
Episode 82 : Suapi aku makan.
***
Pipi Red segera memerah dan dia mengalihkan pandangannya sesaat, ketika ia melihat mata Winter yang berbinar dia benar-benar tak bisa menahan gejolak yang terbakar dalam hatinya.
'Aku pasti sudah gila! kenapa di saat akan musim salju seperti ini rasanya sangat panas!'
Geram Red merasa sangat panas dan jantungnya sudah tak bisa ia kontrol lagi.
.
.
"Tuan Carl Davidson dan Nona Windy, kalian pasangan yang sangat cocok, sangat tampan dan sangat cantik ..."
"Kalian pasti akan memiliki keturunan yang hebat ... ha ha ha, bukankah begitu semuanya?"
Seru Pak kepala desa segera meminta pendapat dari warga yang lain sembarangan tertawa.
"Ha ha ha, iya benar sekali ..."
"Ah ... Pak kepala desa bisa saja, mereka masih muda biarkan mereka berpacaran dengan bebas dulu ... ha ha ha,"
Entah mengapa semua orang langsung tahu kehidupan pengantin baru, mereka bersemu dan memandangi Red dan Winter dengan wajah yang memerah.
'Astaga ... ini semua membuat aku malu, kenapa akhir-akhir ini aku menjadi sangat malu jika berkaitan dengan Winter?'
'Jika begini terus maka mungkin jantung ku akan meledak membayangkan jika aku dan Winter benar-benar menikah, tidak boleh dibiarkan!'
Red yang merasa dia butuh bantuan segera menatap ke arah anak buahnya dengan tatapan menggelar yang membuat semua anak buah terperanjat.
"Apa yang kalian lakukan? cepat lakukanlah sesuatu!"
Geram Red dengan membisik dan menekan ke arah anak buahnya.
"Ah iya Bos ..." seru salah satu anak buahnya Red dan beberapa dari mereka langsung membaur ke arah warga dan mengalihkan perhatian kepala desa yang terkesan cerewet itu.
"Ha ha ha, bagaimana dengan kami? apakah kalian tidak ingin tahu nama kami? padahal kami sudah menunggu giliran sejak tadi ..."
"Benarkan?"
Seru anak buah Red tengah melakukan tugas nya menyelematkan sang bos dari perhatian para warga.
"Oh iya, kalian semua perkenalkan diri kalian agar kami juga mengenali kalian dengan baik ..." seru Troy segera teralihkan dan benar-benar bahagia menerima anak-anak muda ini di desa nya.
Rasanya desa mereka seperti hidup dan ramai kembali.
.
.
Sedangkan Red, dia langsung menarik tangan Winter untuk dapat duduk bersamanya di mana banyak makanan di letakkan.
Ketus Red sembari duduk dan melihat makanan dengan sangat bersemangat.
Winter duduk di sisi Red, Winter sejak tadi terhibur dengan keramahan para warga desa dan bagaimana mereka semua memiliki lelucon sederhana yang menurut Winter sangat lucu baginya.
Berada di desa ini dan disekitar para warga desa seolah menyembuhkan rasa rindunya kepada ayahnya.
Apalagi Pak Troy kelihatan sangat ramah dan bersemangat dengan segala ucapan yang ia lontarkan, Winter masih melihat kearah para anak buah Red yang terlihat sangat menikmati perkenalan diri mereka.
Apalagi ibu-ibu dan nenek-nenek disana banyak memuji mereka tampan dan sehat, tentu saja mereka senang dipuji seperti itu.
"Bahagia sekali jika bisa tingkah di tempat sederhana seperti ini, mereka semua sangat ramah dan membuat hati tenang ..." seru Winter pelan tak sadar jika sejak tadi sudah ada mata elang yang memerhatikan dirinya sejak tadi.
*Red meraih dagu Winter dan mengarahkan nya ke hadapannya, sehingga wajah mereka berhadapan sekarang*
"Tidak memerhatikan aku tetapi memerhatikan mereka, apakah kau mau mati?" geram Red masih saja pipinya memerah.
Bagaimana tidak, melihat mata bulat dan polos Winter lagi lagi membuat darahnya berdesir dan jantungnya yang berdegup kencang itu tak bisa ia kontrol lagi.
Winter mengedipkan matanya berkali-kali untuk mengalihkan perhatiannya, karena baru saja ia sangat terkejut ketika Red tiba-tiba meraih dagunya.
"Ma ... maafkan aku Tuan, aku tidak akan melakukan nya lagi, aku hanya akan memerhatikan Tuan ..." balas Winter sungguh polos dan lagi lagi tanpa ia sadari sebenarnya tengah menggoda Red dengan sangat maksimal dengan jawaban itu.
"Deg ... Deg ... Deg!"
Mata Red melebar dan dia menelan salivanya karena dia sangat ingin melahap bibir Winter sekarang juga, namun masih ia tahan karena banyak orang di tempat ini.
"Kau bahkan menggoda ku di saat seperti ini, apakah kau sangat menginginkan aku sehingga kau mengatakan itu?!" geram Red segera melepaskan genggaman tangannya di dagu Winter.
Jika dia meneruskan menatap Winter maka mungkin dia akan menyeret Winter pulang dan menghabisinya.
Untuk sekarang Red hanya ingin mengisi perutnya dahulu.
"Ta ... tapi Tuan, aku tidak ..." belum sempat Winter melanjutkan ucapannya, Red langsung menghentikan Winter.
"Ssstttt ..."
"Jangan banyak alasan dan suapi aku, kita berperan sebagai pengantin baru di tempat ini, kau harus menunjukkan kemesraan bersama ku ... jadi suapi aku makan!" seru Red dengan wajah angkuhnya.
Dia bahkan mencari banyak alasan hanya untuk disuapi oleh Winter.
.
.
.
.
Author : Guys maaf ya untuk saat ini masih bisa update dikit, setidaknya aku update aja dulu ya ðŸ˜