Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Mungkinkah Cemburu



Dalam alam bawah sadarnya, Thalia merasa seseorang terus menerus memanggil namanya. Ia juga merasa kedua pipinya tengah di tepuk - tepuk oleh seseorang.


"Thalia, bangunlah. Jangan membuat aku khawatir, sayang. Aku mohon, bangunlah." ucap suara milik seorang pria yang sedang membangunkan dirinya.


Merasa kesadarannya mulai kembali dengan perlahan Thalia mulai membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Seketika cahaya lampu yang menyilaukan, membuat matanya mengerjap beberapa kali.


Begitu matanya telah sepenuhnya terbuka, dapat ia lihat, jika Angga tengah berdiri tidak jauh darinya dengan raut wajah yang menggambarkan ke khawatiran. Ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan mendapati dirinya berada di ruangan serba putih yang mirip seperti klinik kesehatan. Di tangan kanannya juga terdapat selang yang ia yakini sebagai infus.


Dan dengan bantuan dari Angga, ia mencoba untuk mendudukkan diri dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang pasien. Tangan kirinya yang tak di infus langsung di genggam dengan erat oleh Angga.


"Kita ada di mana?" tanya Thalia dengan suara Thalia yang begitu lirih.


"Kita sedang ada di klinik yang berada tidak jauh dari villa. Karena saat perjalanan pulang, aku tiba - tiba di telepon oleh Bik Nila yang mengabari jika kamu pingsan di halaman rumah. Memangnya apa yang tengah kamu lakukan, Thalia? Sampai pingsan lama sekali?" tanya Angga yang penasaran.


Dan Thalia pun kini mengedarkan pandangannya ke arah jendela kaca yang tak tertutup tirai kaca. Terlihat langit sudah berubah menjadi gelap. "Selama itu kah aku pingsan." ucap Thalia di dalam hati.


"Ah, aku sedang membersihkan daun di halaman. Mungkin karena aku kelelahan, makanya berkahir dengan pingsan." sahut Thalia dengan senyuman di wajahnya.


Ya, sebisa mungkin dia harus menyembunyikan kebenarannya. Dan ia tidak mau menjadi penyebab pertengkaran antara ibu dan anak itu. Mengingat keduanya sama - sama keras kepalanya, tentu saja akan sangat sulit untuk memisahkannya.


"Untuk apa kau membersihkan halaman yang luas begitu. Kau itu juga sedang hamil. Jadi jangan egois, perhatikan juga anak yang ada di dalam kandunganmu." geram Angga.


"Maaf. Karena aku hanya ingin meringankan pekerjaan Bik Nila, itu saja." sahut Thalia yang mencoba untuk membela diri.


"Aku bukannya melarangmu, sayang. Jika kau memang ingin membantu Bik Nila, maka silahkan saja. Tapi bukan berarti harus memforsir tubuhmu juga. Apa kau paham maksudku?" tanya Angga yang di balas anggukan kepala dari Thalia.


"Lebih baik, sekarang kau istirahat dulu. Dokter memperbolehkan kamu pulang besok pagi. Aku akan tidur di sampingmu. Ayo tutup matamu." ujar Angga yang ikutan tidur di ranjang sebelah kiri Thalia.


***


Pagi harinya.


"Apa sudah tidak ada yang tertinggal, sayang?" tanya Angga sambil memastikan sudah tidak ada lagi barang yang tertinggal di ruang inap Thalia semalam.


"Aku sudah mengeceknya lebih dari lima kali, dan semuanya telah masuk kedalam tas punggung yang kau bawa itu, Angga. Lagi pula, barang bawaanku hanya baju kotor dua stel saja. Memangnya apa yang perlu di khawatirkan." sahut Thalia dengan tangan kanannya melingkar dengan nyaman di lengan Angga.


"Aku hanya memastikan saja. Kalau begitu, Ayo kita pulang." ajak Angga.


Mereka berdua akhirnya pergi meninggalkan ruang rawat inap Thalia. Namun, sebelum pulang, Angga meminta Thalia untuk duduk terlebih dahulu di kursi yang ada di lobby, sedangkan Angga akan mengantri membayar biaya perawatan Thalia di meja resepsionis.


Merasa bosan, Thalia pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Namun, belum sempat ia membuka ponsel miliknya, terlihat seorang wanita dengan menggunakan snelli dengan sebuah stetoskop di lehernya. Wanita itu nampak mencoba untuk mendekati Angga.


Dan dengan sok akrab, wanita itu menepuk pundak Angga dan tersenyum ke arahnya.Terlihat hampir lima menit mereka berdua mengobrol, meninggalkan Thalia yang berusaha untuk mengontrol perasannya saat ini.


Hatinya terasa sangat sesak saat ini, saat melihat Angga tampak akrab dengan seorang wanita selain dirinya. Dan entah mengapa, Thalia merasa bagian terdalam tubuhnya ikut bergejolak melihat kedekatan antara Angga dan wanita itu.


"Apa dia tengah mengejekku." ucap Thalia yang tak mulai stabil.


Terlihat akhirnya Angga pun mulai mengakhiri obrolan serunya dengan dokter wanita itu. Sedangkan Thalia hanya menyambut kedatangan Angga dengan raut wajah datarnya.


"Maaf, jika kau harus menunggu lama, sayang." ujar Angga terkekeh pelan.


Tanpa menjawab penuturan dari Angga. Thalia melangkah lebih dahulu meninggalkan Angga menuju kedalam mobil dan dengan cepat ia membuka pintu depan mobil dan mendudukkan dirinya di sebelah Hardi yang berada di kursi pengemudi. Tak berapa lama kemudian Angga pun mulai masuk kedalam mobil dan mendudukkan diri di kursi belakang mobil. Angga kemudian menatap ke arah kekasihnya itu yang kini sudah duduk di kursi depan.


"Thalia, lebih baik kamu pindah ke belakang, atau mobil ini tidak akan jalan sama sekali." ujar Angga dengan tegas.


Dan dengan terpaksa Thalia mengalah dan berpindah ke tempat duduk di sebelah Angga. Namun, Thalia yang masih merajuk berusaha untuk duduk menjauh dari Angga. Membuat terciptanya sebuah celah di antara mereka berdua.


"Tidak seperti biasanya kau duduk berjauhan dariku. Bukankah biasanya kau yang paling bersemangat berdekatan denganku." tutur Angga yang masih penasaran dengan perubahan sikap dari Thalia yang begitu mendadak.


"Diamlah," sahut Thalia yang tengah memandang pemandangan mewah lewat jendela mobilnya


Angga pun terlihat berpikir sejenak, ia kembali menggali ingatannya agar dapat menemukan peristiwa yang dapat menyebabkan Thalia merajuk seperti itu, hingga sebuah ingatan pun muncul di otaknya.


"Ahh, jadi seperti ini rasanya kalau sedang di cemburu ni sama pacar sendiri." ucap Angga yang kini terkekeh geli.


"Yang cemburu juga siapa. Jangan terlalu percaya diri." dengus Thalia kesal


Angga hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah, melihat kekasihnya nampak sedang cemburu buta. Ia pun akhirnya menjelaskan siapa wanita yang berbicara dengannya tadi.


"Namanya Lia, di adalah temanku saat kembali berkuliah. Ya, walaupun berbeda prodi, kami cukup dekat dulu karena kami tergabung di organisasi kampus yang sama. Kau tahu, kami tadinya hanya mengobrol saja, tidak lebih dari itu. Sungguh. Jadi, kau jangan khawatir kalau aku akan oleng. Aku itu sudah terlanjur sayang banget sama kamu, Thalia." jelas Angga dengan tatapan sayunya.


Kalau boleh jujur sebenarnya Thalia masih meragukan ucapan dari Angga. Karena Thalia tahu, Angga itu akan berubah menjadi sosok yang dingin saat di luar jam kerjanya yang bahkan sangat benci jika di dekati oleh wanita asing. Tapi, saat tadi melihat interaksi hangat antara Angga dan perempuan yang bernama Lia itu, membuat Thalia menjadi sedikit lebih was - was.


"Terserah," jawab Thalia yang mencoba untuk mengakhiri percakapannya dengan Angga.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....