
Episode 80 : Sebelum perayaan musim salju.
***
Membawanya melangkah menyusuri jalanan yang dipenuhi rerumputan dingin, mereka melangkah menuju bukit dimana disana senyuman tulus dan merekah warga desa tengah menunggu mereka.
Di desa ini, keduanya akan mempelajari banyak hal, bagaimana itu hidup yang sederhana namun sangat bermakna dan membahagiakan.
.
.
"Kita mau kemana Tuan?" tanya Winter disela-sela mereka melangkahkan kaki, dan walaupun sepatu meraka tebal, masih bisa terasa dingin yang menyeruak.
Menandakan jika musim dingin akan benar-benar datang dalam waktu dekat.
"Kau akan segera tahu, jangan banyak bertanya dan Ikuti aku saja ..." balas Red sebenarnya tak bisa menyembunyikan senyumannya.
Dia tak melihat ke belakang nya dimana Winter terus mengikuti dirinya, selain Red benar-benar sudah merencanakan penyatuan yang akan melepaskan keperjakaan nya, dia juga bahagia mengetahui jika hari ini adalah hari pertama dia akan melakukan suatu perayaan setelah saat-saat kelamnya dahulu.
"Hmmm ..." Winter hanya menghela nafasnya, langkah kaki mereka tidak lah cepat akan tetapi Winter sudah kelelahan karena nya.
*Sesampainya di perayaan penyambutan musim dingin*
"Hei ... Bos sudah tiba, cepat perbaiki sikap mu!"
"Astaga ... kenapa cepat sekali?"
Para anak buah Red langsung berdiri tegap ketika melihat jika Bos mereka sudah hadir disana.
Bahkan diantara anak buahnya itu ada beberapa yang masih mengunyah makanan khas dari desa yang menurutnya sangat enak.
Benar, di sana sudah tersedia banyak sekali makanan, bahkan semua warga desa ada disana, tidak ada ada muda kecuali para anak buah Red.
Hanya ada beberapa anak kecil yang kelihatan masih sangat membutuhkan orangtuanya.
"Selamat datang Bos ..."
"Eh ... maksud kami selamat datang Tuan ..."
Para anak buah Red itu sedikit keceplosan memanggil Red yang datang itu menggunakan panggilan Bos.
"Ha ha ha, para pelayan mu sangat lucu anak muda, mereka bersikap layaknya tentara yang menyambut komandan nya ... ha ha ha, mereka para pelayan yang baik ya ..."
Ketika para anak buah Red secara serempak dan berjejer menundukkan kepala dan menyambut bos mereka, disinilah Pak kepala desa yang sudah lumayan tua itu langsung merangkul Red dengan santainya.
Seolah ia tengah merangkul putranya sendiri.
"Ha ha ha, anda bisa saja Pak, mereka memang terbiasa begitu padahal aku sudah katakan jika meraka tidak perlu begitu ..."
"Iya kan?"
Seru Red menyeringai tajam kearah para anak buahnya dan memberikan kode agar tidak terlalu kaku dan sopan seperti biasanya.
Demi menghindari kecurigaan para warga desa.
"Ha ha ha, benar Pak Troy, Tuan kami ini sangat ramah jadi selalu menyampaikan hal itu, akan tetapi kami sangat menghormati dia, oleh karena itu kami tidak bisa melepaskan kebiasaan penghormatan ini ... benarkan semuanya?"
Seru salah satu anak buah Red dan segera diikuti tawa terpaksa dan anggukan dari para anak buah Red itu.
"Ahahaha, benar sekali, Tuan kami sangat ramah ..." seru yang lain tapi tak berani bertemu pandang dengan Bos-nya.
Yang selama ini sebenarnya tak ada sikap ramahnya, malah Red dikenal sebagai bos yang sangat tegas dan mengerikan karena dendamnya yang begitu dalam.
"Pffft ...." Tanpa bisa ditahan, Winter tertawa pelan, dia tidak menyangka para lelaki beringas yang merupakan anak buah Red akan terlihat sangat kikuk dan gugup ketika berhadapan dengan Red.
Rasanya sandiwara mereka terlihat sangat lucu bagi Red.
"Oh iyaa Nak, semua warga disini ingin sekali mengetahui nama kalian ... bisakah kalian memperkenalkan diri terlebih dahulu?"
"Sebelum kita memulai acaranya ..." seru Pak Troy sangat menantikan kedua pasangan baru ini memperkenalkan diri mereka.
Agar semua orang kenal dan akan mengingat nama mereka.
.
.
.