Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Perdebatan Thalia Dan Keenan



"Lebih baik Kak Keenan benar - benar pergi dari sini, sebelum aku benar-benar membenci Kakak!" Seru Thalia dengan emosi.


"Baiklah, untuk kali ini Kakak tidak akan melakukannya. Tapi kamu itu harus janji, tidak ada laki - laki lain di hati kamu selain Kakak. Kamu itu harus ingat! Kalau Kakak itu adalah calon suami kamu. Kalau kamu berani dekat - dekat dengan laki - laki lain. Kamu akan merasakan akibatnya." ucap Keenan memperingatkan.


"Baik." Thalia terpaksa harus mengikuti keinginan Kakaknya karena dia tidak ingin jika Kakak tirinya berbuat hal buruk kepadanya.


"Bagus. Tidurlah sayang, dan mimpi indah. Kalau perlu ada Kakak di mimpi kamu itu." bisik Keenan kemudian mencium kening Thalia dan beranjak pergi dari kamar tidur Thalia.


Melihat kepergian Keenan. Thalia hanya bisa menangis dalam diam. Ya, karena tidak seorang pun yang menolongnya. Sedangkan Ibu dan Ayahnya juga sama sekali tidak tahu kelakuan bejat anak sulungnya.


***


"Bund, hari ini aku berangkat ke sekolah lebih cepat ya. Soalnya aku masih ada jadwal piket pagi." ucap Thalia


"Sebelum berangkat sekolah, kamu harus sarapan dulu Thalia, Bunda sudah siapin sarapan buat kita loh. Lagian ini masih pagi kamu kan bisa berangkat bersama dengan Kakak kamu."


"Tapi Bund, aku harus pergi ke sekolah takutnya nanti telat. Aku juga malas jika harus di antar dengan Kak Keenan."


"Nggak ada tapi - tapian. Lebih baik kamu sekarang duduk, atau Bunda bakalan marah sama kamu dan nggak mau lagi masak buat kamu. Lagi pula apa salahnya jika berangkat dengan Kakak kamu. Dengar ya Thalia, kamu itu jangan berani melawan Kakak kamu." Vina memberikan ancaman kepada putrinya.


"Iya, Bund." jawab Thalia dengan kesal. Kemudian Thalia langsung bergegas menuju ke arah ruang makan untuk segera sarapan terlebih dulu.


Dan kini Ayah dan Kakak tirinya telah datang di ruang makan untuk bergabung bersamanya sambil menikmati sarapan pagi.


"Selamat pagi, kesayangan Papah." sapa Tristan pada Thalia.


"Pagi, Pah."


"Thalia, kamu yakin mau berangkat ke sekolah di jam segini? Ini masih pagi loh?" tanya Tristan, Ayah tiri Thalia


"Iya, Pah. Soalnya aku masih ada jadwal buat piket pagi." jawab Thalia dengan senyuman manisnya.


"Ya sudah, habiskan dulu sarapan kamu. Dan ingat sebelum sarapan kamu habis kamu tidak boleh berangkat ke sekolah dulu."


Dan beberapa menit kemudian Ayahnya itu sudah menyelesaikan sarapan paginya dan sekarang dia hendak bersiap untuk bekerja begitu juga dengan Ibunya yang ikut beranjak dari ruang makan untukmu menyiapkan keperluan suaminya sebelum suaminya itu berangkat bekerja. Dan kini tinggallah Thalia dan Keenan di ruangan makan tersebut.


"Kamu mau kemana, Thalia? Habiskan dulu sarapanmu." pinta Keenan dengan memberikan tatapan dingin pada Thalia.


Thalia menoleh ke arah Kakak tirinya itu dengan malas.


"Aku mau berangkat sekolah, Kak. Dan aku udah kenyang." jawab Thalia sambil beranjak berdiri dan mengambil tas gendongnya untuk segera pergi ke sekolah.


"Kenyang apanya coba? Kamu tadi cuma makan roti aja yang ada di jalan nanti kamu bakalan jadi laper lagi."


"Beneran Kak, aku itu udah kenyang. Ya sudah aku berangkat ke sekolah dulu ya, Kak. Takut telat."


Sedangkan Keenan masih mengamati gerak-gerik dari Thalia yang terlihat tidak nyaman saat berada di dekatnya.


"Thalia, tunggu. Biar Kakak antar kamu sekolah. Kalau kamu berani menolak di antar Kakak, kamu tidak mau kan mendapatkan hukuman dari Kakak seperti semalam, kan?" ucap Keenan mengingatkan.


"Terserah!" Jawab Thalia ketus.


"Gadis baik." puji Keenan.


"Masuk." perintah Keenan dengan membuka pintu mobilnya setelah mendekat pada Thalia yang berdiri di luar gerbang.


Thalia dengan wajah tertekuk nya langsung masuk kedalam mobil.


Selama perjalanan menuju ke arah sekolah Thalia hanya diam saja. Ya, dia terpaksa ikut dengan Keenan karena ancamannya dari Kakak tirinya itu. Dan tidak mungkin juga jika Thalia menolaknya.


"Thalia, kamu kenapa diam aja? Ngomong dong, sayang?" tanya Keenan saat melihat Thalia hanya melihat ke arah jendela mobil.


Tangan Keenan diam - diam meraih tangan Thalia dan segera mengecupnya.


"Lepas, Kak!" Sentak Thalia penuh dengan emosi.


"Kamu itu kenapa sih, Thalia? Padahal, Kakak itu sayang sama kamu. Kamu itu udah Kakak manjain, dan udah Kakak perhatiin kurang apalagi coba?"


Kemudian, terdengar suara getaran ponsel dari saku baju Thalia, hingga membuat Keenan pun penasaran akan isi pesan milik adik tirinya itu. Membuat Keenan akhirnya menepikan mobilnya. Dan langsung mengambil ponselnya milik Thalia.


"Siapa ini, Thalia?!" Tanya Keenan dengan tatapan tajamnya pada Thalia.


Ya, Keenan sedang menunjukkan isi pesan yang tidak di ketahui dari siapa pengirimnya kepada Thalia karena tidak ada nama ataupun foto profil di WhatsApp itu.


"Cuma pesan dari teman - teman aku yang ada di sekolah, Kak." jawab Thalia saat melihat isi pesan yang tertera di ponsel miliknya.


Keenan meraih kembali ponsel milik Thalia dengan kasar.


"Apa? Teman kamu bilang? Mana ada seorang teman memanggilmu dengan sebutan sayang - sayangan seperti itu.Kamu mau membodohi Kakak ya! Bukankah Kakak udah memperingatkan kamu buat jauhi teman - teman kamu. Dengar ya, Thalia. Kamu itu gak perlu teman, teman kamu itu cuma aku, harus bilang dengan cara apalagi biar kamu itu paham. Atau harus pake kekerasan, atau kamu memang benar-benar sudah siap untuk menikah denganku, hm?" ucap Keenan dengan amarahnya saat melihat isi pesan yang di kirimkan oleh teman Thalia.


Thalia menggeleng - gelengkan kepalanya dengan matanya yang sudah berkaca-kaca ingin menangis.


"Nggak, Kak. Aku itu gak pernah ngebohongin Kak Keenan. Aku juga gak tau, kalau temen aku bakalan kirim pesan kayak gitu." Thalia memberikan penjelasan pada Kakak tirinya itu, jika dia pun tidak tahu kalau Nino akan mengirimkan pesan sayang seperti itu kepadanya.


Mendengar penjelasan dari Thalia membuat Keenan semakin terbakar api cemburu. Kemudian, Keenan langsung melempar ponsel milik Thalia hingga pecah berserakan di aspal.


Melihat ponselnya di lempar ke aspal dengan sangat keras, Thalia pun sangat terkejut apalagi ponsel miliknya itu langsung rusak dan sudah berserakan di jalanan.


"Kak Keenan, ponsel aku kenapa di buang seperti itu?! Kak Keenan benar - benar udah keterlaluan.Memangnya apa salah ponsel aku hingga Kak Keenan melemparnya ke jalanan?!" Teriak Thalia menatap tajam ke Keenan penuh dengan kebencian.


"Kenapa? Kamu lagi marah sekarang? Padahal cuma ponsel doang, aku juga mampu membelikan lagi ribuan ponsel yang seperti itu.Ingat Thalia, jika Kakak tahu ada orang bilang sayang - sayang lagi sama kamu, aku pastikan akan membunuh orang itu."


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.