Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Pria Misterius



"Kok mereka mirip cashew ya," kekeh Thalia sambil memandangi foto USG dari janinnya yang berusia 6 minggu.


"Masa anak sendiri dinamakan cashew. Ada - ada aja kamu, sayang?" sahut Angga pada Thalia yang sepertinya mengabaikan eksistensinya.


"Ya udah. Kita pulang yuk, inget kata dokter kamu perlu banyak istirahat." sambung Angga .


Namun sepertinya Thalia hanya mengabaikan ucapan dari Angga yang mengajaknya untuk pulang. Padahal, Thalia masih ingin menikmati waktunya di luar rumah.


Saat ini, mereka tengah berada di sebuah restoran yang berada di mall untuk makan siang. Terlihat semua makanan di piring mereka telah habis dan mereka berniat untuk pulang setelah membayar semua pesanannya.


Dan tanpa membuang banyak waktu. Angga langsung berdiri dan menarik pelan lengan Thalia. Dan ia langsung membawa Thalia menuju ke tempat mobilnya yang terparkir di basment, sembari membawa beberapa paper bag milik mereka.


Thalia yang sedang mengedarkan pandangannya, tiba - tiba langsung menarik lengan Angga sembari berlari menjauh dari mobil mereka. Kemudian, Thalia langsung membawa Angga untuk bersembunyi di balik sebuah mobil yang letaknya dekat dengan jalur keluar basement.


Terlihat keringat sudah mulai membasahi wajah pucat Thalia. Telapak tangannya juga langsung mendingin, bagai tak ada darah yang mengalir di sana. Terlihat Thalia sesekali mengintip ke arah sebuah mobil yang tidak jauh dari mereka.


"Sebenarnya ada apa, sayang? Kenapa kau terlihat sangat ketakutan seperti itu?" tanya Angga dengan lirih.


"Ssst. Jangan berisik. Nanti kita akan ketahuan." sahut Thalia dengan lebih lirih.


"Iya, aku tahu. Tapi dari siapa?" tanya Angga tak sabaran.


Thalia pun kembali mengintip ke arah mobil yang berwarna hitam itu. Ah, atau mungkin lebih tepatnya ke arah laki - laki yang berdiri tidak jauh dari mobil itu. Thalia kemudian membalikkan badannya menghadap ke arah Angga dan langsung mengarahkan telunjuknya ke arah laki - laki yang terlihat memakai pakaian serba hitam tidak jauh dari mereka.


"Apa kau lihat laki - laki yang tengah menelfon itu? Yang memakai outfit hitam. Kita harus bersembunyi darinya. Dia adalah salah satu bawahan kepercayaan Kak Keenan. Aku tak kenal pasti dengannya. Tapi aku ingat, jika dia berada di samping Kak Keenan saat menjemput ku dulu ketika aku terakhir kalinya di bawa kerumah Kak Keenan."


Angga yang paham dengan keadaan mereka saat ini, langsung menarik Thalia kedalam pelukannya. Ia berusaha untuk menyembunyikan Thalia di belakang tubuhnya, saat menyadari mobil yang di bawa anak buah Keenan hendak meninggalkan basement itu.


Begitu mobil itu melewati tempat persembunyian mereka Thalia dan Angga langsung menghela nafas lega. Dengan segera mereka langsung melangkah memasuki mobil Angga yang tak jauh dari sana. Dan tanpa menunggu lama, Angga pun langsung menancapkan gasnya keluar dari basement itu.


Selama di perjalanan, tangan kiri Angga selalu menggenggam tangan Thalia yang sangat dingin. Ia terus mengusap - usap tangan itu. Setidaknya, agar memberikan rasa tenang kepada Thalia.


"Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi terlebih dahulu, sebelum kita sampai di villa?" tanya Angga dengan lembut saat mereka berhenti di lampu merah.


"Tidak ada. Aku hanya ingin langsung pulang. Dan beristirahat saja." jawab Thalia dengan tatapan yang masih mengarah ke jendela mobil.


Saat lampu lalu lintas kembali menjadi hijau, Angga mulai menjalankan lagi mobilnya. Namun, bukannya melaju lurus agar sampai ke Villa, Angga malah membelokkan mobilnya ke arah kiri di perempatan.


"Bukankah tadi seharusnya mengambil jalan ke arah lurus. Kenapa berbelok ke arah kiri? Memangnya kita akan kemana?" tanya Thalia yang penasaran.


"Kau akan tahu nanti," sahut Angga seraya tersenyum memandang ke arah jalan.


Angga pun terus melajukan kendaraannya ke jalanan yang begitu asing bagi Thalia. Dan setelah hampir tiga puluh menit berlalu, mobil milik Angga berhenti di sebuah lahan kosong yang berada di daerah perbukitan.


Angga turun terlebih dahulu dari mobil, dan berlari untuk membukakan pintu untuk Thalia. Ia pun menggenggam tangan Thalia dan menuntunnya menuruni tangga yang digunakan sebagai jalan pada bukit itu.


"Coba lihat ke sana." bisik Angga sambil menunjuk ke suatu arah.


***


Tap... Tap... Tap...


Terlihat sepasang sepatu mahal milik seorang pria melangkah dengan percaya diri melewati lorong sebuah rumah sakit. Dan terlihat pria itu kini berhenti di depan pintu yang berwarna putih bertuliskan nama dokter yang tengah melakukan praktek.


Ceklek.


Suara pintu itu terbuka, dan menampilkan wajah seorang dokter wanita yang tengah kebingungan melihat kehadiran pria itu. Pria itu lantas memajukan langkahnya mendekati dokter yang ber name tag 'Dokter Amanda.'


"Maaf Pak. Tapi jam kerja saya sudah selesai dari tiga puluh menit yang lalu. Mungkin, bapak bisa kembali kesini lagi besok pagi." ujar Dokter Amanda dengan sangat sopan.


Pria itu masih diam di tempat. Ia kemudian menarik kursi yang berada di dekat meja dokter Amanda, dan mendudukkannya dirinya di sana.


"Saya tidak ingin berbasa-basi lagi di sini. Karena saya hanya ingin memastikan sesuatu kebenaran langsung darimu." ujar pria itu dengan raut wajah datarnya.


"Ke- kebenaran apa yang anda maksud, Tuan?" sahut dokter Amanda dengan terbata.


"Apa benar ada seseorang yang bernama Thalia Ivanka yang datang menemuimu hari ini?" tanya pria itu dengan suara tegas.


Dokter Amanda pun sangat terkejut saat mendengar pertanyaan dari pria yang ada di hadapannya ini. Dan sebisa mungkin ia mencoba untuk mengendalikan ekspresi wajahnya, agar tidak terlihat mencurigakan.


"Maaf Pak. Tapi tidak ada pasien yang bernama Thalia Ivanka hari ini. Jika bapak masih belum percaya, mari saya perlihatkan catatan nama pasien yang datang hari ini." sahut Dokter Amanda tersenyum ramah.


Dokter Amanda lalu memperlihatkan buku catatan nama pasien yang biasanya di tulis langsung oleh asisten perawatnya. Pria itu tampak meneliti satu persatu nama yang tertulis di buku catatan itu. Namun, sepertinya ia tidak dapat menemukan nama seseorang yang sedang dia cari di buku catatan pasien itu.


"Baiklah, terima kasih. Maaf bila saya sudah menganggu waktu istirahat anda." ujar pria itu seraya melangkah pergi meninggalkan ruangan dokter Amanda.


Setelah pria itu pergi dari ruangannya, dokter Amanda langsung menghela napas lega.


"Untung saja aku mengikuti saran dari Dokter Angga untuk menuliskan nama wanita itu dengan nama keluarganya." gumam Dokter Amanda.


"Tapi siapa pria yang tadi ya? Dia nampak berbeda dengan foto yang di berikan oleh Dokter Angga."


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....