
Episode 109 : Winter, cahaya ku!
***
Disaat-saat genting video yang dipersiapkan oleh Sai diputar di hadapan Avier.
"Tuan Avier ... halo, hehe ..."
"Agak canggung berbicara di depan kamera seperti ini, tapi semua anak buah mu ada di luar kok, Tuan Sai memberikan kamera ini kepada ku untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada mu ..."
"Ummm sebentar lagi ulang tahun mu, aku sangat berharap Tuan Avier bisa berdamai dengan hatinya, ummm ..."
Winter dengan pipi yang memerah dan malu itu sedikit gugup berada di video.
"Ummm ... aku benar-benar tidak pandai mencari kado untuk orang, saat ini aku juga tidak memiliki uang ... hehe, jadi ... saat Tuan pergi keluar aku membuat ini ..."
Winter menunjukkan sebuah syal belum jadi di tangannya berwarna merah sama dengan yang ia miliki.
"Syal ini belum jadi sih, tapi akan aku serahkan saat Tuan ulang tahun ... hehe!"
"Selamat ulangtahun Tuan Avier ... Tuan adalah lelaki yang sangat hangat ... selanjutnya mari terus bersama seperti yang Tuan inginkan ..."
Itu adalah pesan Winter.
*Brak*
Senjata yang digenggam oleh Avier terjatuh begitu saja, pintu telah dibuka oleh Sai yang sudah datang ke aula itu.
Lalu terlihatlah di langit malam, salju pertama telah turun.
"Winter ... cahaya ku, hari ini salju pertama turun ... dan kau benar-benar datang kepada ku dengan suara mu yang lembut!"
Bisik Avier dengan linangan air mata yang memenuhi bola matanya sampai pandangannya kabur.
Tetapi kejutan untuk menyadarkan Avier dari kegilaan nya bukan hanya itu saja.
*Video selanjutnya diputar*
"Halo Nak Carl, selamat ulang tahun ... kembali lah ke desa ini kapanpun, anggap saja desa ini adalah kampung halaman mu, kau dan istrimu sangat baik dan hangat, kami semua suka ..."
Kepala desa sedang berbicara dengan kaku di hadapan kamera, sembari menyeringai kaku pula.
"Ah ... giliran ku ..." seru seorang nenek-nenek yang nampaknya tidak sabar ingin memberikan pesan juga.
Ya, semua warga desa ada di dalam vidio itu, namun memang kepala desa yang tidak biasa dengan kamera berada di depan dan malah terlihat terlalu kaku.
"Nak Carl ... kembali lah Kesini, Carikan kaca mata ku yang hilang ... hahaha!"
Terlihat mereka bergantian ingin menyampaikan pesan kepada Avier.
"Nama ku Avier ... bukan Carl, aku pasti akan kembali kesana dan memperkenalkan nama asliku ..." seru Avier masih berfokus kepada video yang disiapkan oleh Sai.
Avier tengah terguncang mental dan emosinya, jika saja tidak ada Winter dan semua warga desa maka mungkin rencana mereka sudah hancur semuanya.
Ketika Avier berfokus melihat video, Asher segera diamankan anak buah Avier berserta dengan Harry Roshfil.
Lalu di video terakhir ada Winter lagi.
"Ah aku lupa mengatakan ini, Tuan ... jika ..."
Winter mengatakan sesuatu secara panjang lebar bahkan membuat semua anak buah Avier melongo dan bahkan ada yang hampir pingsan.
Entah apa yang diucapkan oleh Winter akan tetapi hal itu juga membuat Avier terkejut, matanya melebar dan jantungnya merasakan detakan itu lagi.
"Penyihir nakal, kau mengatakan itu di hadapan semua orang! bodoh!"
Seru Avier tertawa kecil namun ada buliran air mata di pipinya.
"Ayah ... Ibu, Ara, apakah aku boleh menjalani hidup? apakah kalian sudah tenang? aku sudah menangkap penjahat nya!"
"Apakah mimpi buruk ku akan hilang?"
"Aku sangat menyayangi kalian, tetapi sekarang tiba-tiba aku ingin hidup ..."
Seru Avier tengah berada di dua perbatasan jalan.
Dia ingin kembali bersama keluarganya di alam baka setelah semua rencananya usai, tetapi setelah apa yang dikatakan oleh Winter diakhir video, Avier menjadi ragu dan ingin hidup.
Dan bagi Avier, hidup baginya adalah dosa.
.
.
.
.
Author : aku nangis nulis ini loh, kasihan banget sama Red.
Btw menurut kalian apa yang dikatakan Winter di akhir video, yang membuat Avier ingin hidup.