Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Bertemu Sahabat



"Kenapa gak mandi dari tadi, sayang. Kalau tadi kamu mau mandi kan kita bisa mandi bareng." goda Keenan dengan melepaskan satu tangannya dan mengelus puncak rambutnya Thalia.


Thalia membulatkan matanya mengarah pada Keenan yang kini sudah bertindak di luar batas lagi.


"Stop Kak Keenan. Jangan menggodaku terus, sikap Kak Keenan sangat menjijikkan tau nggak!" Geram Thalia langsung mendorong tubuh Keenan hingga membuatnya terhuyung ke belakang.


Dan Thalia pun langsung berlari ke arah kamar mandinya dan mengunci pintu kamar mandi itu dari dalam.


"Ya ampun, apa yang harus gue lakukan kalau tiap hari Kak Keenan selalu kurang ajar. Aku nggak kuat jika selamanya akan di perlakukan seperti ini oleh Kakakku sendiri." gumam Thalia dengan jantungnya yang berdegup dengan kencang karena sangat di landa ketakutan.


Kemudian Thalia pun langsung membersihkan tubuhnya karena dia tidak ingin terlambat datang ke sekolah. Dan Seperti biasa, Thalia selalu berangkat bersama dengan Kakaknya menuju ke sekolahnya.


***


Saat selesai meeting Keenan tidak sengaja bertemu dengan sahabatnya sekaligus rekan kerjanya.


"Hei Keenan, kapan lo balik dari negara E? Gue sama sekali gak percaya tadi, kalau lo itu ternyata pemilik perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan milik gue?" ucap Gilang, sahabat Keenan.


Keenan tersenyum tipis mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu.


"Gue juga masih belum lama tinggal di sini. Gue di sini juga bantuin Papa Gue buat bantu perusahaannya. Ya, lo kan tau sendiri kalau hanya gue yang bisa bantuin Papa, adek gue yang cewek juga masih sekolah ya belum bisa di andelin. Apalagi cewek jaman sekarang yang di utamakan cuma skincare doang" ucap Keenan sambil curhat ke sahabatnya itu.


Mendengar ucapan dari Keenan. Gilang pun tertawa.


"Ya, emang gitu sih? Ucapan lo itu emang ada benarnya juga." sahut Gilang dengan kekehanya.


"Ngomong - ngomong gimana nih perjalanan cinta dari seorang Keenan Alexander? Boleh dong kalau gue tau?" tanya Gilang menyelidik.


Keenan tersenyum masam. "Cinta apaan sih? Gak ada cinta gue." jawab Keenan dengan nada sumbang.


Gilang mengerutkan keningnya menatap ke arah Keenan yang masih tak percaya dengan pengakuan dari sahabatnya itu.


"Gue gak percaya. Secara lo kan seorang pebisnis yang sukses, lo itu mapan dan lo itu juga sangat tampan. Masa iya, seorang Keenan Alexander gak punya pacar?" ledek Gilang dengan senyuman smirk mengarah kepada Keenan.


Keenan menghembuskan nafasnya kasar, dengan memejamkan matanya.


"Ya, gue itu memang punya segalanya. Tapi sayangnya untuk masalah cinta. Cinta gue bertepuk sebelah tangan." jawab Keenan jujur kepada sahabatnya yang bernama Gilang itu.


Mendengar ucapan dari Keenan, Gilang hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Apa? Seorang Keenan Alexander yang sangat sempurna ini di tolak cewek? Memangnya siapa cewek itu yang udah berani nolak lo? Apa lo itu kurang berusaha buat dapetin dia ya?" tutur Gilang.


Keenan terdiam mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu


"Iya, apa yang lo omongin itu memang benar. Gue itu harus nyari cara yang cepat buat naklukin cewek itu." ucap Keenan. "Kalau begitu, bagaimana kalau lo makan siang di rumah gue aja. Ada hal yang ingin gue obrolin lagi sama lo juga." lanjutnya.


"Oke," jawab Gilang.


***


Thalia merasa cukup senang karena saat dirinya pulang sekolah dia jemput oleh supir dan bukannya Kakak tirinya itu. Karena Keenan sedang ada meeting. Dan sekarang, Thalia sedang berada di dapur.


"Thalia, kamu lagi mau masak apa? Keenan udah beliin makan enak, kok kamu malah bikin mie instan?" tegur Vina, Bundanya.


"Ya, Thalia lebih baik makan mie instan, daripada makan makanan milik Kak Keenan, Bund." jawab Thalia sambil meletakkan sebungkus mie ke air yang sudah mendidih.


"Kamu itu ya, suka sekali kalau liat Kakak kamu marah."


"Biarin aja."


"Ya sudah, Bunda mau pergi dulu." Ucap Vina. "Dan hati - hati tangan kamu, tangan kamu kan masih luka. Jadi kamu gak usah cuci piring, karena Bik Jeje udah balik dari kampung." lanjutnya memberitahu.


"Iya, Bund. Memangnya Bunda mau pergi kemana?"


"Ah, Bunda mau ada acara amal di panti asuhan sama Papa."


Setelah kepergian dari sang Bunda, dan tak lama dari itu juga, terdengar suara laki - laki memasuki rumah. Mereka langsung masuk kedalam ruang makan.


"Tuan muda. Tuan muda sudah pulang?" tanya asisten rumah tangga yang bernama Bik Jeje itu.


"Iya. Bik, apa Thalia sudah pulang sekolah?" tanya Keenan yang mengkhawatirkan Thalia.


"Nona Thalia, sudah pulang, Tuan muda." Jawa Bik Jeje.


"Oh? Ya udah, bagus kalau begitu." Jawab Keenan.


"Tapi ngomong-ngomong, sekarang Thalia ada dimana, Bik?" tanya Keenan yang tidak mendapati keberadaan Thalia.


"Ah, Non Thalia sedang berada di dapur, Tuan muda. Tadi Non Thalia sedang membuat mie instan" jawab Bik Jeje.


"Apa? Makan mie instan, Bik? Kan, aku udah pernah berkali-kali bilangin kalau Thalia itu gak usah makan mie instan lagi. Bandel banget sih dia. Padahal aku udah sering ngelarang kaya gitu juga untuk kesehatannya sendiri."


Dan Keenan langsung beranjak dari tempat duduknya.


"Kamu tunggu di sini dulu, Gilang. Aku mau temuin Thalia dulu. Padahal aku udah siapin makanan yang sehat, dia malah mau makan mie instan. Seneng banget kalau gue marahin dia dulu." gerutu Keenan kesal karena Thalia selalu saja mengabaikan perintahnya.


"Tapi kamu juga yang sabar, Keenan. Jangan di marahin terus adik kamu itu. Cukup kasih teguran aja kan bisa?" tutur Gilang, berusaha untuk menenangkan amarah sahabatnya itu.


"Percuma. Mana pernah dia dengerin aku. Apa yang aku bilangin ke dia, selalu di anggap angin lalu aja."


Kemudian Keenan langsung beranjak menuju ke arah dapur untuk menghampiri Thalia. Dan sesampainya di dapur, Keenan melihat jika Thalia sedang menuangkan mie instan kedalam mangkok.


"Thalia!" Seru Keenan sambil melangkah cepat ke arah Thalia.


Deg.


"Apa yang sedang kamu lakukan, hah?!" Tanya Keenan yang kini sudah berada di hadapan Thalia.


"Oh, aku habis bikin mie instan, Kak." jawab Thalia dengan menunjukkan mangkuk yang berisi mie.


"Siapa yang suruh kamu masak mie, hm? Bukannya tangan kamu itu masih sakit ya?"


Thalia diam tidak menjawabnya. Dia menundukkan kepalanya dan meletakkan mangkok yang berisi mie itu ke atas meja dapur.


"Di tanya kok malah diam. Jawab Thalia. Memangnya siapa yang suruh kamu buat bikin mie instan, hah?!"


"Aku sendiri, Kak. Karena aku lapar. Dan tangan aku udah gak terlalu sakit kok" jawab Thalia lirih.


"Kamu sendiri tau kan, kalau Kakak itu udah pernah bilang ke kamu, jangan pernah makan mie instan. Kamu itu masih punya telinga gak sih?!" Peringat Keenan


"M- maafkan Thalia, Kak." ucapnya.


Keenan menghembuskan nafas kasar. "Baik, untuk sekarang kamu boleh makan itu. Tapi lain kali kalau kamu kedapatan membuat mie instan lagi Kakak akan memberikan hukuman buat kamu. Mengerti?"


"Iya Kak."


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.