantin sekolah untuk sarapan karena sebelumnya Thalia tidak sempat untuk sarapan.


"Thalia... Halo? Apa kau mendengarkan aku." ucap Axel yang kini melambaikan tangannya di wajah Thalia.


Thalia yang tersadar dari lamunannya langsung mengalihkan pandangannya ke arah Axel yang sedang duduk di samping kanannya.


"Iya, ada apa, El?" tanya Thalia yang sedang gugup.


"Kau tidak apa-apa, kan? Aku lihat selama perjalanan ke sekolah kamu terlalu banyak melamun?"tanya Axel dengan nada yang khawatir.


"Aku tidak apa. Hanya ada sedikit masalah di rumah." jawab Thalia meyakinkan Axel.


"Ah, apakah ini karena Kakakmu Keenan?" tanyanya memastikan. "Aku sudah tahu, kalau Kakakmu di usir dari rumah." lanjutnya memberitahu


"Ya, meskipun Kak Keenan sudah usir oleh sama Papa tapi aku masih takut, El." ucap Thalia.


"Kamu tenang saja, Thalia. Aku janji akan selalu menjaga dan melindungi kamu dari Kakakmu itu, sehingga kau tidak merasa ketakutan lagi."


"Baiklah. Aku harap kau akan selalu menepati janjimu, El." akhirnya, seperti itulah keputusan Thalia. Seperti tidak pernah terjadi apapun.


"Sejak kapan aku ingkar janji."


"Siapa tau ya kan?"


"Iya, ya. Terserah kamu aja deh. Lebih baik kamu cepat selesaikan sarapan kamu. Kamu tahu, sudah lima menit kamu melamun. Lihatlah makananmu menjadi dingin. Ayo, cepat makan. Sebentar lagi bel masuk sekolah akan segera berbunyi." ucap Axel.


Sedangkan Thalia yang telah melupakan makanannya, dengan cepat menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Karena bel masuk sekolah sebentar lagi akan berbunyi.


Selama perjalanan menuju ke ruang kelasnya Thalia memandang Axel dari belakang. "Kenapa kamu terlalu baik sama aku, El. Aku bahkan terlalu berharap jika aku bisa bersama denganmu. Namun aku juga takut jika nantinya kau akan terluka. Apalagi jika kamu mengetahui kalau aku sudah tidak suci lagi, aku yakin kamu pasti akan membenciku. Maafkan aku, El." ucap Thalia di dalam hati.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.