Boss Mafia's Hot Girl

Boss Mafia's Hot Girl
Episode 47 : Kau tidak punya hak untuk menolak aku!



Episode 47 : Kau tidak punya hak untuk menolak aku!


***


"Tetapi sekarang benar-benar tidak bisa sekuat apapun aku mencoba, kita lihat nanti apakah aku akan bosan atau tidak!"


Geram Red tengah merasakan perasaan mulai sayang namun benci disaat yang bersamaan.


Sungguh hubungan yang aneh, namun Red benar-benar tak bisa melepaskan Winger untuk saat ini.


.


.


Winter yang mendengar ucapan yang begitu pedas tak mampu lagi membela dirinya, bagaimanapun pun Winter sadar apa yang telah dilakukan ayahnya di masa lalu Begitu mengerikan.


"Kenapa kau diam saja? katakan sesuatu?"


"Oh ... ataukah mulut mu menjadi bisu ketika tahu Ayah mu memang bersalah?"


Bisik Red lagi masih menekan Winter.


Entah apa yang tengah ia cari dari penghinaan demi penghinaan ini, tetapi dia sungguh tak bisa berhenti mengatakannya.


Walau semakin ia katakan maka semakin sakit hatinya.


Winter dengan wajah yang begitu lesu dan tak ada harapan, menatap Red lagi lalu tersenyum pilu.


"Aku tidak pandai berkata-kata Tuan, sebaliknya katakanlah apa yang harus aku lakukan untuk meredam amarah dalam dirimu ..."


"Aku akan melakukan segalanya, pada akhirnya aku juga telah setuju untuk menjadi boneka pemuas mu!"


Balas Winter dengan tatapan kosong dan senyuman yang menyedihkan.


Sungguh gadis lemah yang malang, hatinya terlalu lembut sehingga ketika tahu apa yang menimpa keluarga Red dari ayahnya, dia merasa bertanggung jawab untuk menebus kesalahan ayahnya itu.


Rasa sakit itu muncul semakin perih ketika Winter menunjukkan sisi terlemah dari dirinya lagi.


Sama seperti pertama kali, tak ada satu pun layangan tangan Red menyentuh Winter karena ia tak mampu melukainya.


Red menyeringai tajam, lalu dia mengusap bibir Winter yang dekat sekali dengan wajahnya.


Nafas keduanya sudah seperti bersatu karena terlalu dekat satu sama lain.


"Buka bajumu dan layani aku! buat aku lupa jika kau putri dari musuh ku!"


Bisik Red menyeringai mengerikan.


Ya, Red bisa mendengar semua percakapan antara Winter dan Ayahnya, cerita Wilson Benson membuat Red mengingat kisah paling tragis dan pilu itu.


Sekarang amarahnya tengah menggelora dan dia tak bisa ia tahan.


Mata Winter melebar ketika mendengar ucapan itu, membuka baju di depan lelaki dewasa sungguh lah tidak pernah terpikirkan oleh Winter sebelumnya.


Tetapi sekarang seluruh dunia nya sudah hancur dan tak akan pernah bisa sama lagi.


Dengan tangan bergetar dan mulut yang bergetar pula, Winter menganggukkan kepalanya.


"Ba ... baik Tuan, akan aku lakukan jika itu yang Tuan inginkan ..." balas Winter berdiri dari pangkuan Red.


Wajahnya menjadi pucat dan tangannya benar-benar bergetar hebat, dia membuka resleting bajunya dengan perlahan-lahan.


'Ya ... Winter, tutup saja mata mu, kau bukanlah seseorang yang memiliki hak untuk menolak, bukan seseorang yang memiliki hak untuk berpendapat!'


'Terima saja nasib mu sampai ajal benar-benar menjemput!'


Harapan Winter benar-benar sudah pupus, dia mengernyitkan matanya ketika terpejam dan tanpa berlama-lama pakaiannya sudah jatuh ke tumit kakinya.


"Haahh!"


Nafas Winter menjadi sesak, dia akhirnya membuka bajunya di hadapan lelaki mengerikan ini.


Tangan Winter mencoba menutupi tubuhnya Tetapi tentu saja tak bisa menutupi segalanya, karena tangannya begitu mungil.


Mata tajam Red menatap sembari menuangkan sampanye ke gelas sampanye yang tersedia di atas meja kerjanya.


Sejak tadi sebenarnya Red sudah meminum minuman beralkohol itu karena tidak tahan dengan cerita Wilson Benson yang membuatnya mengingat tentang keluarganya lagi.


Lalu ketika Winter membuka bajunya di hadapannya, Red meminum sampanye itu lagi.


Ia meneguk satu teguk sembari menatap tubuh Winter dari atas hingga ke bawah.


Seru Red memberikannya penilaian nya terhadap tubuh Winter yang sudah membuka pakaiannya di hadapannya.


Red kemudian menambahkan komentar nya lagi, sembari berpangku tangan.


"Aku mengatakan untuk membuka seluruh pakaian mu, kenapa kau tidak membuka pakaian dalam mu juga?"


"Bukalah dengan suka rela dan datang kemari!" perintah Red lagi sepertinya tengah mabuk.


Rasanya jantung Winter berhenti berdetak sejenak, dia menatap nanar ke arah Red yang seolah dengan santai memintanya untuk membuka pakaian dalam nya juga.


"Glek!"


Winter menelan salivanya dengan kasar, dia tidak menduga jika membuka seluruh pakaian tanpa sehelai benangpun di hadapan seorang pria akan membuatnya begini tersiksa.


"Ba ... baik Tuan ..." seru Winter dengan tangan yang tak bisa ia sembunyikan sudah bergetar hebat.


Dengan gerakan yang sangat lambat, Winter membuka pakaian dalamnya dari bagian atas, ketika itu Winter tiba-tiba saja membungkuk agar buah dadanya tidak terlalu kelihatan.


"Apakah kau mau membuat ku menunggu seharian?"


"Cepat buka dan datang kemari!"


Seru Red lagi tak sabaran.


Red ingin Winter segera membuka seluruh pakaiannya yang tersisa dan duduk di pangkuannya lagi.


"Ba ... baik Tuan," lagi dan lagi Winter tak bisa menolak.


Dengan nafas yang berat dan rasa malu yang ia singkirkan, Winter akhirnya sudah tak mengenakan apapun lagi di hadapan Red.


Lalu setelah itu tanpa menunggu kemarahan Red yang selanjutnya, Winter dengan pasrah datang ke hadapan Red lagi dimana saat itu Red menarik tangan Winter lagi.


"Ah!"


Winter berteriak kecil setelah itu, dia menemukan jika sekarang Red sudah melahap bibirnya dengan sangat buas ketika Red berhasil menariknya dan mendekapnya erat sekali.


"Hmmpp ..." Winter tak bisa bernafas lalu mencoba mendorong Red yang mendekapnya terlalu kuat.


Ketika itu Winter baru saja sadar jika sepertinya Red tengah mabuk.


"Tu ... Tuan, aku ..." Winter mencoba mengatakan untuk melonggarkan ciumannya sejenak karena dia kesulitan bernafas.


Akan tetapi Red malah semakin menekannya lalu berbisik dekat sekali di telinganya.


"Punya hak apa kau berkomentar ha? punya hak apa kau mendorong ku menjauh! mulai hari ini sampai kau menjadi debu pun kau sudah menjadi milikku!"


"Kau harus menurut dan tak menolak ku!"


"Apa kau mengerti?" geram Red dengan nafasnya yang panas dan suaranya yang menekan.


Winter yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya saja, dia tak berani lagi membuka suaranya.


Dia hanya akan berbicara jika Red meminta nya berbicara.


Dia akan sesungguhnya menjadi alat pemuas Red demi meredam kemarahan yang menggelora dalam diri Red.


Red menyeringai tajam ketika mendapat anggukan persetujuan dari Winter.


Lalu ia mengangkat tubuh Winter sampai berbaring di atas meja kerjanya.


.


.


.


.


Author : Aloo pembaca setia sayang 😍


crazy up hari ini sudah update ya, jumlah kata per bab nya sudah aku perbanyak 😍


Jangan lupa berikan like, komentar dan jika berkenan gift hehe ✌️❤️


Ditunggu satu episode lagi yaa 🌹


Timakaci semuanya, lope you sekebon jeruk yaa 😘