
Hanya bisa menganggukkan kepalanya saja dan melangkah meninggalkan mobil milik Kakaknya menuju ke klinik miliknya. Begitu Angga masuk kedalam klinik, ia pun langsung di sambut oleh salah seorang asisten perawatnya yang tampaknya terlihat panik. Dan saat melihat kedatangan Angga perawat itu langsung berlari ke arahnya.
"Ada apa Hana? Apa ada sesuatu yang tengah terjadi di sini?" tanya Angga yang penasaran, melihat tingkah aneh Asisten perawatnya.
"Dokter, ada seseorang yang mencari anda. Bahkan ia memaksa untuk masuk kedalam ruang kerja anda. Kami sudah berusaha membujuknya, tapi ia mengancam akan melukai kami jika terus di paksa untuk keluar dari ruangan anda." ujar Hana yang kemudian menuntun Angga masuk kedalam ruangannya.
Ceklek.
Pintu itu di buka oleh Angga. Dapat ia lihat seorang laki - laki yang tengah duduk membelakangi pintu di kursi kerjanya. Dan begitu, Angga melangkahkan kakinya masuk. Pria itu, lantas membalikkan kursi, hingga dapat di lihat dengan jelas wajah sang pelaku.
"Keenan, sedang apa dia di ruanganku?" ucap Angga di dalam hati. Ya, dia begitu terkejut saat melihat Keenan sudah ada di ruangannya.
"Maaf Pak, apa sebelumnya Bapak sudah membuat janji lebih dulu di meja resepsionis?" tanya Angga yang mencoba untuk mengendalikan emosinya, begitu melihat wajah penuh keangkuhan dari Keenan.
"Untuk apa? Lagi pula, aku hanya ingin menemuimu sebentar. Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu." sahut Keenan dengan senyuman di wajahnya.
Melihat Angga yang hanya berdiri di tempat. Membuat Keenan akhirnya beranjak berdiri dan melangkah mendekati pria itu. Lelaki bermata tajam itu mengedarkan pandangannya menatap Angga dari atas sampai bawah kemudian berhenti tepat di wajah Angga.
"Heh, jadi ini yang namanya dokter Angga. Mungkin kau terkejut melihat kedatanganku kemari. Perkenalkan namaku Keenan Alexander. Salam kenal," ujar Keenan dengan senyuman yang terlihat sangat di paksakan itu.
"Baiklah, Pak Keenan. Apa ada yang bisa saya bantu di sini?" tanya Angga yang mencoba bersikap ramah pada Keenan. Karena di luar ruangannya masih ada pegawai klinik yang sedang melihat mereka.
Keenan terdiam. Senyuman di wajahnya juga perlahan pudar yang di ganti dengan raut wajah datar. Ia pun memajukan tubuhnya, hingga bibirnya tepat berada di samping telinga Angga.
"Berhentilah bermain - main denganku. Cepat beritahu aku dimana kau sembunyikan adikku, Thalia. Kau tahu, aku itu masih berbaik hati untuk saat ini. Jadi cepat serahkan adikku sebelum aku benar-benar akan menghancurkan mu." bisik Keenan dengan tajam.
Kemudian Keenan memundurkan kembali tubuhnya, dan senyum palsu kini terukir di wajahnya. Ia kemudian melangkahkan kakinya melewati Angga yang masih mematung. Namun, ia tiba - tiba merasa lengan atasnya di cengkram dengan kuat oleh seseorang dan orang itu adalah Angga.
"Jiwamu benar - benar sudah tak tertolong ya. Besok kembalilah kemari. Aku akan men treatment dirimu agar dapat kembali menjadi manusia yang normal." sahut Angga sembari membalas senyuman dari Keenan.
Dan tanpa mengucapkan apapun lagi, Keenan langsung menepis tangan Angga yang mencengkeramnya. Ia juga langsung melangkah pergi meninggalkan ruangan Angga dengan raut wajah datar andalannya.
***
Sembari menunggu Angga pulang kerja. Thalia berniat untuk membeli beberapa makanan yang berada di kawasan alun - alun kota. Dan Thalia telah meminta Hardi untuk mengantarkannya kesana.
Sudah hampir sepuluh menit ia menunggu pesanan takoyaki nya matang. Dan sesekali ia mengecek kembali ponsel miliknya yang baru di belikan oleh Angga semalam. Namun, tak ada satupun pesan atau panggilan telepon dari Angga kepadanya.
Kemudian ia beralih membuka galeri yang ada di ponselnya, dan melihat beberapa foto Angga yang tengah tertidur. Thalia pun tertawa pelan, saat melihat bagaimana lucunya wajah Angga saat dia tertidur. Apalagi saat Angga bangun, aura laki - laki dewasanya entah mengapa menguar dengan begitu besar. Tapi akan berbanding terbalik saat ia tengah tidur. Malahan, ia nampak seperti baby boy di mata Thalia.
"Mama coba lihat deh, dari tadi Kakak cantik itu sedari tadi senyum - senyum tidak jelas." ujar seorang anak kecil kepada Ibunya dan tangannya sambil menunjuk ke arah Thalia.
"Sudah, Nak. Abaikan saja orang yang seperti itu. Itulah sebabnya kalau Mama selalu menyuruhmu untuk tidak membolos ke sekolah. Sekarang kau sudah tahu dampaknya, bukan?" sahut si Ibu anak kecil itu dan langsung menarik tangan sang anak untuk menjauhi Thalia.
"Eh..., apa aku memang seaneh itu ya?" gumam Thalia yang masih shock saat mendengar ucapan Ibu dan anaknya itu, sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Hardi, apakah aku seaneh itu? Apa karena satu bulan ini aku membolos, sehingga aku berubah menjadi manusia aneh ya, Hardi?" tanya Thalia dengan raut wajah penasaran.
"Nona Thalia, apa kepalamu baru saja terbentur sesuatu?" sahut Hardi dengan raut wajah yang kebingungan.
"Tidak. Mungkin aku hanya terkena pukulan cinta dari Angga saja." jawab Thalia yang mulai melantur.
Dan dengan cepat, Hardi langsung mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Dan langsung mencari nomor Tuannya. Setelah itu Hardi langsung menekan ikon bergambar telepon pada layar ponselnya.
"Ada apa, Hardi?" tanya Angga setelah panggilannya terhubung.
"Tuan, sepertinya Nona Thalia sudah kehilangan kewarasannya." teriak Hardi pada ponsel yang berada di telinga kanannya.
"Hah, maksudmu apa Hardi?" tanya Angga bingung dari sebrang telepon.
Mendengar Hardi mengadukan semuanya. Thalia pun langsung mengambil ponsel milik Hardi "Tidak sayang, tadi itu aku hanya sedang bercanda dengan Hardi. Tapi aku tidak tahu jika dia akan seheboh ini." ucap Thalia menjelaskan.
"Seperti itu." ucap Angga sambil terkekeh dari sebrang telepon..
"Sayang, apa kau malam ini akan pulang terlambat?" tanya Thalia.
"Entahlah, aku masih belum tahu. Tapi aku akan usahakan pulang lebih awal."
"Ya sudah, jangan pulang terlalu larut malam. Karena tadi aku baru saja selesai membeli cemilan di alun-alun kota." ujar Thalia mengingatkan dari sebrang telepon.
"Thalia, hari ini kamu jangan terlalu lelah. Jika kau membutuhkan sesuatu minta Bik Nila atau Hardi untuk menyiapkan semuanya." balas Angga mengingatkan.
"Aku akan selalu mengingat semua perintahmu, sayang. Semangat kerja ya. Bye.."
Thalia pun mematikan sambungan teleponnya. Kemudian Thalia mengembalikan ponsel milik Hardi "Maaf, aku tadi hanya bercanda, Hardi." ucapnya sambil tersenyum senang kemudian langsung masuk kedalam mobil.
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....