
Bisa kau jelaskan lebih detail, Thalia?" pinta Logan yang kemudian di balas anggukan kepala dari Thalia.
"Ya, aku adalah adik tiri Kak Keenan. Ketika itu Ayah kandungku meninggal karena menjadi korban tabrak lari. Dan setelah itu, dua tahun kemudian ibuku menikah lagi dan itu dengan Ayahnya Kak Keenan. Ayah Tristan sangat baik padaku dan juga Bunda. Tapi aku sudah mengecewakannya." jelas Thalia yang kini terlihat sendu.
"Maaf, jika aku membuka luka lamamu," sahut Logan yang seketika merasa bersalah saat melihat kesedihan di wajah Thalia. Dan Thalia hanya tersenyum menanggapinya.
Terlihat Thalia menghembuskan nafasnya yang terasa begitu menyesakkan.
"Baiklah, kita ganti topik saja. Aku akan langsung ke intinya saja. Apakah Angga sudah memberitahumu tentang pembicaraan kami semalam?" tanya Logan dengan nada yang serius.
"Iya, dia sudah menceritakan semuanya kepadaku, Kak." sahut Thalia membalas tatapan dari Logan.
"Lalu apa keputusanmu, Thalia?" tanya Logan.
Thalia kembali menundukkan kepalanya. Ia sebenarnya masih bingung harus menjawab apa? Karena sudah terlalu banyak kenangan di sini yang membuat Thalia enggan untuk beranjak pergi dari negaranya. Tapi di satu sisi ia sadar, jika Logan adalah orang yang baik yang akan membantu dirinya agar sepenuhnya bisa terlepas dari Kakak tirinya.
"Jujur saja, ini sangat berat untuk di jawab, Kak. Aku sampai tidak bisa tidur semalaman karena memikirkannya. Terlalu banyak kenangan di sini, tapi aku akan menerima tawaran Kak Logan untuk pergi meninggalkan negara ini. Aku tak masalah, asalkan itu bisa membuatku benar - benar terlepas dari Kakak tiriku," jawab Thalia dengan penuh percaya diri.
"Thalia, apa kau benar-benar sudah yakin dengan keputusanmu itu? Lalu bagaimana dengan anakmu? Apa kau sudah siap untuk memisahkan mereka dari Ayah kandungnya?" tanya Logan beruntun.
Saat mendengarkan pertanyaan dari Logan. Thalia membeku di tempat. Ia berpikir, bagaimana Kakaknya Angga bisa tahu, jika ia tengah mengandung anak dari Kakak tirinya. Karena yang Thalia tahu, Angga dan Bik Nila tidak mungkin membocorkan rahasia itu.
"Tentu saja aku sangat yakin, Kak. Karena bayi yang ada di kandungan Thalia itu sudah menjadi milikku saat ini." sambung Angga yang kini tengah menuruni tangga.
Angga pun langsung mendudukkan dirinya di samping kiri Thalia. Ia mengusap dan mengecup pelan kepala Thalia, seakan ingin memamerkan betapa besarnya cintanya untuk Thalia.
"Apa yang sedang kalian bicarakan sedari tadi, hm? Terlihat sangat asyik sekali. Hm, aku jadi cemburu, sayang." ujar Angga yang berpura - pura sedih dan merengut.
"Tidak ada, Angga. Kakak tadi hanya bertanya tentang kisah hidupnya saja. Memangnya salah ya, kalau Kakak ingin lebih mengenal calon adik ipar ku sendiri." ucap Logan dengan seringai tipis di bibirnya.
Mendengar penjelasan dari Kakaknya. Angga pun mendengus kesal karena Kakaknya itu terkesan seperti sedang merendahkan dirinya. Lalu ia menatap kembali ke arah Thalia yang masih terdiam sejenak saat Angga datang.
"Kau bantulah Bik Nila yang ada di dapur. Biar aku yang akan mengurus tembok berjalan ini, sayang." pinta Angga.
Dan tidak lama berselang, Thalia melangkah meninggalkan adik dan Kakak itu yang sepertinya tengah melemparkan death flare satu sama lain.
"Apa maksudmu tadi Kak, melemparkan pertanyaan seperti itu pada Thalia? Apa kau ingin menghancurkan perasaanya, hah?!" geram Angga pada Kakaknya itu.
"Kau tahu, aku tadi hanya mengetesnya saja. Jika menghadapi pertanyaan dariku saja nyalinya sudah menciut. Bagaimana nanti kalau kau membawanya di hadapan Mama." jelas Logan yang langsung membuat Angga kini terdiam.
"Ah, sial! Bagaimana aku bisa melupakan tentang Mama." batin Angga yang terus merutuki kebodohannya, karena melupakan sosok sang Ibu.
***
"Sayang, kenapa kau berhenti di situ?Mendekatlah kemari." pinta Angga pada Thalia sambil merentangkan kedua tangannya.
Paham akan kode tersebut, Thalia pun seketika langsung berlari dan menghamburkan dirinya dalam dekapan hangat Angga. Ia merasa lengan Angga memeluknya dengan erat dan beberapa kali mengecup dahi lebarnya.
"Kapan kau akan pulang?" tanya Thalia.
"Ya ampun, sayang. Aku berangkat saja juga belum. Dan kini kau sudah bertanya kapan aku akan pulang. Yang benar saja," balas Angga yang terkekeh pelan.
Sedangkan Logan yang melihat pasangan love bird ini, hanya bisa memutar bola matanya bosan. Logan pun lebih memilih untuk masuk kedalam mobil lebih dulu. Ya, daripada dia harus menjadi obat nyamuk untuk pasangan kekasih yang ada di hadapannya itu.
"Aku meninggalkan mobil dan supir untukmu di villa. Jika kau bosan, kau bisa meminta Hardi untuk mengantarmu ke tempat yang kau inginkan. Tapi ingatlah, untuk selalu tetap berhati-hati." ujar Angga yang menangkup wajah Thalia dengan kedua tangannya.
Angga kemudian menunduk untuk mengecup perut Thalia sejenak dan langsung menyusul ke arah Logan yang sudah terlebih dahulu memasuki mobil.
"Nona, ayo kita masuk." ujar Bik Nila, setelah melihat mobil Tuannya telah sepenuhnya meninggalkan halaman villa dan hanya menyisakan Thalia yang masih berdiri seorang diri di situ.
***
"Angga, bagaimana persiapanmu sebelum berangkat ke negara A? Apa semuanya sudah lengkap?" tanya Logan pada adiknya, yang tengah asyik membaca sebuah berita di notebook miliknya.
"Aku hanya tinggal mengurus visa milik Thalia saja. Sepertinya, hari ini juga sudah selesai. Semoga saja, lusa nanti kami sudah bisa terbang ke negara A." sahut Angga.
Selama beberapa menit setelahnya, suasana di dalam mobil itu tampak hening, seperti tak adanya penumpang. Entah bagaimana, tak terjadi percakapan apapun lagi di antara Angga dan juga Logan karena mereka terlihat asyik berselancar di dunianya mereka masing-masing, yang membuat sang supir pun terheran melihatnya.
"Tuan Angga, kita telah sampai di gerbang klinik milik anda." ucap sang sopir seraya membukakan pintu sebelah kiri mobil.
Baru saja Angga hendak melangkah keluar dari mobil, lengannya tiba - tiba di cekal oleh Logan. Dengan terpaksa Angga membalikkan badannya menghadap sang Kakak.
"Berhati - hatilah dengan Keenan, dia adalah orang yang benar - benar licik. Dia bisa melakukan segala macam cara agar bisa mencapai tujuannya," jelas Logan pada Angga.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....