Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Keenan Menyebalkan



Setelah menyelesaikan semua tugas sekolahnya. Thalia pun beranjak pergi ke kamar untuk mencuci mukanya sebelum tidur.


Dan saat keluar dari kamar mandi betapa terkejutnya Thalia saat melihat Kakak tirinya itu sudah berada di dalam kamarnya dan kini sedang duduk di ranjang tidurnya hanya dengan menggunakan celana olahraga tanpa mengenakan pakaian dan sedang fokus pada iPadnya.


"Kak Keenan! Kenapa Kakak bisa masuk kedalam kamar aku lagi, padahal aku udah kunci pintu kamarku. Memangnya Kakak masuk kamarku tadi lewat mana? Dan kenapa Kakak masuk kedalam kamarku gak pakai baju?" tanya Thalia kesal, karena setiap malam Kakaknya itu selalu bisa masuk kedalam kamarnya meski pintu kamar sudah di kunci rapat.


"Kakak tadi masuk lewat pintu lah," jawab Keenan santai "Mulai sekarang kamu itu harus terbiasa kalau aku mau tidur gak pakai baju cuma pakai celana aja." lanjutnya memberitahu.


"Udah lah Kak Keenan jangan aneh-aneh deh. Lebih baik Kak Keenan itu pergi ke kamar Kak Keenan sendiri. Aku takut nanti ketahuan sama Bunda dan Papa bagaimana kalau mereka liat Kakak ada di kamarku? Kumohon Kak, jangan seperti ini dan tolong mengerti posisi ku." ucap Thalia yang memberikan teguran untuk Kakak tirinya itu yang terlihat tak menggubris teguran dari Thalia.


"Dari pada kamu ngomel-ngomel terus, mendingan kamu kesini deh. Kita itu tidur bareng, Kakak juga udah mulai ngantuk." ucap Keenan dengan menepuk ranjang tidur Thalia agar Thalia segera naik ke tempat tidur dan tidur sampingnya.


Namun Thalia masih tidak bergeming dari tempatnya dia masih berdiri di depan pintu kamar mandi sambil memandang ke arah Keenan dengan tatapan yang kesal.


"Mau sampai kapan Kak Keenan bersikap seperti ini terus. Ingat Kak, kita ini masih saudara.Ya, walaupun kita bukan saudara kandung. Jadi tolonglah Kak, anggap aku ini sebagai adikmu saja, dan aku pun sama. Sampai kapanpun Kak Keenan adalah Kakakku."


"Kenapa sekarang kamu itu jadi bawel banget sih. Kakak kesini cuma pengin tidur bareng sama kamu aja. Lagi pula kalau tidur berdua kan lebih hangat, jadi kamu gak ngerasa kedinginan." ucap Keenan sambil mengedipkan salah satu matanya ke arah Thalia.


"Aku tetap gak mau. Lebih baik Kak Keenan pergi dari kamarku atau aku yang pergi dari kamarku."


"Thalia, apa kamu nggak ingat ya? Dulu waktu kamu masih kecil Kakak juga sering peluk kamu saat tidur. Dan kamu terlihat nyaman - nyaman aja waktu itu. Lalu? Kenapa sekarang kamu berubah. Lagi pula beberapa hari yang lalu Kakak juga pernah tidur di kamarmu juga kan? Apa salahnya jika kita mengulang kembali." ucap Keenan.


"Usia yang membuatku berubah, Kak. Lagi pula kita sudah sama - sama dewasa dan kita itu bukan muhrim jadi gak sepantasnya kita berada di dalam satu kamar yang sama." Seru Thalia memberikan penjelasannya.


"Ah, kalau masalahnya cuma itu. Kakak bakal halallin kamu secepatnya, Bagaimana? Tapi kamu juga harus mau kalau kamu itu Kakak ajak nikah. Jadi, Kakak kan bisa masuk ke kamar kamu sepuasnya, mudahkan."


"Jangan berkhayal terlalu tinggi, Kak. Aku yakin Papa dan Bunda sampai kapanpun tidak akan pernah membiarkan rencana Kakak itu berjalan dengan keinginan Kakak. Ingat Kak, walaupun Papa Tristan bukan Ayah kandungku tapi dia sudah menganggap ku seperti anak kandungannya sendiri." jawab Thalia. "Aku saranin Kak Keenan jangan bersikap seperti anak kecil. Ingat Kak, Kakak itu sudah dewasa dan pastinya juga sudah bisa mengambil sikap yang tegas untuk tidak membuat aib untuk keluarga. Atau Kak Keenan lebih baik nyari perempuan cantik yang mau sama Kakak. Jangan terus menerus mengejar ku seperti ini. Ku mohon mengertilah perasaanku." lanjutnya memberikan saran.


"Aku nggak peduli Thalia." Seru Keenan yang kini sudah mulai kesal. "Apalagi untuk Papa tidak mempunyai hak untuk menghalang - halangi ku dengan masa depanku." lanjutnya memberitahu.


"Apa Keenan sedang bermusuhan dengan Papa? Atau Kak Keenan sedang ada masalah dengan Papa?" tanyanya ingin tahu.


"Kalau kamu ingin tahu jawaban dari Kakak mendingan kamu tidur di samping Kakak. Memangnya kaki kamu gak pegal berdiri lama - lama di situ." ucap Keenan kemudian meletakkan iPadnya di atas meja samping ranjang dan menatap ke arah Thalia.


"Kalau Kak Keenan gak mau jawab ya udah. Dan satu hal lagi lebih baik aku keluar aja dari kamarku gampang kan?"


"Thalia, berani kamu keluar dari kamar ini. Jangan harap kalau besok pagi kamu itu masih perawan." ancam Keenan


"Terserah. Mending kamu itu nurut saja saja Kakak, Thalia."


"CK! Menyebalkan sekali!" Gumam Thalia menghentakkan kakinya dan berjalan menuju ke arah Keenan dengan ekspresi wajah yang tampak kesal.


"Sekarang Kak Keenan jawab pertanyaan aku. Apa benar Kak Keenan sedang bermusuhan dengan Papa." tanya Thalia yang kini sudah berbaring di sampingnya Keenan.


"Aku nggak ngajak nya bermusuhan. Tapi kalau suatu saat nanti Papa tidak merestui hubungan kita, aku tidak perduli. Dan yah, mungkin saja kita bisa jadi bermusuhan."


Setelah mendengar ucapan dari Keenan. Thalia pun langsung mengambil bantal dan selimutnya hendak beranjak turun dari ranjang tidurnya namun langkahnya terhenti saat Keenan memegang tangannya dan berkata. "Mau pergi kemana kamu?"


"Aku mau tidur sofa saja. Karena aku itu gak mau tidur sama Kak Keenan." jawab Thalia dengan muka datarnya tanpa mau menatap ke arah Keenan.


"Kenapa kamu itu keras kepala sekali, Thalia." Kemudian Keenan langsung menarik tangan tangan Thalia dan kini sudah berada di dalam pelukan Keenan. Dan dengan cepat Keenan langsung menghujami bibir mungil Thalia dengan kecupan yang mesra layaknya seorang sepasang kekasih.


Thalia menegang saat Kakak tirinya itu mencium dirinya. Sebisa mungkin dia berusaha lepas dari pelukan Kakaknya namun usahanya sia - sia saja karena tenaganya tidak sebanding dengan Keenan.


"Apa ini sudah cukup untukmu, sayang? Karena ini cuma masih pemanasan aja loh. Dan kedepannya aku akan memberikan lebih banyak adegan yang lebih menyenangkan. Maka dari itu, kamu itu harus nurut padaku mungkin saja aku tidak akan merusak kehormatanmu kalau kamu itu mau nurut."


Dan Thalia hanya bisa menangis di dalam pelukan Keenan setelah mendengar ucapan dari Keenan tadi.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.