
Episode 78 : Mafia cemburu terhadap kucing.
***
"Persetan dengan aku sudah bangun atau tidak! sekarang jelaskan siapa Koko!"
Geram Red sudah naik ke atas tubuh Winter dan menginterogasi Winter dari jarak yang sangat dekat.
Mata Winter melebar dan dia melindungi tubuh bagian atasnya secara refleks menggunakan kedua tangannya.
Dia heran mengapa Red menanyakan mengenai Koko yang notabene nya adalah seekor kucing peliharaan Winter yang sudah tiada.
"Ko ... Koko?" Winter memperjelas lagi apa yang sedang ditanyakan oleh Red.
"Ya! Koko? siapa dia? apakah dia salah satu kekasih mu yang lain, atau cinta rahasia atau masa lalu, atau apa?"
"Siapa dia? sampai kau berani memimpikan dia ketika bersama ku!"
"Cepat jawab!"
Ketus Red sungguh kali ini tak akan lagi menahan dirinya menghabisi Winter jika saja Koko itu memang adalah salah satu masa lalu Winter sama seperti David.
Nafas Red terasa panas dan matanya sangat tajam, dia menunggu jawaban selanjutnya dari Winter.
"Ummm ..." dengan wajah kebingungan juga heran disaat yang bersamaan melihat kemarahan tidak mendasar Red, Winter akhirnya menjawab dengan jujur.
"Koko itu kucing peliharaan ku dulu, aku menemukan di jalanan dan mengadopsi nya menjadi salah satu bagian dari keluarga ku, tetapi kebetulan dia telah tiada, jadi sesekali aku masih bermimpi bermain dengan Koko. "
Winter menjawab dengan jelas dari mulai bagaimana ia mendapatkan Koko dan akhirnya kehilangan Koko juga.
Dahi Red mengernyit, lalu ekspresinya berubah.
"Kucing? maksud mu tadi kau memimpikan seekor kucing?" ketus Red lagi seolah tak menyangka jika Winter memimpikan kucing sampai ia mengigau.
Sungguh orang yang sangat langka.
"I ... iya Tuan, Koko itu kucing ku," balas Winter lagi dengan ekspresi memelas dan matanya yang bulat.
'Sial! ternyata Koko kucing! jadi ... dia bahkan memimpikan kucing sedangkan aku tidak? maksudnya aku kalah dari seekor kucing!'
'Gadis penyihir ini!'
Red merasa malu baru saja bersikap berlebihan namun ketika ia pikirkan lagi, dia merasa telah kalah dari seekor kucing.
Jadi Red hanya akan melanjutkan rasa kesalnya agar dia tidak terlalu malu.
"Ehem!"
"Mulai hari ini kau hanya boleh memimpikan aku! apa kau mengerti?"
Seru Red dengan nada yang sedikit meninggi, saat itu wajah Red kemerahan dan nafasnya menjadi gugup.
"Apakah mimpi bisa diatur Tuan? lalu apa yang akan terjadi jika aku tidak memimpikan mu? aku tidak bisa mengatur hal itu ..." balas Winter sungguh tak bisa memenuhi perintah yang satu itu.
Ya, bagaimana Winter akan mengatur mimpinya, hal itu sungguh mustahil dilakukan.
"Aku tidak peduli! yang jelas kau hanya harus memimpikan aku! jika tidak aku akan MENGHABISI mu! memakan mu sampai kau pingsan!"
Red masih berada di atas tubuh Winter tetapi tangannya menahan badannya agar dia tidak menindih tubuh gadis yang memporak-porandakan Red akhir-akhir ini.
Winter yang mendengar kata memakan langsung terperanjat, ketika Red menjelaskan kata memakan saat lalu merupakan kata untuk menghabisi, membuat Winter langsung takut.
"Baik Tuan Red, jika begitu aku akan mematuhi mu! mulai dari hari ini aku hanya memimpikannya Tuan!" seru Winter dengan tegas dan bersungguh-sungguh.
Hal itu membuat Winter terlihat sangat polos dan menggemaskan.
*Blush*
Wajah Red semakin memerah karena keimutan Winter yang barusan, rasanya setiap kali Winter membuka mulut atau melakukan hal kecil, Red sudah sangat ingin menghabisi Winter sampai ia puas.
"Kau menggoda ku! apakah kau ingin aku menghabisi mu sekarang?" tanya Red mulai mendekatkan wajahnya sampai nafas mereka saling menyatu.
Winter yang menerima perlakuan itu jadi serba salah, padahal dia hanya mematuhi perintah Red saja untuk memimpikan dirinya, tetapi tetap saja dikatakan menggoda.
"Tuan, aku hanya menjawab tidak menggoda mu, bagaimana mungkin aku berani menggoda mu ..." balas Winter menunduk tak bisa melepaskan dirinya dari Red.
Red menyeringai tajam, lalu dia membisik di telinga Winter.
"Aku benar-benar sangat tidak sabar ketika aku melakukan penyatuan denganmu, untuk hari ini kita masih harus ke atas bukit merayakan penyambutan musim dingin dengan warga desa ..."
"Tetapi malam ini, kau harus siap apapun yang terjadi! apakah kau mengerti?"
Red masih sadar, dia sudah berjanji untuk datang ke pesta perayaan orang-orang desa, jadi dia harus menahan godaan yang tengah menggelora ketika bersama Winter.
Ketika itu Red segera bangkit dan tersenyum begitu lebar, dia senang mendapati jika Koko adalah kucing bukan manusia.
.
.
.
.