
"Keenan! Apa - apaan kamu, hah?!" Seru Tristan pada Keenan dengan penuh amarah saat melihat Axel sedang di pukuli oleh Keenan. "Cepat lepaskan, dia!" lanjutnya memberitahu.
"Papa yang apa - apaan?!" Keenan tidak mau kalah dan membentak balik ke Ayahnya. "Lebih baik Papa tidak usah ikut campur urusan kami!" Lanjut Keenan dengan penuh amarah.
"Tidak. Karena Papa tidak akan tinggal diam saja saat melihat kelakuan kamu yang seperti ini." ucap Tristan yang kini sedang melangkah mendekat ke arah Keenan dan menjauhkan Axel dari cengkraman putranya itu.
"Nak Axel, Kamu tidak apa-apa?" tanya Tristan yang mulai khawatir.
"Aku tidak apa-apa, Om." jawab Axel sambil tersenyum ramah.
"Apa kau yakin?" tanya Tristan memastikan masih dengan raut wajah khawatirnya.
"Beneran, Om. Saya tidak apa-apa. Dan saya juga masih bisa kok untuk mengantarkan Thalia ke sekolah."
"Baguslah kalau begitu. Om, hanya takut jika putra Om yang kurang ajar ini akan melukai mu lebih parah lagi?" kata Tristan yang kini sudah bernafas dengan lega setelah mendengar ucapan dari Axel. Sedangkan Keenan yang mendengarkan pembicaraan Ayahnya dan Axel semakin membuat dirinya terbakar emosi sambil menatap tajam ke arah Axel dan Axel berkata. "Biarkan aku yang mengantar Thalia, Om?"
Keenan mendengus kesal. "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk berdekatan dengan adikku!" Tunjuknya ke arah Thalia.
Melihat tingkah putranya yang penuh dengan emosi terhadap Axel itu Tristan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Pria itu mengibaskan tangannya mengabaikan ucapan dari putranya. Dan kini Tristan beralih menatap Axel dengan senyuman ramahnya. "Nak Axel, lebih baik kalian berangkat ke sekolah sekarang, Om takut nanti kalian kesiangan lagi? Biar Kakaknya Thalia nanti Om saja yang akan mengurusnya." ucapnya.
"Baiklah, Om. Kalau begitu saya dan Thalia izin pamit pergi." katanya menghampiri Thalia. Sambil meraih lengan Thalia dan menuntunnya ke arah motornya.
"Aku tidak akan pernah mengizinkan adikku berangkat sekolah bersama denganmu!" Seru Keenan sambil melangkah cepat ke arah Thalia dan langsung menarik pergelangan tangan Thalia hingga terlepas dari genggaman tangan Axel yang belum siap menerima perlawanan dari Keenan.
"Kak Keenan sakit, Kak!" Seru Thalia, merasakan rasa sakit di pergelangan tangannya. Saat Kakaknya itu menarik tangan Thalia dengan cukup keras.
"Ah, maaf. Apakah tadi itu sangat sakit?" tanya Keenan memastikan dengan ekspresi wajah yang tampak khawatir. Dan Thalia memberikan jawaban hanya dengan menganggukkan kepalanya. Kemudian, Keenan pun langsung mengusapnya dengan pelan dan mengecupnya seakan dengan cara itu dapat meredakan rasa sakit di pergelangan tangannya Thalia.
"Keenan lepaskan Thalia!" Teriak Tristan dengan amarahnya saat melihat Keenan mengecup tangan putri tirinya.
"Tidak! Aku tidak mau, Pa! Biar aku yang mengantar Thalia ke sekolah." Tolak Keenan masih kekeuh dengan keinginannya.
"Biar Nak Axel saja yang mengantar adikmu ke sekolah. Lebih baik kamu itu berangkat ke kantor."
"Aku akan berangkat ke kantor tapi sebelumnya aku mengantar Thalia ke sekolah. Dan aku tidak akan pernah mengizinkan anak ingusan ini mengantar adikku."
"Tapi Papa yang sudah mengizinkan Axel untuk mengantar adikmu, Ken! Kamu itu tidak berhak mengatur - atur adikmu!"
"Bodo amat. Biar pun Papa sudah mengizinkannya aku tetap tidak pernah mau mengizinkan anak ingusan itu mengantar adikku."
"Memangnya kenapa? Apa kamu tidak suka jika Papa sudah memberikan izin pada Axel untuk mengantarkan adikmu sekolah, huh?!"
"Bukannya Papa itu tidak suka ya? jika putri kesayanganmu itu dekat dengan laki - laki lain? Tapi kenapa sekarang Papa malah memberikan izin pada anak ingusan itu?!"
Mendengar ucapan dari Ayahnya membuat Keenan semakin menggeram penuh amarah. "Pa, dia itu baik hanya memakai topeng saja dan di dalam hatinya pasti memiliki niat yang buruk pada Thalia. Dan Papa juga baru pertama kali bertemu dengan dia, bukan?"
"Kamu salah, Ken. Papa itu sebenarnya sudah pernah bertemu dengan Axel."
"Maksud, Papa apaan?"
"Asal kamu tahu, sebenarnya setiap ada pertemuan bisnis kerja. Papa itu sudah sering sekali bertemu dengan Axel dan juga Ayahnya.Karena Axel adalah anak dari teman rekan bisnis, Papa." Tristan memberikan penjelasannya. "Jadi? Apalagi yang tidak Papa ketahui tentang Axel?" lanjutnya memberitahu.
"Terserah." ucap Keenan tidak peduli. "Ayo ikut Kakak!" Lanjut Keenan kembali menarik pergelangan tangan Thalia dan mengabaikan ucapan dari Ayah kandungnya itu. Namun, sebelum itu Tristan langsung mencegatnya dengan menendang kaki Keenan hingga membuat Keenan langsung tersungkur dengan cukup keras.
"CK! Sial!" Umpat Keenan yang kini sedang menahan rasa sakit di kakinya. Dan Thalia yang melihat Kakak tersungkur dengan cukup keras pun menjerit histeris. Kemudian, saat Thalia ingin membantu Kakaknya untuk berdiri sayangnya Ayahnya langsung menghalanginya.
"Biarkan saja Kakak kamu seperti itu. Lebih baik kamu itu berangkat sekolah." ucap Tristan mencoba menjauhkan Thalia dengan Keenan.
"Tapi, Pa? Kak Keenan kasihan? Dan dia tampak kesakitan, Pa." ucap Thalia yang mengkhawatirkan keadaan Kakaknya.
"Thalia, sayang. Apa kamu tidak melihat kalau Axel sudah menunggumu terlalu lama di sini, hm?"
Dan kini Thalia balik menatap ke arah Axel dengan perasaan merasa bersalah karena Axel sudah menunggunya terlalu lama akibat drama keributan yang di lakukan oleh Kakak tirinya tadi.
"Baiklah, Pa." ucap Thalia, karena mau tidak mau Thalia langsung menuruti ucapan dari Ayahnya.
Namun, sebelum berangkat bersama dengan Axel. Thalia menyempatkan dirinya untuk melihat kondisi Kakak tirinya saat melihat Kakak tirinya itu yang masih tampak begitu kesakitan.Ya, sebenarnya Thalia merasa bersalah saat melihat keadaan Kakak tirinya itu. Dan Thalia merasa seperti menjadi orang yang sangat jahat sudah meninggalkan korbannya.
Dan kini Thalia pun langsung membonceng motor Axel. Namun selama perjalanan menuju ke arah sekolahnya pikiran Thalia masih mengkhawatirkan kondisi Kakaknya. Ya, mungkin sedikit aneh tapi bukankah yang sedang di pikirkan oleh Thalia itu manusiawi.
"Hei, Thalia? Kamu jangan melamun terus? Aku takut nanti kamu akan jatuh kalau gak pegangan dengan benar?" ucapnya saat Axel saat melihat Thalia dari kaca spion yang tampak sedang melamun.
***
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.