
Dan kali ini Thalia pun kembali melanjutkan langkahnya menghampiri mobil Kakaknya yang terparkir tidak terlalu jauh dari mereka berada. Dan di dalam hati Thalia berdoa jika Kakak tirinya itu tidak melihat kejadian dimana Axel tadi mencium keningnya.
"Kak Keenan..." Ucap Thalia sambil mengetuk jendela mobil dan tidak lama pintu mobil terbuka menampilkan sosok Keenan yang tengah duduk di depan bangku kemudi dengan angkuh. Terlihat sekali laki - laki itu tengah memendam amarahnya setelah melihat kejadian itu. Sungguh, rasanya Keenan ingin sekali memukul Axel saat ini juga.
"Kamu terlambat, sayang. Harusnya kamu itu lebih dulu berada di tempat ini untuk menyambut kedatangan Kakakmu ini." ujar Keenan melirik sekilas pada Thalia yang sudah duduk di sampingnya dengan canggung.
"Maafkan aku, Kak. Aku-"
"Ssst. Kamu tenang aja, Thalia. Kalau bisa jangan grogi seperti itu. Sebesar-besarnya kesalahan kamu. Kakakmu ini akan selalu memaafkan kesalahanmu. Ya, walaupun hari ini suasana hati Kakak sedang tidak baik." ucap Keenan yang kini mulai mengendarai mobilnya.
Thalia tidak menjawabnya. Gadis itu lebih terfokus pada Keenan. Terutama pada kaki Keenan yang tadi pagi habis di tendang dengan sangat keras oleh Ayahnya. "Kak Keenan, Kaki kakak baik - baik saja, Kan?"
"Masih nyeri, kayak kondisi kepala dan hati Kakak." kata Keenan berucap dengan datar. Dan fokus mengendarai mobilnya.
Thalia mengernyitkan dahinya sedikit bingung dengan jawaban dari Kakak tirinya itu.
Kemudian Keenan melirik ke arah Thalia yang berada duduk di sampingnya. Dan satu tangannya terlepas dari kemudi dan terukir di hadapan Thalia. "Mana tangan kamu?"
"Kak Keenan memangnya mau apa?" tanya Thalia ingin tahu, melihat tangan Keenan yang masih terulur di depannya.
"CK! Siniin tangan kamu." decak kesal Keenan. Hingga pada akhirnya Thalia menyerahkan tangannya begitu saja tanpa memikirkan masalah apa yang akan menimpanya setelah ini.
"Good girl." ucap Keenan sambil tersenyum dan memegang tangan Thalia dengan sangat erat. Dan tidak hanya menggenggamnya saja, Keenan juga mengarahkan punggung tangan Thalia di depan bibirnya bersamaan dengan itu juga Thalia tersentak kaget saat Keenan mengecupi punggung tangannya berkali - kali.
"Ini milik Kakak." ucapnya sambil tersenyum senang. Sedangkan Thalia hanya mengerjapkan matanya berkali - kali, seakan apa yang di katakan oleh Keenan mampu menyihir dirinya menjadi seperti ini.
Kemudian Keenan menaruh tangan Thalia di pipinya. Memaksanya untuk mengelusnya dan merasakan bulu - bulu halus di sekitaran wajah tampannya. Ya, Keenan pun mengakui belum sempat mencukurnya karena di sibukkan dengan banyaknya pekerjaan di kantor.
"Kau merasakannya kan, Thalia? Kakak pengin, nanti kamu bantuin Kakak untuk mencukur ya? Sekali - kali kamu itu belajar mengurus calon suami biar bisa secepatnya jatuh cinta kepadaku." ucapnya sambil mengecup tangan Thalia.
"Sudahlah, Kak. Lebih baik Kak Keenan itu fokus menyetir saja. Karena aku tidak mau mengalami kecelakaan akibat ulah Kakak yang manja seperti ini."
"Sayang, apakah kamu tidak sadar di depan sana masih terlihat lampu merah."
Keenan kemudian menarik tangan Thalia hingga tubuh gadis itu mendekat padanya. Dan tidak lupa juga Keenan menahan punggung Thalia. "Sayang, apakah kamu sudah menerima perjodohan itu?" ucap Keenan tiba - tiba. Dan seketika membuat Thalia terdiam dan mengerutkan keningnya menatap ke arah Kakaknya bingung.
"Maksud Kak Keenan apa? Dan perjodohan apa? Aku sama sekali tidak mengerti?" tanya Thalia bingung dengan ucapan Kakak tirinya.
"CK! Jawab saja pernyataan dari Kakak. Tidak usah berpura-pura lagi?"
"Tapi aku sungguh tidak mengerti dengan pertanyaan Kakak? Memangnya aku mau di jodohkan dengan siapa?"
"Axel Dirgantara. Apa sekarang kamu masih berpura-pura tidak tahu, Hah?"
"Apa? A- Axel? Maksud Kakak, aku dan Axel akan di jodohkan begitu?"
"Apa kamu sudah menerima perjodohan itu?" tanya Keenan lagi yang masih menuntut jawaban dari Thalia.
Thalia tidak berani menjawab dan hanya bisa menundukkan kepalanya. Ya, Thalia juga masih terkejut saat Kakaknya itu tiba - tiba membahas tentang perjodohan dirinya dengan Axel. Karena sebelumnya Thalia memang tidak mengetahui tentang hal itu.
"Kak Keenan, itu sudah lampu hijau. Cepetan jalan, Kak!" Ucap Thalia mengalihkan pembicaraan Keenan. Dan Keenan pun mendengus kesal sambil menjalankan mobilnya.
Setelah itu, Keenan pun tiba - tiba langsung menepikan mobilnya di pinggir jalanan yang cukup sepi.
"Kak Keenan kenapa berhenti,Kak?" tanya Thalia lagi yang kini sudah mulai takut. Dan hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Sungguh, Kak. Aku sendiri tidak mengetahui tentang perjodohanku dengan Axel."
"Bohong! Aku tau kamu pasti sudah mengetahuinya. Mana mungkin Papa belum menceritakannya padamu?"
"Demi Tuhan, Kak.Aku tidak tahu tentang perjodohan itu."
"Oke, kalau kamu masih tidak mau menjawab nya." ucap Keenan yang kini mulai melajukkan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Kak Keenan jangan ngebut, Kak. Aku takut." ucap Thalia ketakutan.
"Diam! Karena Kakak ingin memberikan hukuman yang pantas untukmu."
"Kak Keenan mau bawa aku kemana?" tanya Thalia yang mulai menyadari jika Kakaknya itu membawa mobilnya berbeda arah tidak menuju ke arah rumah mereka.
Dan beberapa menit menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya Keenan menghentikan mobilnya di parkiran bawah tanah yang Thalia ketahui itu sebuah bangunan Apartemen mewah yang di miliki oleh Kakaknya.
"Cepat keluar!" Pinta Keenan, yang kini sudah membuka pintu mobil Thalia dengan paksa.
"Aku tidak mau, Kak!" Tolak Thalia cepat. Namun, Keenan langsung menarik tangan Thalia dengan cepat keluar dari mobilnya dan menutup pintu mobil itu dengan keras.
Kemudian Keenan menarik tangan Thalia untuk masuk kedalam lift dan menekan tombol angka 16 untuk menuju ke Apartemen kamar miliknya.
Ting
Pintu lift pun terbuka. Dan Keenan langsung menarik tangan Thalia kembali untuk masuk kedalam kamarnya.
Brak. Pintu kamar Apartemen itu di tutup cukup keras hingga memekak ke telinga. Dan Ya, Keenan pun sama sekali tidak mempedulikan teriakan Thalia apalagi Keenan juga tidak peduli jika pintu kamarnya itu rusak.
"Kak Keenan, sungguh aku sama sekali tidak mengetahui tentang perjodohan itu, Kak."
"Sudah sampai di sini kamu masih belum juga mau mengakuinya, Hah." Ucap Keenan yang masih dengan amarahnya, kemudian Keenan mulai melepaskan jas, dasi dan kemeja miliknya kemudahan membuangnya secara asal.
"Kak Keenan mau apa? Aku mohon, Kak. Jangan lakukan hal itu." ucap Thalia dengan nada bergetar dan dengan kaki yang gemetaran Thalia melangkah mundur, walaupun hal itu sia - sia di lakukannya. Tanpa di jelaskan pun Thalia mengetahui hukuman apa yang Kakak tirinya itu akan berikan.
"Batalkan perjodohan itu." kata Keenan pelan masih melangkah semakin mendekat kearah Thalia. Dan Keenan pun langsung memeluk Thalia.
"Lepaskan aku, Kak Keenan! Jangan macam-macam! Jangan argghh...!"
"Puaskan aku sebelum dengannya.."
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.