
"Thalia, sayang. Bangun dulu, kamu itu belum makan malam, sayang." ujar Vina yang kini sedang membangunkan Thalia.
"Udah jam berapa, Bund?" tanyanya sambil mengucek matanya.
"Baru jam tujuh malam. Tapi kamu harus makan dulu setelah itu baru lanjutkan tidur kamu lagi ya." pinta Vina, Ibunya.
"Iya, Bund. Aku basuh muka dulu ya."
"Iya, tapi kamu jangan lama - lama ya. Karena Papa dan Kakak kamu udah nungguin." ucap Vina kemudian beranjak pergi dari kamar Thalia.
Setelah Bundanya pergi barulah Thalia pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya dengan bersih dan cepat. Dia hanya tidak ingin berlama-lama di dalam kamar dan berakhir dengan terkena semprotan pedas dari mulut Bundanya lagi.
Thalia menutup pintu kamarnya dan melangkah pelan menuruni anak tangga dengan hati - hati agar tidak terjatuh. Dan matanya harus terbuka dengan lebar agar bisa melihat jalan ke arah ruang makan. Dan Thalia yang awalnya menunduk kini mendongak dan hal pertama kali yang Thalia lihat adalah sosok yang paling ingin dia hindari di dunia ini kini sedang tersenyum begitu mengerikan ke arahnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Keenan, Kakak tirinya itu.
Melihat tingkah Kakaknya yang terlihat mesum kepada dirinya Thalia pun baru menyadari jika dirinya hanya mengenakan celana pendek. Sontak saja hal itu membuat Thalia ingin mengganti celana pendeknya dengan celana yang lebih pantas.
"Thalia, kamu mau pergi kemana lagi?" ucap Tristan, Ayah tirinya. Saat melihat putrinya hendak berbalik pergi dari ruang makan itu.
Thalia pun mendengus kesal, dan perlahan membalikkan badannya langsung menghadap ke arah Ayahnya.
"Ah, Thalia mau balik ke kamar lagi, Pa?"
"Memangnya kamu mau ngapain lagi? Apa kamu gak kasihan sama Bunda kamu yang udah capek menyiapkan makan malam buat kita?"
"Dengerin tuh, dek?" kata Keenan yang ikut - ikutan bersuara.
Thalia hanya memejamkan matanya. Mencoba untuk menghiraukan ejekan yang di berikan oleh Kakak tirinya itu kepadanya. Thalia pun menghela nafas pasrah lalu kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda menuju ke ruang makan. Ikut bergabung bersama dengan mereka.
"Duduk di sini, dek." tawar Keenan masih bersikap dengan ramah sambil menunjuk bangku kosong yang ada di sampingnya.
"Terima kasih, Kak. Tapi aku ingin duduk di samping Bunda saja." tolak Thalia halus yang langsung berjalan ke arah Bundanya.
"Kok gitu. Ayolah dek duduk di samping Kakak."
"Nggak mau, Kak."
Sedangkan Vina yang merasakan bau - bau pertengkaran di antara Thalia dan Keenan langsung menengahi mereka dengan menyuruh Thalia untuk segera mengalah dan duduk di samping Keenan.
"Thalia. Turuti aja perintah Kakak kamu biar kita itu cepat makan malam." Ucap Vina, yang kini merasa sedikit kesal dengan kelakuan putrinya.
Ya, tentu saja Keenan merasa senang saat tahu Ibu tirinya itu berpihak lagi kepada dirinya.
Meski merasa sedikit kesal dengan sikap Ibunya. Akhirnya Thalia pun langsung menuruti perintah dari Ibunya dan dengan terpaksa dia langsung duduk di samping Keenan.
"Thalia, kalau kamu merasa kurang nyaman duduk di sebelah Kakak kamu. Kamu bisa duduk di samping Papa." kata Tristan saat melihat kegelisahan di wajah putrinya itu.
"Papa tidak usah khawatir. Thalia itu suka kok duduk di samping Kak Keenan."
"Tapi, sayang-"
"Sudahlah, Pa. Thalia gak masalah kok duduk sampingku." Keenan langsung memotong ucapan dari Ayahnya itu.
"Iya, Pa. Lebih baik kita lanjutkan makan malam kita. Bukankah Papa juga menginginkan jika Thalia dan Keenan itu bisa lebih dekat layaknya sebagai Kakak dan adik kandung." ucap Vina yang meyakinkan suami tercintanya.
Keenan mendekat. "Kamu nakal?" bisiknya tepat di depan telinga Thalia sambil tangan kirinya mengusap paha Thalia. Dan tentunya hal yang dilakukan Keenan tidak di ketahui oleh orang tuanya.
Sedangkan Thalia yang kini merasakan, tangan nakal Kakaknya yang sedang mengelus pahanya tentu saja membuat Thalia sebisa mungkin untuk menahan dirinya secara mati - matian agar bersikap biasa saja.
Namun acara makan malam Tahlia semakin tidak mengenakkan saat usapan tangan Keenan di pahanya kini mulai menyusup masuk kedalam kaos yang sedang di kenakan oleh Thalia, hingga menimbulkan sensasi aneh di perutnya.
"Thalia, apa kamu sakit?"
"Ti-Tidak, Pa. Aku baik - baik saja kok."
"Keringetan? Kamu lagi sakit, dek?" tanya Keenan yang kini langsung memasang wajah khawatirnya. Ya, padahal di dalam hatinya dia sedang tertawa puas melihat ekspresi kegelisahan yang di buat oleh adik tirinya itu.
"Aku baik - baik saja, Kak. Lebih baik Kak Keenan lanjutkan makannya."
"Tapi kamu terlihat tidak baik - baik saja."
"Sudah - sudah. Thalia lebih baik kamu selesaikan makan malam kamu dan setelah itu langsung aja ke kamar. Dan jangan ribut lagi."
"Iya, Bund."
***
Baru sebentar Thalia memasuki mimpi. Tiba - tiba saja Thalia terbangun lagi akibat ada sebuah tangan yang memeluk erat pinggang rampingnya dan ia pun menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapat wajah Kakaknya yang sudah berada di sampingnya.
"Kak Keenan mau apa kesini? Bukankah Kakak sudah punya kamar sendiri?" ucap Thalia mencoba melepaskan lengan Keenan.
"Bagaimana kalau kita melakukannya sekarang?" bisik Keenan dengan suara seraknya.
"Ja- jangan, Kak. Aku tidak mau!"
"Ayolah Thalia. Kakak tidak bisa lagi menunggunya. Pokoknya malam ini kamu itu harus melayani Kakak dan menyerahkan semuanya. Siapa suruh kamu tadi sangat seksi." ujar Keenan yang masih keras kepala.
"Aku tidak mau. Jangan sentuh aku!" Seru Thalia.
Ucapan Thalia langsung terhenti saat Keenan kembali mencengkram kedua tangannya dan mengurung pergerakannya.
"Lepaskan aku, Kak Keenan! Kau bukan manusia, kau jahat, Kak!"
"Ssst. Kenapa sih, kamu itu berisik banget.Kamu itu tinggal mengiyakan kemauan Kakak apa susahnya sih dan itu sudah sangat cukup untuk Kakak. Karena Kakak sudah tidak tahan lagi untuk memasuki mu."
"Aku mohon jangan lakukan itu, Kak. Aku mohon." Isak pilu Thalia di abaikan oleh Keenan.
"Tidak akan sayang, aku akan membuatmu terus menyebut namaku, aku akan meminta lebih dari ini, malam ini kita akan melakukan percintaan yang panas, sayang. Bersiaplah. Sampai kau tunduk padaku atau sampai kau hamil anakku. Dan aku tidak peduli dengan penolakanmu!"
"Kak aku mohon. Jangan lakukan ini. Aku takut." kata Thalia saat Keenan sudah mulai membuka baju Thalia dan hanya menyisakan pakaian dalam, dan Keenan pun tersenyum senang. Sedangkan Thalia mulai terisak merasa di lecehkan oleh Kakak tirinya sendiri.
"Woow, sangat indah." ucap Keenan saat memandangi tubuh Thalia yang putih mulus dan bersih itu.
Plak.
Thalia pun langsung melayangkan sebuah tamparan keras di pipi Keenan untuk menyadarkan Kakak tirinya itu. Tapi bukannya sadar Keenan malah terlihat semakin emosi atas perbuatan Thalia terhadapnya.
"Ah, sudah berani ya kamu menampar pipi, Kak! Kamu pikir kamu punya hak apa sehingga berani melakukan hal itu, Hah?!" Desis Keenan mencengkram kuat rahang Thalia lalu kembali menciuminya secara brutal.
Thalia tentu saja memberontak dengan cara memukul dan berusaha untuk menendang Kakaknya. Dan usaha Thalia tidak sia - sia dia berhasil membuat Keenan tersungkur ke lantai. Saat Thalia berhasil menendang aset pribadi milik Kakaknya. Tanpa menunggu lama. Thalia langsung mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya dan langsung berlari pergi meninggalkan kamarnya.
****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.