Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Periksa Kandungan



"Kau ini doyan atau lapar? Lahap sekali makanannya. Pelan - pelan saja, kau bisa tersedak nanti. Tenang saja, aku tak akan memintanya." tutur Angga pada wanita yang ada di pangkuannya.


Saat ini mereka tengah duduk bersantai di atas sebuah tikar yang berada di dekat air terjun. Terlihat kawasan itu sangat sepi, yang hanya menyisakan mereka berdua saja.


Sedangkan Thalia yang saat itu tengah asyik memakan buah strawberry nya tiba - tiba di angkat dan di dudukkan pada pangkuan Angga. Kedua tangan pria itu di lilitkan pada kedua sisi Thalia, untuk mencegahnya pergi. Sesekali ia juga mengecup leher jenjang Thalia dan berakhir meninggalkan noda kemerahan di sana.


"Buka mulutmu," pinta Thalia sambil menyuapkan sebuah strawberry pada Angga tanpa menghiraukan perbuatan Angga pada lehernya.


"Apa kau menyukai suasana yang ada di sini?" tanya Angga sambil mengunyah buah strawberry dari Thalia.


"Sangat suka. Aku merasa bisa sedikit bersantai di sini. Terlalu lama di kamar membuatku merasa sedikit stres." tutur Thalia.


Cukup lega mendengar penuturan dari Thalia. Setidaknya, usaha yang telah di lakukan untuk membuat Thalia melupakan sejenak masalahnya berhasil. Angga pun merasa sangat senang sekali, melihat senyum merekah di wajah Thalia.


"Jadilah kekasihku, Thalia." pinta Angga pada Thalia yang langsung membalikkan badan dan menatapnya.


Angga pun sudah memikirkan matang - matang ucapannya ini. Ia tahu, jika ia terkesan buru - buru. Tapi ia tidak bisa untuk menahan perasaannya lagi. Entah darimana datangnya perasaan ingin memiliki dan melindungi wanita yang ada di pangkuannya ini. Tiba - tiba muncul begitu saja dan tidak bisa ia hindari.


Sudah berulang kali ia mencoba untuk menghapus perasaan itu, tapi begitu melihat eksistensi Thalia, ia merasa perasaan itu malah menjadi semakin besar. Hatinya terasa sangat sakit saat melihat Thalia menangis dan hatinya akan merasa senang saat melihat Thalia tersenyum bahagia.


"Kenapa kau tiba - tiba berkata begitu? Bukannya aku ingin menolakmu. Tapi menurutku, ini terlalu cepat. Aku masih dalam menerima diriku yang baru saat ini. Aku takut, nantinya akan malah berakhir mengecewakanmu," balas Thalia dengan nada suara yang lirih namun masih dapat di dengar oleh Angga.


"Aku tidak masalah dengan kondisimu yang saat ini. Lagi pula, aku menerimamu apa adanya. Jika kita jalani saja perlahan, sembari kau menyesuaikan dirimu dengan yang saat ini. Dan kau bisa menaruh kepercayaanmu kepadaku. Jadi, apa kau mau?" ucap Angga yang menatap dalam mata Thalia.


Thalia diam sejenak sembari menundukkan kepalanya setelah mendengar ucapan dari Angga. Hingga akhirnya, ia mengangkat kepalanya kembali dan memberikan anggukan atas pertanyaan Angga.


Angga langsung melebarkan senyumannya dan dengan segera langsung memeluk sembari mengecupi wajah Thalia. "Terima kasih banyak karena telah mempercayaiku." gumamnya.


***


Tak terasa sudah hampir satu bulan Thalia tinggal bersama dengan Angga. Dan hari ini, kebetulan Angga sedang tidak ada jadwal praktek dan ia pun telah berjanji untuk mengajak Thalia jalan - jalan serta untuk pertama kalinya mengajak Thalia memeriksakan kandungan Thalia ke dokter kandungan.


Thalia mematut cermin, dia mengoles wajahnya dengan makeup tipis. Kemudian, dia mengusap lembut perutnya.


"Bukankah perutku terlihat sangat rata? Bahkan seperti tidak ada perubahan apapun. Apa benar, aku sedang hamil ya." gumam Thalia yang kini sedang memandangi perutnya lewat kaca yang ada di hadapannya.


Thalia masih asyik melenggak-lenggokkan tubuhnya di depan cermin itu. Dan ia terlihat sedang mencari posisi yang pas, agar bisa melihat perubahan yang terjadi dengan perutnya.Namun, memang pada dasarnya kandungan Thalia yang masih terlalu muda, tentu saja belum terjadi perubahan yang berarti pada perutnya.


"Sayang?" Angga melangkah masuk kedalam walk in closetnya Thalia. Dia memeluk tubuh Thalia dari arah belakang dan tangannya mengusap lembut perut Thalia.


Thalia tersenyum, dia mengeratkan pelukannya pada Angga. " Hari ini kau sungguh tidak sibuk? Jika kau sibuk, aku bisa kok memeriksa kandunganku sendiri saja."


Thalia membalikkan tubuhnya, kini dia berhadapan dengan Angga.


"Aku tidak mungkin, tidak menemani kekasihku ini memeriksakan kandungannya." ucap Angga, menarik dagu Thalia, mencium dan ******* lembut bibir Thalia itu. "Kau tahu, kau sangat cantik apalagi kalau aku membayangkan perutmu yang nantinya akan membuncit ini. Aku pasti akan lebih menyukainya karena pasti kau akan terlihat lebih seksi."


"Kau tidak gemuk, sayang! Kau akan sangat seksi nanti." Angga mengelus lembut pipi Thalia.


"Honey, bisakah kita berangkat sekarang saja? Ingat, kita ada janji dengan dokter Amanda?" ucap Thalia dan langsung mendorong tubuh Angga. Lalu berjalan mengambil tasnya yang ada di ranjang dan melangkah kembali mendekati Angga dengan kaki yang di hentak - hentakkan dan berjalan keluar dari kamar.


"Kenapa lagi, sayang?" tanya Angga yang kini sudah berjalan di belakang Thalia.


"Diamlah. Kau itu sangat menyebalkan." sahut Thalia yang kini sudah masuk kedalam mobil dan menutup pintunya dengan keras.


Sedangkan Angga yang melihat tingkah Thalia yang sedang ngambek hanya bisa menghela nafas dan menggeleng - gelengkan kepalanya.Agar tidak membuang waktu lebih lama, Angga pun langsung ikut masuk kedalam mobil.


Setibanya di rumah sakit, Thalia tidak perlu mendaftar atau mengantri karena tentu saja Angga sudah mengurusnya.


Angga menggenggam tangan Thalia, melangkah masuk kedalam ruangan dokter Amanda.


"Selamat pagi Dokter Angga dan Nyonya Thalia." sapa Dokter Amanda.


Thalia tersenyum. "Pagi dokter."


Sedangkan Angga membalas sapaan sang dokter dengan anggukan singkat di kepalanya.


"Mari Nyonya Thalia. Silahkan berbaring." kata dokter Amanda.


Kemudian, Angga membantu Thalia untuk berbaring. Dan dokter langsung mengoleskan jel ke perut Thalia. Tatapan Angga teralih pada layar monitor yang berada di hadapannya.


"Nyonya Thalia, selamat. Janin yang anda kandungan ternyata kembar." ucap Dokter Amanda. Mereka tampak sehat dan dokter Amanda menunjukkan dua buah titik yang terlihat di layar monitor.


Thalia mencelos, entah kenapa pikirannya melayang ke mimpinya beberapa mingguan yang lalu. Ya, ada dua anak laki-laki yang memanggilnya Mommy dan mereka menangis histeris ketika Thalia meninggalkannya di tengah padang rumput yang sepi.


"Apakah mereka anak - anakku?" batin Thalia dengan netranya yang berkaca - kaca. Ia benar - benar sangat sedih entah kenapa ia ingin menangis. Apakah saat ia mengingat kembali masa dimana dirinya ingin melenyapkan mereka. Ya, bayi - bayi itu tidaklah bersalah. Kakak tirinya yang bejat itulah yang bersalah. Kemudian Thalia menoleh ke arah Angga yang terlihat sangat bahagia sambil kedua tangannya menggenggam kedua tangan Thalia dan mengecupnya. Dan tak terasa air mata Thalia ikut mengalir karena bahagia.


****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....