Boss Mafia's Hot Girl

Boss Mafia's Hot Girl
Episode 98 : Sikap cemburu bos mafia yang menggemaskan.



Episode 98 : Sikap cemburu bos mafia yang menggemaskan.


***


Winter dan Red akhirnya menyantap makanan mereka, bagaimanapun mereka memang sudah kelaparan.


 


“Apakah kau pernah jatuh cinta?” Red tiba-tiba saja menanyakan pertanyaan itu, membuat Winter syok dan segera minum dengan banyak.


Untung saja Ia sudah selesai menyantap makanannya sehingga dia tidak dalam keadaan lapar menghadapi keanehan Red.


“Ja … jatuh cinta?”


“Ummm …”


‘Bagaimana ini? Apakah aku harus jujur?’


‘Iya! Aku harus jujur, jika aku tidak jujur maka Tuan Avier akan semakin murka!’


Winter berdebat dalam dirinya lagi sebelum menentukan jawaban yang hendak ia berikan.


“Kalau boleh jujur, aku sudah pernah jatuh cinta Tuan …” balas Winter jujur dan berterus terang.


“APA?”


Mendengar jawaban dari Winter entah mengapa membuat emosi Red tersulut.


“Kau sudah pernah jatuh cinta?”


“TIDAK ADIL! Aku bahkan belum pernah merasakan hal itu sebelumnya, itu artinya adalah pengkhianatan!”


Ketus Red tanpa sadar mematahkan sendok yang ia genggam.


Mata Winter melebar dan dia sangat syok melihat sendok besi yang tadi di genggam oleh Red patah begitu saja.


“Tuan … apakah anda marah? Tapi kenapa? Aku … aku hanya berusaha memberikan jawaban sejujur mungkin … juga …” belum sempat Winter memberikan jawabannya.


Red segera menghentikan ucapan Winter dengan berbagai pertanyaan beruntun.


“Cukup!”


“Dengan siapa kau jatuh cinta?”


“Sudah berapa kali?”


“Lalu apa saja yang telah kalian lakukan?”


“Tunggu … tunggu, apakah lelaki yang kau maksudkan adalah David?”


"Astaga!”


Sebelum ia mengungkan perasannya, rasanya Red seperti dikhianati lebih dulu.


“Tu … Tuan apakah anda baik-baik saja?”


Tanya Winter keheranan dan menjadi semakin bingung bagaimana menyikapi sikap Red yang kelihatan cemburu namun terlihat sangat menggemaskan di mata Winter.


"Sudah cukup!"


"Aku benar-benar kesal!” ketus Red takt ahu mengapa jika hatinya menjadi sangat panas.


Dia tidak ingin mendengar kata itu dari mulut Winter, kata bahwa David adalah lelaki yang pernah dicintai oleh Winter.


“Tak … Tak … Tak!”


Red segera bangkit dari meja makan dan bangkit melangkah menuju kamar pribadinya, wajahnya cemberut juga memerah, Red baru pertama kali merasajan ini, dia tidak ingin melampiaskaan kecemburuannya teradap Winter sehingga ia pergi begitu saja.


Red sudah tak ingin membuat Winter ketakutan.


Sedangkan Winter yang syok ditinggalkan begitu saja tengah menganga mengikuti Langkah kaki Red yang begitu cepat menuju kamar pribadinya.


“Apakah aku baru saja ditinggalkan?”


“Apa yang harus aku lakukan?”


“Ini terlalu membingungkan, jadi … tadi, apakah jawaban ku harus berupa kebohongan?”


“Aaaaa … aku bingung sekali!”


Winter sungguh bingung dengan sikap apa yang harus ia ambil setelah ini, apa yang harus ia lakukan.


Sebab, ini adalah kali pertama Winter melihat Red ngambek kepadanya.


Sedangkan kepala pelayan yang sejak tadi memantau dari jauh kalua kalua Tuan nya membutuhkan sesuatu segera menghampiri Winter dengan senyuman yang merekah.


“Nona Winter … maafkan aku mengganggu anda, tetapi saya merasa harus membantu anda …”


Kepala pelayan segera menghampiri Winter membuat Winter yang tadi menunduk segera tegap dan menunggu saran apa yang akan diberikan oleh kepala pelayan itu.


“Tuan sepertinya sangat marah kepadaku, apa yang harus aku lakukan Pak? Aku bingung sekali …”


Tanya Winter sungguh bingung sekali.


Dia tidak tahu sikap apa yang harus ia ambil sekarang ini.


.


.


.