
"Rupanya adikku ini melanggar aturanku lagi." bisik Keenan yang sudah entah kapan berdiri di samping Thalia ketika Axel sudah pergi dari rumahnya.
Namun Thalia masih diam layaknya seperti patung. Sungguh hal itu membuat Keenan kembali memanas, melihat sikap Thalia yang semakin hari selalu membantah perintahnya "Ikut Kakak sekarang atau kamu bakalan menyesal setelah ini!"
Dan dengan terpaksa Thalia pun melangkah sedikit demi sedikit mengikuti langkah Keenan dari belakang dengan perasaan yang mulai ketakutan. Dan sekarang Thalia dan Keenan sudah berada di dalam kamar Thalia.
"Thalia kamu itu kenapa selalu saja memancing emosiku, Hah?!"
"Maksud Kak Keenan, apa?"
Dengan cepat Keenan langsung menarik tangan Thalia dengan kasar dan menghempaskannya ke ranjang. Dia tidak memperdulikan ucapan dari Thalia.
"Kamu pikir selama ini Kakak hanya main - main saja dengan ancaman Kakak itu. Bersiaplah, hari ini kau akan benar-benar menjadi Nyonya Alexander." ucap Keenan dengan melepaskan jas dan dasinya kemudian membuangnya secara asal.
Dan Keenan langsung menghujami kecupan di bibir Thalia dengan beringas. Dan tangannya mulai menelusup kedalam seragam sekolah yang masih di kenakan oleh Thalia dan meremas kedua bukit kembar itu dengan kasar.
Thalia memberontak. Ia mencoba mendorong tubuh Keenan namun tenaganya tidak sesuai dengan Keenan. Ia kalah, dan hanya bisa menangis dalam kungkungan Kakak tirinya itu.
"Kak, lepasin aku! Lepasin!" Thalia menjerit dengan mencoba melepaskan tangan nakal Keenan yang kini sedang meremas bukit kembarnya yang selama ini Thalia jaga untuk suaminya nanti.
"Tidak. Aku tidak akan melepaskannya sebelum aku mendapatkannya. Kau itu harus ingat, apapun yang sudah menjadi milikku, aku tidak akan pernah melepaskannya. Termasuk dirimu, Thalia." ancamnya berbisik di telinga Thalia.
"Dan ingatlah ini. Karena hari ini adalah hari spesial kita, sayang. Jadi bersiaplah, karena setelah ini kau akan menjadi Nyonya Alexander di rumah ini. Ah, tidak. Maksudku, aku akan membeli rumah untuk kita tempati berdua saja. Dan aku berjanji akan memenuhi semua kebutuhanmu. Asalkan kau menurut padaku, sayang."
"Cih! Aku tidak sudi. Sampai mati pun aku tidak akan pernah sudi mengikuti cara picik mu, Kak. Lepaskan aku! Lepaskan!"
"Ingat Thalia! Jangan pernah memancing kemarahan Kakak. Kakak bisa melakukan apapun sama kamu tapi Kakak masih kasih kamu satu kesempatan untuk belajar nurut sama Kakak. Dan satu lagi, jauhi dia!" Ucap Keenan sambil berbisik di telinga Thalia sekaligus memberikan peringatan kepada Thalia.
Namun Thalia terlihat bingung untuk menjawabnya. Dan dia pun tidak bisa mengiyakan karena hanya Axel lah yang bisa membantunya keluar dari penjara kecil buatan Kakak tirinya itu. Tapi, jika Thalia menolak keinginan Kakak tirinya itu, dia takut jika Axel akan dalam bahaya. Dan dengan terpaksa Thalia harus mengiyakan kemauan dari Kakak tirinya itu.
"Bagus. Kakak senang akhirnya kamu memilih Kakak di bandingkan dengan laki - laki berandal itu." ucap Keenan sambil mengecup bibir Thalia berkali-kali.
Ya, semarah - marahnya Keenan pada Thalia dan sebanyak apapun Thalia melanggar aturannya tetap saja tidak akan bisa menghilangkan perasaan cintanya dan obsesinya untuk mendapat adik tirinya itu. Dan Keenan juga terus - terusan menyemangati dirinya, agar bisa berdiri tegak dan berjuang untuk mendapat cinta dari adik tirinya itu. Meskipun Keenan tahu, jika dirinya selalu mendapatkan penolakkan dari adik tirinya. Namun, Keenan tetap yakin jika suatu saat nanti Thalia itu akan memilihnya dan seutuhnya akan menjadi miliknya seorang.
***
"Keenan? Kamu kok ada di sini? Bukannya kamu seharusnya di kantor?" tanya Vina, yang sangat terkejut mendapati Keenan berada di dalam kamar Thalia.
Bukannya menjawab Keenan hanya mengusap wajahnya kasar. Terlihat sekali raut wajah kecewa ketika Ibu tirinya itu masuk kedalam kamar Thalia. Sedangkan Thalia langsung menghampiri Ibunya dengan tersenyum saat melihat ekspresi wajah kebingungan dari Ibunya. Ya, semoga saja Ibunya itu tidak melihat kelakuan bejat Keenan.
"Kenapa kalian berdua diam, Hem?"
"Sebenarnya tadi ada masalah kecil saja, Bund." jawab Keenan
"Masalah apalagi? Apa Thalia melakukan kesalahan lagi? Tapi kenapa kamar Thalia sampai berantakan begini?" tanya Vina ingin tahu.
Sedangkan Keenan yang mendapatkan respon baik dari Ibu tirinya langsung merubah eskpresi wajahnya yang terlihat sedih dan berkata. "Sebenarnya ini salah aku juga sih, Bund?"
"Thalia tadi itu marah - marah sama aku, Bund. Bahkan Thalia belum menerima permintaan maaf dariku." jawab Keenan dan melirik sekilas ke arah Thalia.
"Memangnya apa yang membuat Thalia marah sama kamu, Ken?" tanya Vina sambil melirik ke arah Thalia dengan tatapan yang tajam.
"Tadi itu Keenan ada meeting, Bund. Jadi Keenan telat jemput Thalia. Tapi Thalia malah marah - marah. Aku juga tadi udah minta maaf. Tapi Thalia belum mau memaafkan aku."
"Thalia. Dengarkan, Bunda! Kamu itu tidak boleh seperti itu lagi pada Kakakmu sendiri. Kamu tahukan kalau akhir - akhir Kakak kamu itu sedang sibuk di perusahaan bantuin Papa jadi maklumin aja kalau Kakak kamu itu telat jemput kamu ke sekolah. Atau, kamu kan bisa telepon Bunda biar kirim supir pribadi buat jemput kamu ke sekolah."
"Tapi masalahnya bukan seperti itu, Bund. Asal Bunda tau ya kalau Kak Keenan itu su-"
"Cukup!" Seru Vina memotong ucapan Thalia. "Cepat minta maaf ke Kakak kamu." lanjutnya.
"Maafkan aku, Kak." ucap Thalia langsung.Ya, Thalia tidak ingin membuat masalah ini lebih panjang lagi jika ibunya itu sudah ikut campur.
"Iya, Kakak terima permintaan maaf dari kamu tapi kamu janji ya jangan marahin Kakak kayak tadi lagi. Dan yang di katakan Bunda ada benarnya juga, nanti kalau Kakak gak bisa jemput mendingan kamu telepon Bunda buat kirim supir pribadi buat jemput kamu."
Sedangkan Thalia kini hanya mengangguk menuruti perkataan dari Kakak tirinya itu dan berharap agar drama yang memuakkan ini cepat selesai.
Wanita paruh baya itu tersenyum dan sangat senang melihat kedua anaknya yang sudah kembali akur.
"Ya sudah, Bund. Kalau begitu aku izin balik ke kantor lagi ya." ucap Keenan lalu mengambil jas dan dasi yang tadi di lempar di lantai. Dan sebelum pergi dari kamar Thalia. Keenan menatap tajam ke arah Thalia seakan memberikan kode kepada Thalia untuk menutup mulutnya dan tentunya saja Thalia mengerti akan kode yang Keenan lakukan tadi. Meskipun Thalia masih ketakutan tetapi sebisa mungkin dia menyembunyikan rasa takutnya itu.
Setelah kepergian Keenan kini Vina beralih menatap ke arah Thalia dengan memasang ekspresi wajah yang tampak kesal "Ingat Thalia.Kamu itu harus bisa membuat Keenan merasa nyaman dengan keberadaan kamu di sini. Karena Bunda itu tidak mau ya jika Keenan nanti mengadu ke suami Bunda dan ujung-ujungnya nanti Bunda dapat teguran dari Suami Bunda karena Bunda tidak bisa mendidik kamu dengan baik."
"Bund, sekali ini saja Bunda dengerin ucapan Thalia. Kalau Kak Keenan itu sebenarnya-"
"Cukup Thalia. Bunda hanya ingin minta tolong sama kamu. Sekali ini saja turuti kemauan Bunda. Dengar Thalia, Bunda itu tidak mau jika pernikahan Bunda kali ini jadi hancur. Jadi biarkan kali ini, agar Bunda bisa bahagia dengan suami Bunda yang sekarang." pinta Vina yang lagi - lagi langsung memotong ucapan Thalia.
Thalia pun hanya bisa mengangguk patuh. Ya, seandainya Ibunya itu tau kelakuan bejat anak tirinya itu kepada putrinya. Sudah di pastikan Ibunya itu akan sangat kecewa karena selalu membela Keenan dan mengizinkan Keenan untuk mendekatinya.
"Ya udah gak usah di pikirin. Mendingan kamu sekarang itu langsung ganti baju dan setelah itu nanti kamu bantuin Bunda dan Bik Jeje siapin makan malam. Mulai sekarang kamu itu harus bisa belajar memasak, biar nanti setelah berumah tangga kamu itu bisa memasak dengan baik." ucap Vina, kemudian langsung beranjak pergi dari kamar Thalia.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.