
Episode 74 : Tidur bersama saat hujan.
.
.
.
Winter duduk di sofa ketika ia melihat pundak Red yang membelakangi nya ketika melakukan panggilan telepon.
Dunia ini terasa semakin aneh baginya, bagaimana sekarang Winter sama sekali tidak merasakan sedikit pun kebencian terhadap lelaki yang sekarang ini masih menawan Ayahnya.
Membuatnya terkekang dan dipenjara dalam hidup Red.
Tetapi entah mengapa Winter mengerti keadaan Red.
"Jika kita bertemu dalam dunia tanpa dendam dan tanpa kebencian, apakah kau juga akan datang kepadaku dan mengatakan aku milikmu?"
"Aku benar-benar berharap ketika kita tiada, aku bertemu dengan mu lagi di kehidupan yang lain dan bisa mengenal mu lebih dalam ... mungkin kita bisa bersama ketika itu ..."
Winter berbicara pelan, seolah sadar jika dia tak akan pernah bisa bersama dengan Red apapun yang terjadi.
Saat ini, hubungannya dengan Red hanyalah sebagai pelampiasan saja, Winter harus bisa menjadi wadah kemarahan dan dendam Red, agar nanti Red tak akan melukai semakin banyak orang.
.
.
Tak terasa waktu berlalu begitu saja, Red mengantuk sekali ketika ia selesai menghubungi anak buahnya.
Karena efek dari obat penenang yang ia konsumsi, dia tak bisa menahan dirinya hendak memejamkan mata dan terlelap.
"Hei ... Kemarilah, aku ingin tidur!"
Red memanggil Winter yang masih setia duduk menunggu perintah dari Red.
Benar-benar gadis penurut yang membuat kepala Red pusing karena ketulusannya.
"Baik Tuan ..." balas Winter segera bangkit dan melangkahkan kaki menuju Red yang sudah berbaring di atas ranjang.
Dia menatap Winter dan mengikuti langkah kakinya.
Winter naik ke atas ranjang lalu Red menarik Winter agar bisa ia dekap.
"Aku mengantuk sekali ... aku lelah, sepertinya aku akan tidur dengan sangat lelap, kau harus memeluk aku dan tidak boleh melepaskan aku seperti yang kau janjikan!"
Obat penenang itu benar-benar ampuh membuat nya tak bisa menahan kantuk seperti saat ini.
"Baik Tuan," balas Winter lagi segera membalas pelukan Red.
Mengusap pundaknya, sesekali memeluk dengan lembut.
"Aku heran, kenapa tubuh kurus mu bisa enak di peluk,"
"Tapi aku merasa terlalu nyaman, kau benar-benar penyihir yang sangat handal!"
Gerutu Red tanpa sadari langsung terlelap begitu dalam.
Dia suka berada dalam pelukan Winter, walau menurut nya Winter kurus, tetapi entah kenapa sangat enak dipeluk dan rasanya sangat nyaman.
Seolah lelah Red seharian terobati ketika Winter memeluknya.
.
.
Langit siang itu menjadi mendung, sepertinya akan turun hujan, padahal warga desa sudah mempersiapkan acara kembang api malam ini.
Mereka sangat berharap hujan segera reda, agar perayaan malam nanti tidak terganggu.
Sedangkan Winter, dia ikut mengantuk di sisi Red, yang terlelap begitu dalam.
Mungkin karena suara hujan di desa yang menjadi membuat suasana begitu damai dan nyaman.
Aneh nya hari ini Red sama sekali tidak bermimpi buruk.
Hal itu sangat mengejutkan mengingat jika baru saja Red hampir kehilangan kendali diri karena bertemu dengan salah satu musuhnya.
.
.
.
Author : Guys maaf banget update nya dikit 😠untuk saat ini hanya bisa update segini. ada masalah yang membuat author kehilangan semangat menulis.
Tetapi tenang saja novel ini tetap akan berlanjut ya, mungkin besok aku akan coba nulis banyakan.
Maaf ya semuanya, ditunggu bab selanjutnya, dan semoga bisa update banyak 🥺